Wortel Super Kaya Kalsium
Summary rating: 2 stars
2 Tinjauan
Kunjungan:
76
kata:
300
Diterbitkan di: Februari 19, 2008
Dengan rekayasa genetika, wortel kelak tidak
hanya dikenal sebagai ikonnya sumber vitamin A, mungkin juga menjadis umber
kalsium. Para ilmuwan di AS telah membudidayakan wortel
yang mengandung kadar kalsium tinggi. Seseorang yang makan wortel super ini
akan memperoleh kalsium 41 persen lebih banyak daripada wortel biasa. Para
ilmuwan tersebut berharap konsumsi wortel secara teratur akan mencegah
osteoporosis dan penyakit tulang sejenis. "Wortel
ini tumbuh di lingkungan yang dipantau terus dan diatur dengan perlakukan
khusus," ujar Profesor Kendal Hirschi, salah satu peneliti dari Sekolah
Kedokteran Baylor di Texas, AS.
Namun, untuk siap dan aman dikonsumsi publik masih perlu penelitian lebih
lanjut. Selama ini, asupan kalsium banyak ditemukan pada susu. Namun, tidak
semua orang bisa minum susu karena alergi dan sebagian lainnya menolak karena
kandungan lemaknya tinggi. Wortel yang lebih fleksibel diharapkan bisa menjadi
alternatif. Para ilmuwan merekayasa salah satu gen
wortel agar kalsium lebih mudah diserap melalui membran-membaran selnya.
Meskipun kadar kalsiumnya tidak sampai 1000 miligram, rekayasa serupa pada
jenis tanaman lain mungkin dapat terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh manusia.
Warna oranye
Bukan kali ini saja wortel direkayasa. Warna
oranye pada wortel saat ini merupakan hasil budidaya yang dilakukan ilmuwan
Belanda pada abad 17. Wortel yang aslinya berwarna ungu direkayasa agar menjadi
warna oranye sesuai warna kebanggan Belanda. Rekayasa genetika juga sudah
dipakai untuk menghasilkan kentang yang lebih kering dan menyerap sedikit
minyak saat digoreng sehingga lebih sehat dan renyah. Brokoli juga menjadi
objek rekayasa agar menyimpan sulforaphane yang berkhasiat menggempur kanker. "Banyak
penolakan terhadap rekayasa genetika, namun secara bertahap kiata sudah
bergerak dari bentuk ''''makanan Frenkenstein'''' dan mulai menghargai manfaat
kesehatan yang bisa dibawanya," ujar Profesor Susan Fairweather-Tait dari
East Anglia mengomentari hasil-hasil rekayasa pada tanaman konsumsi tersebut.