Biasanya perempuan tua lebih sering mengeluh tentang waktu tidurnya yang lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki, tapi
peneliti justru menemukan bahwa sebenarnya perempuan tidur lebih banyak dibandingkan laki-laki.
Sementara itu, laki-laki yang lebih tua mengatakan bahwa tidurnya lebih tenang daripada yang sebenarnya. Peneliti melihat bahwa perbedaan jenis kelamin mempunyai hasil yang beragam mengenai waktu tidur seseorang.
"Perempuan dari segala usia lebih mungkin untuk mengatakan bahwa dirinya mengalami insomnia dan masalah tidur lainnya dibandingkan dengan laki-laki," ujar Dr Henning Tiemeier dari Erasmus Medical Centre di Rotterdam, Belanda, seperti dikutip dari Health24..
Pada penelitian ini melibatkan 956 laki-laki dan perempuan yang berusia antara 59 tahun sampai 97 tahun. Selama 6 malam berturut-turut, partisipan menggunakan buku harian untuk memperkirakan berapa lama waktu tidurnya serta berapa banyak waktu yang dibutuhkan sampai partisipan tersebut tertidur.
Pada saat yang bersamaan, partisipan menggunakan alat yang disebut actigraph pada pergelangan tangannya untuk mengetahui kapan partisipan beristirahat dengan tenang dan kapan mereka melakukan aktivitas seperti bergerak disekitarnya. Laki-laki mengatakan rata-rata waktu tidurnya 7 jam setiap malam dan waktu yang dibutuhkan hingga tertidur sekitar 20 menit, sedangkan perempuan mengatakan rata-rata waktu tidurnya 6 jam 45 menit dan waktu hingga tertidur selama 30 menit.
Tapi berdasarkan hasil dari alat actigraph yang digunakannya, laki-laki tidur kurang dari 6 setengah jam sementara perempuan tidur lebih lama daripada itu. Hal ini karena laki-laki lebih sering terbangun pada malam hari.
Tiemeier menambahkan untuk orang yang sudah tua, biasanya cenderung memiliki waktu tidur yang lebih sedikit, tapi tidak berarti semuanya mengalami insomnia. Ada juga banyak orang yang dapat tidur dengan baik dan itu bukanlah suatu hal yang dramatik.
Kadang yang menjadi masalah adalah banyak orangtua yang pergi tidur lebih awal dan tidur saat siang hari, sehingga waktu tidur malamnya menjadi lebih sedikit. Tiemeier menyarankan sebaiknya orangtua harus menyadari bahwa memang sudah kodratnya untuk tidur lebih sedikit dan jangan terlalu cepat masuk ke kamar tidur agar tidak terbangun sebelum pagi hari.