Air Liur Dapat Gantikan Darah di Uji Diagnostik
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
67
kata:
600
Diterbitkan di: April 05, 2008
Para periset di Amerika Serikat telah
mengindentifikasi 1.116 protein unik pada kelenjar saliva atau air liur manusia
yang dapat mengarah ke uji diagnostik kedokteran yang lebih nyaman dengan air
liur ketimbang menggunakan darah. Sebanyak 20 persen kandungan protein yang
ditemukan pada saliva juga ditemukan pada darah, kata Fred Hagen, seorang ahli
riset di Universitas Rochester Medical Center, New
York. "Kandungan tersebut berpotensi untuk
dijadikan sebagai pijakan besar yang banyak berimplikasi klinis dalam hal
diagnostik penyakit," kata Hagen
yang studinya tersebut dimuat di dalam Jurnal Proteome Research. Para
ahli riset berharap uji berdasarkan air liur ini dapat digunakan untuk
mendiagnosa kanker, penyakit jantung, diabetes, dan sejumlah penyakit lainnya.
"Untuk mampu mendiagnosa penyakit dengan menggunakan air liur, anda harus
memahami secara menyeluruh proteome air liur," kata Hagen.
Bagaikan genom, yang mencatat seluruh gen pada sebuah organisme, proteome
merupakan gambaran lengkap dari berbagai protein. Apabila gen menyediakan
instruksi manual, protein melaksanakan instruksi dengan mengatur proses
seluler.Para periset dari 5 universitas - University
of Rochester, The Scripps Research
Institute, the University of Southern
California, The University of California San
Francisco and the University of California
Los Angeles -- berupaya menentukan kandungan
protein lengkap yang terdapat pada kelenjar air liur pada umumnya.
Darah, Air Liur dan Air Mata
Para periset tersebut
mengumpulkan air liur dari 23 pria dan wanita sehat dari berbagai ras. Periset
menggunakan sampel air liur dengan menggunakan spectrometry massa
yang menentukan identitas protein berdasarkan ukuran massa
dan charge (berat kosong).
Periset membandingkan penemuan mereka tersebut dengan pemetaan protein dari
darah dan air mata manusia yang ditemukan belakangan. Hasil analisa awal
menunjukkan terdapat sejumlah protein yang dikenal berperan dalam Alzheimer,
Huntington, Parkinson, kanker payudara, kanker pankreas, kanker colorectal
(kanker yang berkembang pada colon atau usus besar dan rectum atau anus), serta
diabetes. Hegen menjelaskan pemetaan tersebut seharusnya mempercepat
pengembangan media baru untuk melacak penyakit di seluruh tubuh. Menurut Hagen,
telah terdapat uji anti body yang berpijak pada air liur untuk mendeteksi virus
HIV serta infeksi hepatitis. Hagen
menerangkan protein tersebut akan bertugas dalam menginformasikan target
deteksi penyakit baru. "Memonitor penyakit serta penggunaan obat dapat
dilakukan secara lebih mudah dengan air liur ketimbang dengan darah atau
urin," kata Hagen. "Kami
membayangkan petunjuk keberadaan penyakit seperti kanker dapat dideteksi hanya
dengan melihat indikator air liur. Hal ini akan jauh lebih mudah dilakukan
terutama di rumah," jelasnya. Hagen
berharap identifikasi penyakit dengan air liur ini nantinya dapat menggantikan
fungsi tes diagnostik pada mammograms yang tidak nyaman dan menelan biaya
besar.