Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Prevalensi karies gigi di Indonesia

oleh: sayanina    
ª
 
Prevalensi karies gigi di Indonesia

Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 dalam depkes (2000) menunjukkan bahwa 65,7% penduduk Indonesia menderita karies gigi aktif atau kerusakan pada gigi yang belum di tangani.

SKRT 1997 menunjukkan 63% penduduk Indonesia menderita karies gigi aktif atau belum ditangani. Rerata pengalaman karies perorangan, yang diukur dengan index DMF-T untuk Indonesia adalah 6,44 di mana 4,4 gigi sudah dicabut, 2gigi belum ditangani dan hanya 0,16 gigi yang telah ditumpat atau ditambal. Data SUSENAS, 1998 menyatakan bahwa 87% masyarakat yang mengeluh sakit gigi tidak berobat, sedangkan yang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan hanya 12,3 %.

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2007 didapatkan peningkatan jumlah kerusakan gigi seiring dengan bertambahnya usia yaitu pada kelompok usia 35-44 tahun DMF-T rata-rata 4,46 sedangkan kelompok usia >65 tahun sebesar 18,33. Keadaan tersebut dapat disebabkan karena kebersihan mulut yang buruk. Hal ini dapat dilihat dari penduduk kelompok usia 55-64 tahun yang menyikat gigi dengan benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam) 5,4 % sedangkan kelompok usia >65tahun hanya 3,5%.

Hasil analisis lanjut Riskedas 2007, diketahui bahwa responden yang mempunyai kebiasaan sering makan manis cenderung untuk mendapat karies di atas rerata (>2) adalah sebesar 1,16 kali disbanding dengan responden yang tidak mempunyai kebiasaan makan manis. Zr. Be Kien Nio (1984) menyatakan bahwa kebiasaan makan manis dengan frekuensi lebih dari 3 kali sehari, maka kemungkinan terjadinya karies jauh lebih besar. Sebaliknya, bila frekuensi makan gula dikurangi 3 kali, maka email mendapat kesempatan untuk mengadakan remineralisasi. Peningkatan prevalensi karies gigi banyak dipengaruhi perubahan dari pola makan.

Kesimpulan yang diperoleh dari analisis lanjur Riskesdas 2007 adalah karakteristik seseorang (umur, pendidikan, tempat tinggal, serta social ekonomi) memengaruhi terjadinya karies. (hubungan pola makan dan kebiasaan menyikat gigi dengan kesehatan gigi dan mulut (karies) di Indonesia.

Berdasarkan teori Blum, status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu keturunan, lingkungan (fisik maupun social budaya), perilaku, dan pelayanan kesehatan.

Dari keempat faktor tersebut, perilaku memegang peranan yang penting dalam mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut. Di samping mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut secara langsung, perilaku juga dapat mempengaruhi faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Perilaku menurut Lewin merupakan fungsi hubungan antara individu dan lingkungannya. Menurut Kidd dan Bechal, dalam Roelan dan Sadono, (1997) menyatakan masyarakat yang banyak mengonsumsi makanan yang berserat cenderung mengurangi terjadinya karies daripada masyarakat yang mengonsumsi makanan lunak dan banyak mengandung gula.

Sehubungan dengan pendapat di atas, maka frekuensi membersihkan gigi dan mulut sebagai bentuk perilaku akan mempengaruhi baik atau buruknya kebersihan gigi dan mulut, di mana akan mempengaruhi juga angka karies dan penyakit penyangga gigi. Namun jarang sekali dilakukan penelitian mengenai hubungan perilaku dengan tingkat kebersihan gigi dan mulut.

Usaha pemerintah untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia sangat membutuhkan peranserta masyarakat sendiri terutama perubahan perilaku, melalui program penyuluhan dan pelatihan sikat gigi missal merupakan suatu program yang dilakukan oleh pemerintah melalui puskesmas setiap tahun. Berdasarkan penelitian Hawskins, pendidikan kesehatan yang diberikan beserta dengan pelatihan akan memberikan hasil yang optimal.

Karies gigi juga disebabkan karena perilaku waktu menyikat gigi yang salah karena dilakukan pada saat mandi pagi dan mandi sore dan bukan sesudah makan pagi dan menjelang tidur malam. Padahal menyikat gigi menjelang tidur sangat efektif untuk mengurangi karies gigi. Perilaku menggosok gigi berpengaruh terhadap terjadinya karies. Hal ini berhubungan juga dengan proses terjadinya karies, yaitu sisa makanan yang lama tertinggal dalam mulut dan tidak segera dibersihkan akan menyebabkan terjadinya karies.

Masih tingginya angka karies gigi bisa berhubungan dengan pola kebiasaan makan yang salah dan beberapa perilaku seperti masyarakat lebih meenyukai makanan manis, kurang berserat dan mudah lengket. Adnya persepsi masyarakat bahwa penyakit gigi tidak menyebabkan kematian sehingga masyarakat kurang kepeduliannya untuk menjaga kebersihan mulut dan mendudukkan masalah pada tingkat kebutuhan sekunder yang terakhir. Padahal gigi merupakan fokus infeksi terjadinya penyakit sistemik, antara lain penyakit ginjal dan jantung.

Menurut SUSENAS 1998, keluhan sakit gigi menduduki urutan keenam dari penyakit-penyakit yang dikeluhkan masyarakat. Adyatmaka (1992) mengemukakan bahwa dengan semakin baiknya tingkat social ekonomi serta pendidikan masyarakat, serta masih tingginya penyakit gigi dan mulut, maka tuntutan terhadap pelayanan kesehatan dasar yang disediakan oleh Puskesmas adalah pelayanan kesehatan gigi dasar.

Penelitian Walker dan Nizel dalam Kiswaluyo (1997) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa status gizi yang jelek akan menimbulkan pengaruh pada tulang dan gigi, yaitu berupa pengaruh pada bentuk dan komposisinya. Keadaan ini dapat menyebabkan gigi mudah karies.

Epidemiologi karies permukaan akar gigi di Indonesia

Menurut Burt dkk (1994) karies gigi merupakan masalah yang signifikan bagi lansia antara lain: karies akar yang menyerang lebih dari 63% penderita pada usia 65-69 thun dan menyerang lebih dari 70% penderita dengan usia 75-79 tahun.

Penelitian DepKes RI tahun 1999, yang didapatkan sebanyak 69,3% menderita karies gigi. Pada penelitian yang dilakukan di wilayah DKI Jakarta pada 30 lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Bina Mulya 05 Jelambar Jakart Barat, didapatkan hasil pada kelompok usia 55-64 tahun sebanyak 40 % dan kelompok usia > 70 tahun sebesar 23,3% salah satunya disebabkan karena kebiasaan mengonsumsi makan dan minum manis, terlihat sebagian besar responden yaitu kelompok usia 55-64 tahun sebanyak 23% dan kelompok usia > 70 tahun sebayak 6,7% senang mengonsumsi makanan cokelat, permen dan makanan manis lainnya, serta 50% dari responden sering minum the manis, sirup, dan susu.

Diterbitkan di: 01 Oktober, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    sumbernya terpercaya gak??? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    boleh minta daftar pustakanya? terutama yang depkes prevalensi karies, thx :) Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.