Kesibukan dan tuntutan kerja yang berlebihan di tambah lagi dengan persaingan ingin tampil sebagai kumpulan orang-orang sukses
di kota-kota besar, saat ini merupakan gaya hidup yang semakin menjauhkan peranan dan tanggung jawab para pasangan muda yang memiliki balita.
Situasi lelah dan tuntutan tambahan jam keja di rumah merupakan hal yang biasa bagi banyak pasangan muda di kota-kota besar. Situasi ini sering dialami para balita, dimana komunikasi mereka dibatasi oleh bayak suguhan dari berbagai barang mainan yang dibelanjakan orang tua mereka sebagai ungkapan kasi sayang. Mereka rela tidak mendengarkan rengekan anak-anak mereka atau gangguan-ganguan yang menurut mereka sangat mengganggu, meskipun para pembantu mereka dapat mengambil sebagian besar peran penting mengatasi segala kebutuhan anak-anak mereka, namun buka itu sesungguhnya yang di inginkan dari anak-anak, kedekatan batin dan rasa perlindungan alami yang dirasakan anak-anak membuat mereka melakukan komunikasi dengan segala cara menurut perkembangan tingkah laku, tangis,tertawa , ngambek,celoteh,girang ,teriak-teriakan adalah bahasa dasar anak-anak yang perlu mendapat respon penting dari orang tua sebagai pengikat batin.
Penulis mendapat pengalaman dari penuturan seorang tetangga, dengan rasa kesal dan iba, mereka memaksa anak perempuan mereka yang mempunyai balita , untuk membawa anak-anak mereka tinggal dirumah mereka.Pasalnya setelah sekian bulan jarang berkunjung kerumah Kakek-Neneknya, pada saat sang cucu dibawa orang tua nya berkunjung ke rumah kakek-neneknya, Sang kakek-nenek hampir tidak percaya kalau cucu mereka yang berumur 3 tahun itu sama sekali berkomunikasi dengan bukan bahasa lajim yang digunakan anak-anak balita seumurnya. Celotehnya sama sekali tidak bisa lagi dihubungi dengan dugaan-dugaan sederhana, sang cucu hanya dituntun kesana-kemari untuk memenuhi keinginannya
tidak semuanya bisa terpenuhi dan itu semua berakhir dengan tangis, anehnya kata-kata sederhana yang disampaikan sang kakek-nenek dengan bahasa sederhana bisa dimengerti sang cucu,tapi sebaliknya balasan dari sang cucu sama sekali tidak bisa dipahami sang kakek nenek, menurut orang tua si balita, itu hal yang biasa karena nanti juga akan diam sendiri karena biasanya di atasi dengan membujuknya, membiarkanya bermain Game Player berjam-jam. Inilah kondisi yang tidak terelakan dimana para pasangan muda kedua-duanya bekerja berangkat terlalu pagi supaya tidak kena ,acet de,ikiam juga pulang setelah jam-jam macet. Tinggalah sang balita dengan pembantu yang jarng sekali dilatih berkomunikasi menurut bahasa yang alami karena perannya sudah digantikan pula oleh keasyikan bermain Game Player asalkan sang balita tidak rewel makan dan menangis , itu sudah bagus, menurut sang majikan yang sering bertanya lewat telepon atau sepulang kerja.Jadilah si balita berceloteh tak lajim karena daya pacu kreativitas otaknya sering dirangsang permainan Game Player disampaikannyalah menurut kemauannya sendiri kepada Sang kakek-nenek toch kalaupun salah selama ini gak ada yang protes, apalagi Game Player.