Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Konsep Dasar Diare

oleh: infotech25    
ª
 
Definisi
Diare dikatakan sebagai keluarnya tinja berbentuk cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam dua jam pertama, dengan temperatur rectal diatas 38 derajat Celsius (Soegianto, 2002:73).

Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi berumur lebih dari 1 bulan dan anak bila frekuensinya lebih dari 3 kali (Bagian IKA FKUI, 2005:283).

Diare merupakan gangguan pencernaan yang sering dialami oleh semua orang terutama bayi dan anak-anak. Diare dapat mengancam jiwa bayi dan anak, karena bayi dan anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi orang dewasa. Hingga kini penyakit diare masih merupakan salah satu penyakit utama bagi bayi dan anak (Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Oktober 2006).

Menurut WHO 1992, diare sering terjadi pada anak-anak terutama anak usia 6 bulan sampai 2 tahun, atau pada bayi berusia dibawah 6 bulan yang minum susu sapi atau formula makanan bayi (Andriyanto, 1992:1).

Faktor-faktor yang Dapat Mempengaruhi Kejadian Diare

1. Faktor Infeksi
Infeksi enternal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enternal ini, meliputi :

a. Infeksi Bakteri:
Vibrio, E-coli, Salmonella, Stigella, Compylobacter, Fersinia, Aeromonas, dan sebagainya.
b. Infeksi Virus:
Enterovirus (Cirus echo, Coxsackie, Poliomyelitis), Adeno Virus, Rotavirus dan lain-lain.
c. Infeksi Parasit
Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides), Protozoa centamoeba, Hystolytica, Glardia lamblia, Trichomonas hominis), Jamur (Candida albicans).
d. Infeksi Parenteral
Yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti Otitis Media Akut (OMA) Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia, Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak di bawah 2 tahun.

2. Faktor Malabsorbsi
a. Malabsorbsi Karbohidrat
Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.
b. Malabsorbsi Lemak
c. Malabsorbsi Protein

3. Faktor Makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

4. Faktor Psikologis : rasa takut dan cemas walaupun jarang, dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar (Ngastiyah, 2005:224).

5. Sanitasi lingkungan yaitu higiene dan sanitasi yang buruk, mempermudah penularan diare baik melalui makanan, air minum yang tercemar kuman penyebab diare maupun air sungai (Majalah Kefarmasian, April 2004:1). Sanitasi lingkungan dapat diukur dengan kategori sanitasi lingkungan yang memadai dan sanitasi lingkungan yang tidak memadai.

Pendapatan keluarga, keadaan ekonomi yang rendah pada umumnya berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan yang mereka hadapi disebabkan karena ketidakmampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka terhadap gizi, perumahan dan lingkungan yang sehat, pendidikan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya (Nasrul Effendy, 2003:39).

Pada umumnya seseorang yang pendapatannya tinggi dapat memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) sehari-hari seperti sandang, pangan dan papan, sehingga tercapai keluarga yang sejahtera (Ahmadi A, 1997: 334).

6. Faktor pendidikan, makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai baru yang diperkenalkan (Notoatmodjo S, 2003:97).

7. Faktor budaya, faktor budaya yang berupa tradisi dan kepercayaan masyarakat membentuk perilaku positif maupun negatif terhadap perkembangan berkembangnya diare.

8. Faktor gizi, keadaan gizi yang buruk akan mempengaruhi lamanya diare dan komplikasinya. Anak dengan status gizi kurang kalori protein akan mengalami gangguan keseimbangan elektrolit dan diare mempercepat proses ini. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) serta makanan bergizi terbukti meningkatkan daya tahan terhadap diare (Anonim, 1985:Artini,1987).

Diterbitkan di: 03 Oktober, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Komentar Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.