Bagaimana terapi hipnosis bekerja…
Jika tahu logikanya, ternyata tak terlalu sulit menjawab pertanyaan bagaimana
terapi hipnosis dapat membantu penyembuhan.Otak manusia diciptakan dengan mekanisme yang luar biasa. Otak kiri (yang selama ini sering kita gunakan) dikendalikan oleh pikiran sadar, sementara otak kanan (yang masih banyak diabaikan potensinya) dikendalikan oleh pikiran bawah sadar. Hasil penelitian menunjukkan pikiran sadar di otak kiri hanya mengendalikan sekitar 12% dari mekanisme perilaku manusia. Sebaliknya pikiran bawah sadar di otak kanan justru mengendalikan 88%. Dengan potensi sebesar itu, pikiran bawah sadar bisa diibaratkan seperti Mike Tyson yang dengan mudah dapat ‘meng-KO’ pikiran sadar hanya dalam setengah ronde. Pemahaman ini dapat membantu Anda mengerti, mengapa ketika sedang menjalani diet keras, Anda malah mengalami peningkatan napsu makan. Atau mengapa Anda semakin merindukan mantan kekasih, sudah bertekad untuk melupakannya.
Berdasarkan gelombang otak (brainwave), aktivitas otak dapat dibagi menjadi 4 kondisi, yakni kondisi sadar, terhipnotis, mimpi dan tidur. Dalam kondisi terjaga gelombang otak berada dalam cakupan beta, yakni 24-14 CPS(cycle pers second). Kondisi terhipnotis terjadi ketika aktivitas otak berada di cakupan alfa (14-7CPS), kondisi mimpi berada dalam cakupan theta (7-3.5 CPS), sedangkan kondisi tidur berada dalam cakupan delta (3.5-0.5 CPS)
Dalam kondisi terjaga atau sadar pikiran manusia lebih banyak bekerja dengan logika untuk berpikir, mengevaluasi, menilai serta mengambil keputusan. Seorang yang diberitahu dokter mengidap kanker stadium lanjut misalnya akan menangkap informasi ini sebagai vonis kematian. Padahal seandainya ia dapat membangkitkan semangat hidup (yang dikendalikan oleh pikiran bawah sadar) bukan tidak mungkin ia mampu berjuang untuk sembuh.
Hipnosis yang digunakan dalam terapi kedokteran menurut Dr. Sylvia Detri Elvira dari Bagian Psikiatri FKUI telah banyak digunakan untuk membantu pasien-pasien yang mengalami masalah dengan kondisi jiwanya, termasuk penyakit-penyakit yang sifatnya psikosomatik. “Kalau ditelusuri, hampir semua penyakit memang ada aspek psikologisnya, misalnya kita sering dengar seseorang yang selalu sakit perut, atau sakit maag ketika akan menghadapi ujian. Gejala sakit perut atau sakit kepala seperti ini bisa dibantu dihilangkan dengan menggunakan terapi hipnotis.” Agar pasien tidak melakukan ‘penolakan-penolakan’, hipnosis dilakukan untuk menurunkan gelombang otaknya hingga ke level alpha-theta. Pada level inilah informasi baru berupa sugesti-sugesti dimasukkan. Misalnya untuk pasien Pasien yang ingin berhenti dari kecanduan merokok bisa disugesti dengan kata-kata: “Mulai sekarang setiap kali ingin merokok, Anda akan merasa kalau rokok itu rasanya sangat pahit dan tidak enak.” Begitu pasien dibangunkan, sugesti yang telah di-install selama proses hipnosis akan berfungsi sebagai sinyal peringatan untuk melakukan hal-hal yang sudah dikondisikan oleh terapisnya.
Sayangnya membangkitkan potensi pikiran bawah sadar tak semudah membalik telapak tangan. Dalam kondisi sadar, pikiran sadar dan pikiran bawah sadar manusia dihalangi sebuah ‘gerbang’ beristilah RAS (Reacticular Activation System). Kondisi terhipnotis yang membuat otak manusia langsung menerima informasi tanpa dipertanyakan atau dianalisa, membuat RAS menjadi lebih mudah dibuka. Kalau dianalogikan RAS ini mirip seperti password. Begitu password sebuah komputer terbuka, maka program apa pun dapat di install dengan mudah.
Hipnosis menurut psikolog sekaligus hipnoterapis Anisah Kortschak M. Psi, hanya akan berhasil dilakukan jika pasien atau klien menaruh kepercayaan pada terapis dan mengijinkan dilakukan terapi hipnosis. “Terapi hipnosis untuk menghentikan kecanduan merokok misalnya baru berhasil jika orang itu memiliki keinginan dari dalam dirinya sendiri untuk berhenti. Kalau dia datang untuk diterapi atas permintaan istrinya, tetapi dia sendiri sebenarnya tidak ingin berhenti merokok, maka terapi ini tidak akan berhasil.”
Untuk itu sebelum melakukan terapi, terapis biasanya akan menanyakan beberapa hal (rapporting) kepada pasien mengenai masalah yang dialaminya, serta tujuan apa yang ingin dicapainya. Semakin banyak keterangan yang diperoleh, terapis akan semakin mudah mencari tahu akar penyebab dari masalah yang dialami pasien. Setelah proses ini selesai barulah terapis menjelaska
Karena sifatnya hanya sebagai alat untuk membantu penyembuhan, terapi hipnosis tidak selalu berhasil dilakukan hanya dengan satu kali terapi saja. Banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh terapis. Dr. Sylvia misalnya pernah menerapi pasien yang takut mengemudi. “Biasanya setelah dihipnosis saya akan meminta pasien membayangkan dia berjalan masuk ke dalam mobil. Kalau dia kelihatan tenang, saya bisa memintanya memegang setir, menyalakan mesin mobil dan lain sebagainya. Tapi kalau baru diminta masuk ke dalam mobil saja pasien sudah gelisah. Saya harus menghentikannya sampai di situ. Baru pada kesempatan lain akan dicoba lagi.”