Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Penyakit Hipertermia

oleh: yangdaiwei    
ª
 
Penyakit hipertermia digolongkan dalam 3 kategori: heat cramps, heat exhaustion, dan heat stroke.

B. Heat cramps merupakan spasme dari otot-otot volunter akibat dari kekurangan elektrolit.
1. Kedua-duanya garam dan air hilang melalui keringat. Pasien dengan heat cramps biasanya mengganti air yang hilang dengan minum, tetapi tidak mengganti garam yang hilang.
2. Pengobatan.
a. Letakkan pasien pada tempat yang sejuk.
b. Berikan cairan pengganti NaCL per oral dengan minuman yang mengandung kadar garam tinggi atau secara IV dengan larutan garam faal.

C. Heat exhaustion merupakan kehilangan garam dan air; dengan salah satu kehilangannya lebih dominan.
1. Gejala-gejala meliputi sakit kepala, nausea, pusing, dan gangguan penglihatan.
2. Pasien dapat mengalami demam sampai 102°F tetapi berkeringat.
3. Gunakan hasil laboratorium sebagai penuntun terapi pengganti garam dengan cairan isotonik, atau air dengan cairan hipotonik.
4. Dinginkan pasien sesuai dengan keperluan, dengan cara pemajanan, pemberian kipas angin, dan metode lainnya.

D. Heat stroke merupakan hipertermia yang hebat (di atas 41 °C atau 106°F) dengan kehilangan kemampuan regulasi panas.
1. Gejala-gejala meliputi keadaan bingung, koma, dan serangan kejang.
2. Kelelahan dari fungsi regulasi hipotalamik dan/atau kelenjar keringat yang menimbulkan kehilangan kemampuan pengeluaran panas, karena si pasien tidak berkeringat. Oleh karena itu kulitnya hangat dan kering.
3. Kehilangan cairan dan garam biasanya tidak berat.
4. Komplikasi dapat meliputi kerusakan hipertermik dari otak, hepar, ginjal, jantung, dan jaringan lainnya.
5. Pengobatannya adalah dengan menurunkan suhu badan secepatnya.
a. Kantung es harus diletakkan pada kulit, terutama aksila, inguinal, dan kulit kepala. Kulit diperciki dengan air dingin dan kemudian dievaporasi dengan kipas angin. Suatu selimut pendingin dapat digunakan.
b. Enema cairan dingin, bilas lambung dan dialisis peritoneal, semua sudah dicoba, tetapi mungkin efektivitasnya terbatas.
c. Merendam di dalam bak air dingin secara umum kurang praktis dan perlu penanganan dan pemantauan yang tepat.
d. Pijat dapat meningkatkan vasodilatasi dan pertukaran panas.
e. Menggigil harus dihindari karena akan meningkatkan suhu badan. Klorpromazin dapat digunakan untuk mengontrol menggigil (50 mg IV) tetapi dapat menyebabkan hipotensi.
f. Komplikasi dapat berlanjut, meliputi rabdomiolisis dan mioglobinuria atau koagulasi intravaskular diseminata.
g. Hentikan tindakan pendinginan aktif bila temperatur pusat sudah turun sampai 101°-102°F.
Diterbitkan di: 18 Mei, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.