Dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin pernah mengalami kegagalan dalam satu atau beberapa hal. reaksi akan
kegagalan ini acapkali kita lakukan dengan menyalahkan orang lain, diri sendiri, atau keadaan yang kita anggap sebagai penyebab kegagalan kita. Hillgard, dkk (1975) menyatakan bahwa kejadian atau keadaan yang merintangi atau mengganggu upaya kita meraih tujuan yang kita inginkan disebut sebagai frustasi. Hillgard juga menjelaskan frustrasi sebagai keadaan emosi yang tidak menyenangkan sebagai akibat dari adanya rintangan terhadap upaya kita meraih tujuan (
goal) yang kita inginkan. menurut Hillard, saat menghadapi frustrasi terdapat 6 reaksi yang akan ditampilkan individu, yaitu :
- Fantasi. ketika kita merasa kegagalan yang kita hadapi terlalu menyakitkan, kadang-kadang kita mencari penyelesaian dengan melarikan diri ke dunia khayal. frustrasi yang berlebihan dan berkelanjutan dapat menyebabkan kita kehilangan kemampuan untuk membedakan dunia fantasi dan dunia nyata.
- Stereotypy. yaitu kecenderungan kita untuk terpaku pada satu tingkah laku tertentu yang kita lakukan secara berulang-ulang. saat menghadapi kegagalan kita diharapkan mampu bersikap fleksibel agar dapat mencari alternatif pemecahan masalah. jika kita sulit menemukan alternatif lain sehingga upaya memperbaiki kegagalan akan terhambat.
- Regresi. regresi didefinisikan sebagai kembali ke model tingkah laku yang kurang matang yang merupakan ciri dari tingkah laku anak kecil., misalnya menangis, mencari perhatian orang tua atau orang yang berarti lainnya, dan lain-lain.
- Kegelisahan dan Ketegangan. peningkatan kegelisahan dan ketegangan dapat terjadi saat kita mengalami frustrasi. hal ini tampak dari perubahan ekspresi wajah kita, wajah kita memerah, tubuh gemetar, mengepalkan tangan, menggigit kuku, merokok, dan lain-lain. semua tingkah laku tersebut merupakan jalan keluar dari kegelisahan atau ketegangan yang kita alami.
- Agresi. kemarahan merupakan kondisi yang berkaitan erat dengan ketegangan dan kegelisahan yang dapat mengarah pada tindakan merusak kepada orang atau permusuhan. agresi kadang-kadang diarahkan secara langsung kepada oprang atau objek yang kita anggap sebagai penyebab kegagalan kita. namun kadang-kadang agresi kita ekspresikan kepada orang lain yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan kegagalan kita. kambing hitam merupakan contoh kasus dari agresi yang diarahkan kepada orang yang tidak bersalah atas kegagalan yang kita alami.
- Apatis. orang yang bersikap apatis saat mengalami frustasi atau kegagalan tampak tidak perduli, acuh tak acuh, dan menarik diri dari lingkungan. sikap ini sangatlah tidak produktif karena orang yang apatis tidak melakukan apapun saat mengalami kegagalan, bahkan cenderung tenggelam di dalam kegagalannya.
berdasarkan uraian di atas tampaknya reaksi individu yang mengalami kegagalan atau frustrasi sebagian besar mencerminkan nuansa tingkah laku yang cenderung negatif. apakah orang yang mengalami kegagalan selalu menampilkan tingkah laku yang cenderung negatif? bukankah kita perlu meningkatkan upaya untuk mencapai tujuan kita, bahkan saat mengalami kegagalan? untuk itu kita memerlukan rumusan baru tentang sikap atau tingkah laku agresi, regresi, atau bahkan masuk dalam dunia fantasi yang tanpa batas.