Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Dukun Bayi Versus Bidan

oleh: akhirkelana     Pengarang : Elsa
ª
 
Dukun bayi  , ada yang menyebut dukung beranak seorang yang mempunyai ketrampilan menolong ibu proses melahirkan sejak puluhan tahun yang lalu, terutama di Jawa. Profesi ini dilakoni oleh perempuan yang tua dan kebanyakan keturunan. Pemakaian nama dukun sebagaimana kebiasaan orang unsur seperti klenik, magis , tradisionak dan semacam itu sering pula menyertai perilaku dukun dan sugesti masyarakat pengguna jasa, rasa tunduk perintah/permintaan sesaji dan penghormatan yang ditunjukan dengan perilaku  kepada dukun. Penggunaan jasa dukun bayi  disebabkan masih sedikitnya tenaga medis seperti bidan.
         Perlunya menekan angka kematian bayi dan ibu hamil, maka pemerintah kemudian mencetak tenaga medis terutama bidan melalui program bidan desa, bidan siaga yang ditempatkan di desa.  Tugas utama bidan ini adalah meningkatkan kesehatan ibu dan anak ( KIA ).  Adanya figur bidan di desa tidak serta merta menggeser peranan dukun bayi di mata masyarakat. Keterbatasan pengetahuan medis menjadikan perlunya  bidan  atau dinas kesehatan untuk membimbing dukun teknis medis dalam pelayanan sekaligus merupakan masa transisi pelayanan  KIA kepada bidan. Coba kita amati  pada desa yang jauh dari kota masih terlihat kental kepercayaan pada dukun bayi dari pada bidan.
Lalu apa yang istimewa pada dukun bayi ?
Dukun bayi yang ada di desa dalam pandangan masyarakat  :
1.       Dianggap kesepuhan ( bahasa jawa ) yang mempunyai kelebihan.
2.      Biaya untuk proses persalinan yang lebih murah.
3.      Adanya pelayanan pasca persalinan , kunjungan ke rumah untuk memijat bayi dan ibu serta membawa jamu dalam kurun waktu tertentu.
         Pandangan masyarakat yang seperti tentu harus kita maklumi, karena hal tersebut diatas hampir tidak dimiliki oleh bidan. Mungkin juga dipengaruhi faktor memandang bidan kebanyakan masih muda (belum pernah melahirkan anak ), kurang mampunya bidan melakukan pendekatan masyarakat dalam menggulirkan program atau mungkin dalam kurikulum pendidikan bidan tidak pernah  diajarkan metoda pendekatan sosial kemasyarakatan.

www.supermanjur.info
.

.
Diterbitkan di: 12 Oktober, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.