Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Kedokteran & Kesehatan>Genetika>Trauma Seksual Bisa Ganggu Saluran Kencing

Trauma Seksual Bisa Ganggu Saluran Kencing

oleh: gnegus    
ª
 
Kadang-kadang gangguan saluran air kencing kita salah menduga penyebabnya. Gangguan saluran kencing selama ini banyak disebabkan oleh masalah di ginjal atau kelenjar prostat. Namun kini peneliti menemukan gangguan pada saluran kemih bisa disebabkan oleh depresi, gangguan kecemasan dan trauma seksual.

Gangguan tersebut biasanya terjadi pada saluran kandung kemih bagian bawah (LUTS) seperti inkontinensia (tidak dapat menahan buang air kecil) dan kandung kemih yang terlalu aktif.

Sampai saat ini hubungan yang pasti antara keduanya masih belum diketahui. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan Journal of Urology, peneliti dari Virginia Commonwealth University School of Medicine dan Hunter Holmes McGuire Veterans Affairs Hospital, Richmond, Virginia, Divisi Urologi sedang mempelajari hubungan antara LUTS dengan faktor trauma tersebut.

Peneliti memberikan kuesioner terhadap 121 perempuan yang dirujuk oleh dokter ke klinik khusus urologi untuk mengevaluasi lebih lanjut mengenai gangguan gejala pada saluran kemih bawah. Gangguan saluran kemih bagian bawah ini jika tidak segera ditangani bisa menurunkan kualitas hidup seseorang.

Data-data yang didapatkan tersebut kemudian dianalisis berdasarkan bagian riwayat trauma seksual, umur, ras serta riwayat obstetri atau kebidanannya. Data mengenai masalah kejiwaan dan trauma seksual dibandingkan dengan populasi kontrol perempuan dari klinik perawatan primer Veterans Affairs.

Hasil yang didapatkan bahwa perempuan yang dirujuk akibat masalah kejiwaan dan trauma seksual lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan dari kelompok kontrol. Analisis terpisah lainnya juga menunjukkan bahwa masalah inkontinensia tersebut lebih tinggi terjadi pada kelompok yang mengalami trauma seksual atau depresi.

"Ini merupakan penelitian awal untuk mengetahui gambaran mengenai hubungan antara trauma seksual, gangguan kecemasan, depresi dengan tingkat keparahan dan kualitas hidup dari penderita gangguan saluran kemih bagian bawah," ujar Adam P. Klausner, MD, seperti dikutip dari Health24. Namun, untuk bisa memahami secara lebih mendalam, dibutuhkan penelitian ilmiah lebih lanjut.

Meskipun belum dapat diketahui dengan pasti hubungan antara gangguan trauma tersebut dengan gangguan pada saluran kemih bagian bawah, tapi terlihat jelas dari hasil kuesioner tersebut.

Hasilnya prevalensi perempuan dengan trauma seksual dan gangguan kejiwaan lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami trauma terhadap gangguan saluran kemih bagian bawah.
Diterbitkan di: 24 Oktober, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.