Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Emulsifikasi

oleh: zhafiraaulia    
ª
 
Emulsi adalah suatu campuran yang tidak stabil secara termodinamis, dari dua cairan yang pada dasarnya tidak saling bercampur (Lachman, et all, 1994).

Berdasarkan fase terdispersinya, dikenal dua jenis emulsi yaitu:
1. Emulsi tipe (o/w) : emulsi minyak dalam air, yaitu bila fase minyak didispersikan sebagai bulatan-bulatan ke seluruh fase kontinu air. Emulsi obat untuk pemberian oral biasanya bertipe o/w dan membutuhkan zat pengemulsi (emulgator) o/w. Contoh: zat-zat yang bersifat nonionic, akasia (gom), tragacanth, dan gelatin.
2. Emulsi tipe (w/o) : emulsi air dalam minyak, yaitu bila fase minyak bertindak swbagai fase kontinu. Emulsi farmasi w/o digunakan hamper untuk semua penggunaan luar. Emulgator yang digunakan: sabun-sabun polivalen (kalsium palmitat), span, kolesterol, tween.
Jenis emulsi o/w dan w/o adalah system emulsi sederhana. Sistem emulsi ganda/kompleks akan diperoleh jika didalam bola-bola emulsi yang terbentuk masih terdapat lagi globul-globul dari fase lainnya. Sistem semacam ini dinyatakan sebagai emulsi w/o/w atau emulsi o/w/o.
Komponen-komponen yang terdistribusi di dalam sebuah emulsi, dinyatakan sebagai fase terdispersi atau fase terbuka. Komponen-komponen yang mengandung cairan disperse dinyatakan sebagai bahan pendispersi atau fase luar atau tertutup.
Umumnya untuk membuat suatu emulsi yang stabil, perlu fase ketiga atau bagian ketiga dari emulsi, yaitu zat pengemulsi (emulsifying agent). Stabilitas emulsi adalah sifat emulsi untuk mempertahankan distribusi halus dan teratur dari fase terdispersi yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Kehancuran suatu emulsi ditunjukkan oleh penurunan stabilitasnya dan merupakan proses bertahap banyak.
Pada tahap pertama, terjadi pengapungan (bobot jenis fase terdispersi lebih kecil dari bobot jenis pendispersi) atau sedimentasi (bobot jenis fase terdispersi lebih besar daripada bobot jenis pendispersi). Peristiwa ini mengakibatkan pemisahan dari kedua fase emulsi yang terbentuk dua lapisan emulsi yang satu terletak diatas yang lain. Pada pengapungan atau sedimentasi, jumlah bola kecil dan ukurannya tetap, yang terjadi hanyalah penggabungan atau flokulasi reversible.
Pada tahap kedua, terjadi penyatuan bola-bola kecil yang tidak reversible yang dinamakan koaselen, yang dapat menyebabkan pecahnya emulsi.
Tahap yang menentukan kecepatan hancurnya emulsi adalah bebasnya emulgator dari lapisan tipis batas antar muka. Oleh karena itu kekompakan dan elasitas lapisan tipis ini merupakan faktor yang menentukan terhadap stabilitas emulsi. Demikian pula dengan konsentrasi dan struktur emulgator merupakan faktor yang sangat penting. Artinya konsentrasi emulgator yang melewati KMK pada umumnya menyebabkan turunnya stabilitas emulsi.

Ada tiga teori yang menerangkan mengenai sistem emulsi, antara lain:
1. Teori Tegangan Permukaan
Bila cairan kontak dengan cairan kedua yang tidak larut dan tidak saling bercampur, kekuatan (tenaga) yang menyebabkan masing-masing cairan menahan pecahnya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil disebut tegangan permukaan. Zat-zat yang dapat menurunkan tegangan permukaan disebut zat aktif permukaan (surfaktan) atau zat pembasah. Dengan menurunnya tegangan permukaan, gaya tarik-menarik antar molekul dari masing-masing cairan akan berkurang dan kedua cairan dapat saling becampur.
2. Oriented-Wedge Theory
Lapisan monomolekuler dari zat pengemulsi melingkari suatu tetesan dari fase dalam pada emulsi. Zat pengemulsi akan memilih larut dalam salah satu fase yang merupakan gambaran kelarutannya pada cairan tertentu dan terikat kuat kemudian terbenam di dalam fase tersebut dibandingkan fase lainnya.
3. Teori Plastic atau Teori Lapisan Antarmuka
Menempatkan zat pengemulsi pada antarmuka antar minyak dan air, mengelilingi tetesan fase dalam sebagai suatu lapisan tipis atau film yang diabsorpsi pada permukaan dari tetesan tersebut. Lapisan tersebut mencegah kontak dan bersatunya fase terdispersi. Makin kuat dan makin lunak lapisan tersebut, makin besar dan stabil emulsinya.

Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang banyak digunakan dalam pembuatan emulsi adalah surfaktan. Mekanisme kerja emulgator yaitu menurunkan tegangan antarmuka air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fase terdispersi.
Secara kimia, molekul surfaktan terdiri dari gugus polar dan nonpolar. Apabila surfaktan dimasukkan kedalam sistem yang terdiri dari air dan minyak, maka gugus polar akan terarah ke fase air sedangkan gugus nonpolar akan mengarah ke fase minyak. Surfaktan yang mempunyai gugus polar yang lebih kuat akan cenderung membentuk emulsi air dalam minyak.
Metode yang dapat digunakan untuk menilai efisiensi surfaktan atau emulgator yang ditambahkan adalah metode HLB (Hydrophylic Lypophilic Balance). HLB adalah harga yang harus dimiliki oleh emulgator (atau campuran emulgator) sehingga pertemuan antara fase lipofil dengan air dapat menghasilkan emulsi dengan tingkat dispersitas atau stabilitas yang optimal. Dengan metode ini, tiap zat mempunyai harga HLB atau angka yang menunjukkan polaritas dari zat tersebut. Tipe aktivitas/ tipe sistem yang diharapkan dari surfaktan dengan HLB yang ditetapkan adalah sebagai berikut:

Aktivitas dan Harga HLB Surfaktan
Aktivitas
Emulsifyer (w/o)
Wetting Agent (Zay Pembasah)
Emulsifyer (o/w)
Detergents (Zat Pembersih)
Solubilizers (Zat Penambah Kelarutan)
Harga HLB
4 – 6
7 – 9
8 – 18
13 – 15
10 – 18

DAFTAR PUSTAKA

Alfred M, dkk, Farmasi Fisik 2, Edisi III, penerjemah Joshita, UI Press, 1993

Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat – Teori dan Praktek, Gadjah Mada University Press. Hal 142-143
Joshita D, Buku petunjuk Praktikum Farmasi Fisika, Jurusan farmasi, FMIPA UI Depok.2002
Lachman, Leon. Teori dan Praktek Farmasi Industri, edisi III, UI Press, Depok.1994

Diterbitkan di: 13 Nopember, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bgaimn pnjlsan ttg teori gaya tolak listrik ny ?????? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagaimana mekanisme emulsi pada pembuatan sosis,dgn ingredien daging,minyak sawit, tepung2 dan bumbu Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    pembahan mengenai surfaktan nonionik Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.