Kebutuhan untuk makan bukanlah semata-mata dorongan untuk mengatasi rasa lapar, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan fisiologis
dan psikologi.
Hal menarik dalam pemilihan
makanan dari segi budaya adalah adanya konsep
tabu .Tabu adalah tindakan untuk menghindari apa yang diyakini berbahaya secara supranatural, sedangkan tabu makanan adalah tindakan untuk menghindari makanan tertentu berdasarkan penjelasan sebab akibat yang bersifat supranatural, hal tersebut kadang susah dijelaskan secara rasional. Banyak penelitian telah dilakukan untuk meneliti tabu makanan yang terjadi di masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh Wiwik & Yushila (2006), mendapatkan adanya tabu makan telur pada anak-anak di daerah Pekalongan, karena dikhawatirkan nantinya akan tumbuh bisul. Di daerah Magelang, adanya tabu makan ikan bagi anak-anak, karena dikhawatirkan nantinya akan terkena penyakit cacing pada anak.
Penelitian yang dilakukan oleh Dyah & Ichsan (2006), mendapatkan adanya tabu makan brutu yaitu daging ayam bagian ekor untuk gadis remaja di daerah Lampung, supaya tidak genit sehingga sulit jodoBanyak penelitian telah dilakukan untuk meneliti tabu makanan yang terjadi di masyarakat. Tabu makanan banyak yang berhubungan dengan sumber hewani, seperti daging dan ikan. Tabu makanan berkaitan dengan konsep ”panas-dingin” yang dapat memengaruhi keseimbangan unsur-unsur dalam tubuh manusia, tanah, udara, api dan air. Apabila unsur-unsur di dalam tubuh terlalu panas atau terlau dingin, maka akan menimbulkan penyakit. Beberapa contoh diantaranya ada tabu makan daging pada ibu hamil karena dikhawatirkan menyebabkan pendarahan saat melahirkan dan tabu makan pepaya pada anak-anak karena dianggap terlalu dingin sehingga dapat menimbulkan penyakit.