Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Darah di Air Seni, Perlukah di cemaskan?

oleh: pakpahan     Pengarang : source
ª
 
Darah dalam urin, dalam istilah medis disebut hematuria, adalah gejala yang kadang-kadang mengkhawatirkan. Perdarahan dapat menandakan penyakit ginjal berat. Namun, sebelum berpikir tentang apapun, penting untuk diketahui bahwa warna merah kencing tidak selalu berkaitan dengan keberadaan darah. Kondisi-kondisi tertentu bisa salah dipahami sebagai hematuria. Misalnya, jika Anda telah makan bit atau rifampisin (antibiotik yang diekskresikan oleh ginjal) maka urin Anda akan berwarna merah. Untuk mengatakan bahwa itu benar-benar darah, perhatikan konteks dan perkembangan warna merah urin Anda.

Penyebab

Pertama-tama, mari kita memahami aliran urin untuk lebih memahami kerusakan yang bisa menyebabkan perdarahan. Urin dibentuk oleh dua ginjal dari darah di arteri yang mengalir ke dalam unit-unit fungsional ginjal yang disebut nefron. Urin awal ini akan mengalami beberapa perubahan melalui berbagai tabung ginjal. Urin dalam bentuk akhir dibuang ke kandung kemih melalui dua ureter. Dari kandung kemih urin dikeluarkan melalui uretra saat buang air kecil. Sumber perdarahan dapat berada di semua tingkatan anatomi. Darah dapat berasal dari ginjal, ureter, kandung kemih, prostat atau uretra. Ketika darah muncul pada akhir buang air kecil (hematuria terminal), kemungkinan berasal dari kandung kemih atau prostat. Bila urin berwarna merah dari awal sampai akhir buang air kecil (hematuria total), darah kemungkinan berasal dari ginjal, meskipun dapat juga berasal dari kandung kemih.

Hematuria mungkin disebabkan tumor atau infeksi ginjal (nefritis, pielonefritis atau glomerulonefritis), infeksi di uretra (uretritis), prostat (prostatitis) atau kandung kemih (cystitis), dan pembesaran/tumor prostat. Kencing batu, yaitu batu ginjal yang terjebak di dalam ureter, ginjal, kandung kemih atau uretra, hampir selalu menyebabkan munculnya darah dalam urin. Faktor-faktor lain seperti obat pengencer darah yang mencegah pembekuan darah, atau obat-obatan anti-inflamasi seperti aspirin mendorong perdarahan saluran kemih. Cedera urogenital setelah jatuh, kelelahan parah, dan diabetes adalah sebab lain adanya darah di urin. Pada penderita diabetes, pembuluh darah memang rapuh sehingga risiko perdarahan lebih besar.

Hematuria sering muncul dengan tanda-tanda lain yang menyertainya seperti sakit perut, sensasi terbakar pada saat buang air kecil atau buang air kecil terlalu sering. Jika gejala ini persisten, penting bagi Anda untuk menemui dokter agar dapat mengetahui penyebabnya. Dokter biasanya akan mengambil sampel urine dan meminta melakukan ultrasound scan atau urografi intravena. Pada penyakit ginjal seperti glomerulonefritis, biopsi ginjal mungkin dilakukan untuk mengkonfirmasi kondisi nefron, mengetahui jenis masalah dan menyesuaikan pengobatan.
Perawatan

Penanganan hematuria tergantung pada penyebabnya. Jika penyebabnya adalah infeksi saluran kemih, pengobatan antibiotika sudah cukup. Jika penyebabnya adalah tumor atau batu ginjal, mungkin memerlukan pembedahan. Dalam kasus pembesaran prostat, tujuan pengobatan adalah mengurangi volume kelenjar prostat.
Diterbitkan di: 24 Januari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.