Menjadi Dokter Bagi Diri Sendiri
Ada beberapa pertanyaan yang perlu direnungkan secara bijak. Ditengah kecanggihan
teknologi kedokteran dalam mendiagnosa
penyakit dan diantara bergelimpangnya rumah sakit serta doketr-dokter spesialis yang hebat. Mengapa pada zaman yang modern ini orang sehat menjadi mahluk langka di muka bumi? Mengapa di zaman batu diera nenek moyang kita dulu mereka justru lebih sehat dan lebih bugar dibandingkan
manusia zaman sekarang?
Jawabanya cukup sederhana, manusia yang hidup di zaman sekarang ini terjebak pada modernitas itu sendiri. Masyarakat modern menggap makna sehat identik dengan makan obat dan dokter. Sekecil apapun keluhan dari tubuh , obat dari dokter yang melalui industrilisasi dan proses kimia menjadi pentolan terdepan. Padahal kebergantungan dengan obat ini membuat sistem imune sebagai pertahanan tubuh menjadi mandul. Berbeda dengan nenek moyak kita dulu yang hidupnya lebih selaras, seimbang dan serasi dengan alam. Kepekaan dan kemandirian dalam memahami problem tubuh terlatih dengan baik. Sehingga jangan heran jika orang-orang terdahulu memiliki sistem kekebalan yang hebat.
Satu hal yang perlu diperhatikan berobat memang diperlukan untuk membantu ketidakmampuan tubuh dalam menghadapi penyakit. Akan tetapi obat hanya sebagai pemeran pembantu, bukan pemeran utama dalam perbaikan tubuh. Justru tubuh itu sendiri dan nutrisi makananlah yang memiliki peranan inti. Sebagai the father of medice, hipocrates mengatakan, jadikanlah makanan utamamu sebagai obat utama. Pada zaman hipocrates, dampak makanan terhadap penyakit dan perlunya makanan seimbang menjadi penting dalam mengobati permasalahan tubuh. Namun di zaman ini mata rantai seperti itu mulai terlupakan. Dunia kedokteran modern lebih memprioritaskan pendekatan obat dan penyakit dari pada pendekatan perbaikan pola hidup dan pola makan.