Tidak mustahil untuk hidup normal dengan satu
ginjal yang
sehat. Hal itu dialami oleh Eva Yulianti, 38. Sebelum memperoleh
donor
ginjal dari adik kandungnya, Eva sempat mengalami masa pahit dan keputusasaan. Di tengah puncak kebahagiaan hidup bersama suami dan ketiga anaknya yang lucu tahun 2001, Eva secara tiba-tiba mengalami gejala sesak napas. Merasa ada yang tidak beres, mantan pramugari sebuah maskapai penerbangan dalam negeri ini berobat ke sebuah rumah sakit di Kampung Melayu, Jakarta. Hasilnya, ia divonis gagal ginjal. Hingga tiba dirumahpun, ia belum bisa menerima kenyataan pahit itu dan menolak melakukan cuci darah. Namun, kadar kreatinin tubuhnya malah mencapai level 17. Kala itu, fungsi ginjalnya hanya tersisa 6%.
Eva menuturkan, proses cuci darah dilakukan dalam keadaan tidak sadar. Pagi, siang, malam berlalu dengan cepat. Beruntung Eva mempunyai keluarga yang begitu menyayanginya, termasuk sang adik yang berhati mulia, Lidya Derniwati, 36.
Selama mendengarkan penjelasan dokter dan sang adik benar-benar ikhlas menyumbangkan satu ginjalnya, Eva pun memantapkan hati melakukan transplantasi ginjal pada 3 Agustus 2002. Dr Tunggul Situmorang SpPD menegaskan, hidup
sehat dengan satu ginjal bukanlah utopis semata. Hal tersebut disampaikan oleh pendonor maupun penerima ginjal yang telah bertahan lebih dari 10 tahun. Sebelum transplantasi dilakukan, tim dokter pasti akan melakukan evakuasi medik terhadap calon donor dan penerima secara seksama.