Faktor faktor yang mempengaruhi
perkembangan citra tubuh (body image) adalah: (a) Jenis kelamin. Chase (2001) menyatakan
bahwa jenis kelamin adalah faktor paling penting dalam perkembangan citra tubuh (body image) seseorang. Deacey & Kenny (2001) juga sependapat bahwa jenis kelamin
mempengaruhi citra tubuh. Beberapa penelitian yang sudah dilakukan menyatakan
bahwa wanita lebih negatif memandang citra tubuh (body image) dibandingkan pria (Cash &
Brown, 1989: Davidson & McCabe, 2005: Demarest & Allen, 2000: Furnaham
& Greaves, 1994:, Jenelli, 1993: Rozin & Fallon, 1988 dalam Hubley
& Quinlan, 2005). Pria ingin bertubuh besar dikarenakan mereka ingin tampil
percaya diri di depan teman-temannya dan mengikuti trend yang sedang
berlangsung. Sedangkan wanita ingin memiliki tubuh kurus menyerupai ideal yang
digunakan untuk menarik perhatian pasangannya. Usaha yang dilakukan pria untuk
membuat tubuh lebih berotot dipengaruhi oleh gambar dimedia massa yang memperlihatkan model pria yang
kekar dan berotot. Sedangkan wanita cenderung untuk menurunkan berat badan
disebabkan oleh artikel dalam majalah wanita yang sering memuat artikel promosi
tentang penurunan berat badan (Anderson & Didomenico, 1992). (2) Usia. Pada
tahan perkembangan remaja, citra tubuh (body image) menjadi penting (Papalia & Olds, 2003).
Hal ini berdampak pada usaha berlebihan pada remaja untuk mengontrol berat
badan. umumnya lebih sering terjadi pada remaja putri dari pada remaja putra.
Remaja putri mengalami kenaikan berat badan pada masa pubertas dan menjadi
tidak bahagia tentang penampilan dan hal ini dapat menyebabkan remaja putri
mengalami gangguan makan (eating disorder). Ketidakpuasan remaja putri
pada tubuhnya meningkat pada awal hingga pertengahan usia remaja sedangkan pada
remaja putra yang semakin berotot juga semakin tidak puas dengan tubuhnya
(Papalia & Olds, 2003). (c) Media Massa .
Tiggemann (dalam Cash & Pruzinsky, 2002) mengatakan bahwa media yang muncul
dimana-mana memberikan gambaran ideal mengenai figur perempuan dan laki-laki
yang dapat mempengaruhi gambaran tubuh seseorang. Tiggemann (dalam Cash
&purzinsky, 2002) juga menyatakan bahwa media massa menjadi pengaruh yang paling kuat dalam
budaya sosial. Anak-anak dan remaja lebih bahyak menghabiskan waktunya dengan
menonton televisi. Konsumsi media yang tinggi dapat mempengaruhi konsumen. Isi tayangan
media sering menggambarkan bahwa standart kecantikan perempuan adalah Tubuh
yang kurus dalam hal ini berarti dengan level kekurusan yang dimiliki, kebanyakan
perempuan percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang sehat. Media juga menggambarkan
gambaran ideal bagi laki-laki adalah dengan memiliki tubuh yang berotot. (4.)
Keluarga. menurut teori social learning, orang tua merupakan model
yang paling penting dalam proses sosialisasi sehingga mempengaruhi gambaran
tubuh anak anaknya melalui modeling, feedback dan instruksi.
Fisher, Fisher dan Strack (dalam Cash & Pruzinsky, 2002) menyatakan bahwa
gambaran tubuh melibatkan bagaimana orangtua menerima keadaan bayinya baik
terhadap jenis kelamin bayinya dan bagaimana wajah bayinya kelak. Ketika bayi
lahir, orangtua menyambut bayi tersebut dengan pengharapan akan adanya bayi
ideal dan membandingkannya dengan penampilan bayi sebenarnya. Kebutuhan
emosional bayi adalah disayangi lingkungan yang dapat mempengaruhi harga diri
seseorang. Harapan fisik bayi oleh orangtua sama seperti harapan oanggota
keluarga lain yaitu tidak cacat tubuh. Ikeda and Narworski (dalam Cash dan
Purzinsky, 2002) menyatakan bahwa komentar yang dibuat orang tua dan anggota
keluarga mempunyai pengaruh yang besar dalam gambaran tubuh anak- anak. Orang
tua yang secara konstan melakukan diet dan berbicara tentang berat mereka dari
sisi negatif akan memberikan pesan kepada anak bahwa menghawatirkan berat badan
adalah sesuatu yang normal. (5) Hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal
membuat seseorang cenderung membandingkan diri dengan orang lain dan feedback yang
diterima mempengaruhi konsep diri termasuk mempengaruhi bagaimana perasaan
terhadap penampilan fisik. Hal inilah yang sering membuat orang merasa cemas
dengan penampilannya dangugup ketika
orang lain melakukan evaluasi terhadap dirinya. Rosen dan koleganya (dalam Cash
& Purzinsky, 2002) menyatakan bahwa feedback terhadap penampilan
dan kompetisi teman sebaya dan keluarga dalam hubungan interpersonal dapat
mempengaruhi bagaimana pandangan dan perasaan mengenai tubuh. Menurut Dunn
& Gokee (dalam Cash Purzinsky, 2002) menerima feedback mengenai
penampilan fisik berarti seseorang mengembangkan persepsi tentang bagaimana
orang lain memandang dirinya. Keadaan tersebut dapat membuat mereka melakukan
perbandingan sosial yang merupakan salah satu proses pembentukan dalam
penilaian diri mengenai daya tarik fisik. Pikiran dan perasaan mengenai tubuh
bermula dari adanya reaksi orang lain. Dalam konteks perkembangan, gambaran
tubuh berasal dari hubungan interpersoanal. Perkembangan emosional dan pikiran
individu juga berkontribusi pada bagaimana seseorang melihat diriya. Maka,
bagaimana seseorang berpikir dan merasa mengenai tubuhnya dapat mempengaruhi
hubungan dan karakteristik psikologis (chase, 2001).