Orang yang menunda-nunda pekerjaan ini sebenarnya
telah merusak dirinya sendiri.
Mereka menempatkan hambatan pada jalah
hidupnya. Mereka juga memilih pola yang justru merusak kemampuan mereka
sendiri. Menurut dua ahli prokrastinasi, Joseph Ferrari, Ph.D.,
profesor psikologi dari De Paul University di Chicago, dan Timorthy
Pychyl, Ph.D., professor psikologi dari Carleton University Ottawa,
banyak penyebab yang membuat orang terjerat kebiasaan buruk ini.
Untuk mengetahuinya, ada 10 informasi penting yang perlu diketahui
tentang prokrastinasi.
1. Sifat
prokrastinasi terbentuk dari
lingkungan dan bukan akibat faktor keturunan. Kebiasaan ini
tumbuh
tidak secara langsung dalam keluarga dan merupakan respon terhadap
gaya otoriter yang diterapkan orang
tua. Kekejaman serta dominasi sang ayah dapat menghambat perkembangan
anak untuk dapat mengatur dirinya sendiri, menginternalisasi perhatiannya
sendiri dan kemudian belajar untuk bertindak terhadap mereka. Prokrastinasi
bahkan bisa menjadi salah satu bentuk pembebasan.
2. Sekitar 20 persen masyarakat
mengidentifikasikan dirinya sebagai
pengidap kronis prokrastinasi. Bagi
mereka, prokrastinasi adalah gaya
hidup meskipun bukan berarti kegagalan dalam beradaptasi. Mereka tidak
membayar tagihan tepat waktu, kehilangan kesempatan membeli tiket konser,
atau terlambat mengirimkan surat
keterangan pajak.
3. Prokrastinasi bukanlah hal sepele,
meskipun sebagai budaya kita tidak menganggap hal ini sebagai masalah.
Kebiasaan ini merupakan wujud dari problem serius dari pengendalian diri.
4. Prokrastinasi bukanlah masalah dalam
manajemen waktu atau perencanaan. Para pengidap
prokrastinasi tidaklah berbeda dalam hal kemampuan memperhitungkan waktu,
meskipun mereka
lebih optimistis ketimbang yang lain. ¨Menyuruh seseorang
yang sering menunda-nunda untuk membeli agenda mingguan seperti halnya
menyarankan penderita depresi kronis untuk tetap tersenyum,¨ ujar Dr. Ferrari.
5. Pengidap prokrastinasi secara aktif
mencari-cari kekacauan atau kebingungan, khususnya seseorang yang tidak
memiliki komitmen serius.
6. Prokrastinasi dapat memprediksikan
tingginya konsumsi alkohol di antara mereka yang minum minuman
keras. Para pengidap prokrastinasi cenderung
minum lebih banyak dari yang diinginkan sebagai manifestasi generalisasi
masalah dalam pengendalian diri.
7. Para pengidap
prokrastinasi kerap membohongi dirinya sendiri, seperti misalnya mengatakan
¨Saya merasa lebih suka melakukanya esok hari¨ atau ¨Saya biasa bekerja dalam tekanan¨.
Namun faktanya, mereka tidak bergegas keesokan harinya untuk bekerja atau
melakukan yang terbaik di saat berada dalam tekanan. Selain itu, mereka
melindungi perasaan dirinya dengan mengatakan ¨Ini tidaklah
penting¨. Kebohongan besar yang biasa dilakukan prokastinator adalah
bahwa tekanan waktu akan membuat mereka menjadi lebih kreatif. Buktinya,
mereka tidak berubah untuk menjadi lebih kreatif, mereka hanya merasanya.
Mereka justru memboroskan modal mereka sendiri.
Abstrak lain tentang Sekilas Tentang Prokrastinasi