Susah BAB, Awas Kanker Usus
Summary rating: 2 stars
2 Tinjauan
Kunjungan:
137
kata:
600
Diterbitkan di: Maret 12, 2008
Bila Anda sering susah buang air
besar, sering sakit perut atau sembelit sebaiknya waspada. Bisa jadi
gangguan yang Anda alami merupakan salah satu bentuk gejala kanker usus besar
atau kanker kolorektal. Seperti diungkap Dr Adil Pasaribu, Sp.B.KBD, dokter
spesialis bedah kanker dari RS Dharmais Jakarta, sebagian orang saat ini
mengabaikan gejala sakit perut, susah buang besar dan perubahan siklus buang
air besar. Padahal, gejala-gejala itu merupakan bagian dari pertanda adanya
penyakit kanker kolorektal. ¨Kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa kanker
dapat dipicu oleh gejala-gejala yang dianggap remeh seperti cara diet yang
salah yang menyebabkan kebiasaan buang air besar dan sembelit, ungkap Dr. Adil
di Jakarta, Kamis (28/2). Menurut Aidil, perubahan siklus buang air besar
memang merupakan gejala yang patut diwaspadai dalam mengantisipasi kanker
kolorektal. Perubahan yang tidak wajar atau siklusnya melebihi waktu transit
harus dicurigai sebagai gejala.
¨Normalnya, waktu transit yang dibutuhkan makanan dari sejak masuk
hingga dikeluarkan lagi melalui anus tidak melebihi 48 hingga 72
jam. Jika waktunya melebihi angka tersebut, sebaiknya harus berhati-hati.
Selain perubahan siklus buang air besr, tanda lainnya yang bisa dideteksi
sebagai gejala kanker usus besar adalah ditemukannya darah pada kotoran saat
buang air besar. Tanda lainnya adalah penurunan berat badan tanpa sebab yang
jelas, rasa sakit di perut atau bagian belakang, perut masih terasa penuh
meskipun sudah buang air besar dan tidak ada rasa puas dan kadang-kadang dapat
diraba adanya massa atau tonjolan
pada perut.
Prevalensi meningkat
Kanker kolorektal sendiri merupakan salah satu
jenis kanker yang jumlah kasus atau tingkat prevalensinya cukup tinggi. Di
Indonesia sejauh ini memang belum ada data akurat mengenai jumlah kasus secara
rinci. "Tetapi di seluruh dunia, berdasarkan laporan terakhir, kanker
kolorektal menempati urutan kedua dari daftar peenyakit kanker yang paling
banyak diderita," ujarnya.Meski belum ada data akurat, kata Adil, kasus
kanker kolorektal di Indonesia
cenderung mengalami peningkatan seiring dengan berubahnya gaya
hidup masyarakat. Indikasi peningkatan itu misalnya dapat tercermin dari sebuah
riset seorang peneliti di Semarang
yang menemuan adanya kenaikan angka kejadian dari tahun 1970 hingga
1980."Kalau sebelumnya angka kejadian per 1000 itu rata-rata pada
perempuan 2,4 dan pada pria 2,2, ternyata kemudian ada peningkatan menjadi 3,1
hingga 3,2. Jika di tanah air ada peningkatan kasus, sebaliknya di negara
maju angka kejadian kanker kolorektal justru menurun," terang Adil.
Di rumah sakit kanker Dharmais Jakarta sendiri, lanjut Adil, kanker kolorektal
masuk dalam empat besar dari 10 jenis kanker yang paling banyak dialami para pasien.
Kanker kolorektal banyak menyerang di usia 55-64 tahun. Namun saat ini cukup
banyak juga usia 35-44 tahun yang telah menderita kanker usus besar dan rektum.
Rata-rata mereka yang berobat menjadi sulit diobati karena sudah dalam stadium
lanjut. "Oleh sebab itulah, penting artinya untuk mengetahui
gejalanya dari awal dan menjaga kesehatan termasuk menghindari gaya
hidup yang dapat memicu risiko terjadinya kanker ini seperti pola makan tak
sehat, stres, merokok dan alkohol," jelasnya.