Minum Kopi Dalam Jumlah Sedang Tak Tingkatkan Resiko Keguguran
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
32
kata:
300
Diterbitkan di: Februari 06, 2008
Minum kopi dalam jumlah sedang selama kehamilan
tak meningkatkan kemungkinan seorang perempuan keguguran, demikian hasil jajak
pendapat baru. "Berdasarkan apa yang telah kami saksikan, itu bukan alasan
bagi keprihatinan besar," kata Dr. David A. Savitz dari Mount Sinai School
of Medicine di Kota New York,
penulis pertama studi tersebut. Ia menyatakan penelitian pada masa lalu telah
memberikan hasil "yang sama meyakinkan kembali". Tetapi karena perempuan
dalam studi itu mengkonsumsi jumlah kafein yang relatif sedikit --sama dengan
kurang dari dua gelas kopi per hai pada awal kehamilan dan makin sedikitnya
setelahnya-- studi tersebut tak dapat menjawab pertanyaan apakah mengkonsumsi
lebih banyak dapat berbahaya, katanya.
Studi Savitz unik karena sebagian perempuan
melaporkan konsumsi kafein mereka sebelum kehamilan, sementara yang lain
melaporkan mengkonsumsinya dalam waktu 8 hingga 12 pekan pertama, katanya. "Ada
keuntungan dalam menanyakan sangat dini, ketika orang dapat mengingat lebih
tepat," katanya. Ia dan timnya menelusuri 2.407 perempuan hamil, 258 di
antara mereka keguguran. Semua perempuan itu melaporkan konsumsi kafein mereka
sebelum mereka hamil; 4 pekan setelah masa menstruasi terakhir mereka; dan saat
wawancara berlangsung.
Sebagian besar perempuan dalam studi tersebut
yang minum kopi atau minuman lain yang mengandung kafein mengkonsumsi sebanyak
350 miligram kafein per hari sebelum mereka hamil dan pada masa awal kehamilan,
setara dengan 1,7-7 cangkir kopi sangrai per hari. Pada saat wawancara,
konsumsi rata-rata kafein mereka telah turun jadi 200 miligram. Pada
masing-masing tiga tahap waktu yang dinilai, tak ada hubungan penting statistik
antara jumlah kafein yang dikonsumsi seorang perempuan dan resiko keguguran
mereka. "Data itu memberi bukti untuk menyatakan bahwa, dalam rentang
lebih rendah yang dikaji, konsumsi kafein tak berhubungan dengan resiko
keguguran," demikian kesimpulan Savitz dan rekannya.