Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Kedokteran & Kesehatan>Diet & Olahraga>Osteoporosis: Kualitas dan Kuantitas Tulang (Dr. Claudia Welch)

Osteoporosis: Kualitas dan Kuantitas Tulang (Dr. Claudia Welch)

oleh: kangavuse     Pengarang: Dr. Claudia Welch; AvuseCocondao
ª
 
Setiap jaringan dalam tubuh terus-menerus terlibat dalam proses pembangunan dan sekaligus pembongkaran yang mana hal ini dilakukan untuk mempertahankan kesehatan jaringan. Sel-sel baru datang dan membangun jaringan baru yang sehat, sementara yang lama, yang telah lelah, maupun sel-sel kotor dieliminasi untuk memberikan ruang bagi sel-sel baru untuk tumbuh. Ini adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tulang.

Sebagaimana yin yang membangun dan meningkatkan fungsi, dan yang, merupakan fungsi kekuatan yang lebih ringan, kita dapat melihat bahwa hormon seks Yin akan lebih memberi kontribusi untuk membangun dan mempertahankan kepadatan densitas tulang, sedangkan kelebihan produksi hormone-hormon stres berkontribusi pada penipisan tulang.

Menurut Miriam E. Nelson dan Sarah Wernick, dalam Strong Women Stay Young, waktu yang paling penting untuk mencegah terjadinya pengeroposan tulang adalah selama lima tahun pertama setelah seorang wanita mengalami menopause. Ini adalah waktu di mana dalam kehidupan seorang wanita, di mana dia akan kehilangan massa tulangnya dengan cepat, sekitar 1 hingga 2 persen per tahunnya.[2] Secara umum, wanita membangun massa tulang mereka hingga dua puluh lima tahun, lalu tidak ada aktifitas dan berhenti sampai usia tiga puluh lima, kemudian kehilangan sekitar setengah persen per tahun sampai menopause. Setelah penurunan lima tahun sesudah masa menopause, kehilangan tulang akan melambat pada kisaran 1 persen per tahun dan kembali lagi menjadi setengah persen per tahun setelah memasuki usia tujuh puluhan. Ini adalah sebuah perkiraan yang sangat berguna untuk diketahui, jadi kita tidak usah panik jika mengalami penurunan kepadatan tulang pada usia 50-55 tahun, bahkan lebih cepat dari itu ketika hal ini terjadi dengan usia yang lebih muda. Ini adalah gambaran umum, dan hilangnya massa tulang tidak selalu menjadi masalah kecuali memang mengarah ke titik di mana kemungkinan terjadinya patah tulang meningkat.

Ada dua alasan utama bagi seseorang untuk dapat mengalami penipisan tulang yang berlebihan. Yang pertama melibatkan proses dimana sel-sel khusus yang disebut osteoklas membongkar sel-sel tulang tua terlalu cepat. Proses ini dikatalisis oleh faktor yang, yang terlalu banyak, ini dapat terjadi ketika tubuh berada dalam kondisi release hormon stres. Yang kedua adalah jumlah osteoblas muda yang terbatas, -yang merupakan penjaga kesehatan tulang-, yang merupakan faktor pembangun tulang. Dalam ilmu Kedokteran Timur, hal ini dikatakan sebagai adalah akibat dari tidak cukupnya yin, atau substansi dasar (misalkan, massa tulang) yang sangat terkait Yang.

Jumlah yin bukan satu-satunya faktor penting ketika dihadapkan pada permasalahan kesehatan tulang. Kualitas Yin itu sendiri juga tak kalah penting. Jika kualitas yin yang tersedia adalah sangat rendah, maka kualitas jaringan akan menjadi rendah pula. Misalkan saja pada kasus pembangunan tulang dan pelarutan tulang berada dalam keseimbangan yang baik, tetapi ternyata kualitas bahan pembangunnya buruk. Maka kemudian kepadatan densitas tulang mungkin dapat baik, tapi kualitas jaringan tulangnya rendah. Ini adalah titik pada bidang kesehatan tulang yang mana ilmu kedokteran timur lebih memperhatikan hal ini lebih daripada ilmu pengobatan Barat.

Beberapa faktor dapat menyebabkan osteoporosis. Anda akan memiliki risiko tinggi jika Anda memiliki riwayat keluarga yang memiliki masalah dengan kesehatan tulang, tidak punya anak, gizi buruk, kebiasaan olahraga yang buruk, depresi, stres, atau terlalu banyak karbohidrat olahan dalam diet Anda. Tidak mengherankan pula, faktor-faktor seperti ketidakseimbangan hormon, diet yang buruk, dan kurang olahraga juga dapat dikatakan menjadi penyebab terbesar. Untungnya, semua hal ini berada dalam kendali kita.

Daftra Pustaka: 2. Natalie Angier, Woman: An Intimate Geography (New York: Anchor Books, 2000), 204.

Diterbitkan di: 03 Nopember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.