Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Kedokteran & Kesehatan>Nutrition>Kekurangan Energi Protein Pada Balita

Kekurangan Energi Protein Pada Balita

oleh: infotech25    
ª
 
Pengertian
KEP adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG).

2.1. Klasifikasi KEP
Untuk tingkat Puskesmas penentuan KEP yang dilakukan dengan menimbang berat badan anak dibandingkan dengan umur dan menggunakan KMS dan tabel BB / U Baku Median WHO-NCHS.
- KEP ringan, bila hasil penimbangan BB pada KMS terletak pada pita warna kuning.
- KEP sedang, bila hasil penimbangan BB pada KMS terletak di bawah garis merah (BGM).
- KEP berat/ gizi buruk, bila hasil penimbangan BB/U < 60%, baku median WHO-NCHS pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat/ gizi buruk dan KEP sedang, sehingga untuk menentukan KEP berat / gizi digunakan Tabel BB / U Baku Median WHO-NCHS.

Patofisiologi
Protein merupakan zat pembangun. Kekurangan protein, dapat mengganggu sintesisi protein tubuh dengan akibat :
- Gangguan pertumbuhan
- Atropi otot.
- Penurunan kadar albumin serum: sembab (odem dan asciotes).
- Hb turun: anemia.
- Jumlah / aktivitas fagosit turun: daya tahan terhadap infeksi turun.
- Sintesis enzim turun : gangguan pencernaan dan metabolisme.

Hidrat arang dan lemak merupakan zat tenaga. Kekurangan hidrat arang dan lemak akan meningkatkan katabolisme sehingga terjadi pengecilan jaringan otot (muscle wasting) dan jaringan lemak. Selain itu protein diit dipecah untuk memenuhi kebutuhan energi.

Penyebab Timbulnya Kurang Gizi
Pertama, penyebab langsung yaitu makanan anak yang tidak seimbang dan adanya penyakit infeksi yang diderita anak. Timbulnya gizi kurang tidak hanya karena makanan yang kurang, tetapi juga karena penyakit. Anak yang cukup mendapat makanan tetapi sering diserang penyakit diare atau demam, akhirnya dapat menderita kurang gizi. Demikian juga pada anak yang tidak cukup mendapatkan makanan maka daya tahannya akan melemah, sehingga mudah diserang infeksi yang akan mengurangi nafsu makan sehingga pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Keduanya secara bersama-sama menjadi penyebab langsung kurang gizi.

Kedua, penyebab tidak langsung yaitu tidak cukupnya ketahanan pangan di keluarga, tidak memadainya pola pengasuhan anak dan tidak memadainya sanitasi, air bersih, serta pelayanan kesehatan dasar. Ketahanan pangan di keluarga adalah kemamuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya baik menyangkut jumlah maupun mutu gizinya. Pola pengasuhan anak adalah kemampuan keluarga dan masyarakat untuk menyediakan waktu, perhatian dan dukungan, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik secara fisik, mental maupun sosial sanitasi, penyediaan air bersih dan pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh setiap keluarga. Ketiga faktor penyebab tidak langsung ini selanjutnya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan.

Gejala Klinis Balita KEP Berat/Gizi Buruk
Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus. Gejala klinis KEP berat / gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus, kwashiorkor atau maramic-kwashiorkor. Tanpa mengukur/ melihat BB bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat / gizi buruk tipe kwashiorkor.

1. Kwashiokor
- Edema, umumhya seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki (dorsum pedis).
- Wajah, membulat dan sembab.
- Pandangan mata sayu.
- Rambut tipis, kemerahan, seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok.
- Perubahan status mental, apatis dan rewel.
- Pembesaran hati.
- Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk.
- Kelamin kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas (crozy pavement dermatosis).
- Sering disertai : - penyakit infeksi, umumnya akut.
- Anemia
- Diare

2. Marasmus
- Tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit.
- Wajah seperti orang tua
- Cengeng, rewel.
- Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sedikit sampai tidak ada (baggy pant / pakai celana longgar).
- Perut cekung
- Iga gambang
- Sering disertai : - Penyakit infeksi (umumnya kronis berulang).
- Diare kronik atau konstipasi / susah buang air.

3. Maramic-Kwashiorkor
- Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus, dengan BB/ U < 60 % baku median WHO – NCHS disertai edema yang tidak mencolok.

Diagnosis
Diagnosis DPE dibuat berdasarkan :
1. Anamnesa
a. Susunan diit sejak lahir
b. Faktor-faktor penyebab medik dan non medik
2. Pemeriksaan Fisis
a. Gejala klinis DPE dan defisiensi vitamin A
b. Penyakit penyebab atau penyerta.
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah, air kemih, tinja, kadar protein serum total, rasio albumin globulin.
b. Kadang-kadang diperlukan pemeriksaan :
- Uji faal hati
- Kadar glukosa darah
- Erlektrolit serum
- Biakan darah / air kemih
- EKG, konsultasi radiologi
- X-foto paru, uji tuberkulin.
- Konsultasi THT, adanya otitis media.
Diterbitkan di: 05 Oktober, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa faktor penyebab KEP pada balita / Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mau tanya dunk boleh ya..... 1. apakah akibat kekurangan energi protein pada balita? 2. bagaimana cara melengkapi energi protein pada balita? Lihat semua
Komentar Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.