Penyakit
lupus belum begitu dikenal luas di masyarakat Indonesia
dan sampai saat ini
belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah meskipun diperkirakan jumlah
penderita lupus ( odapus ) terus bertambah.
Istilah
lupus berasal dari serigala. Pada abad 13 dokter Rogerius menggunakan istilah
lupus untuk menggambarkan lesi di hidung dan wajah penderita yang menyerupai
gigitan serigala.
Penyebab
penyakit lupus sampai sekarang belum
diketahui secara pasti, diduga berhubungan dengan genetik,virus,sinar ultraviolet
dan obat-obatan tertentu.
Penyakit
lupus tergolong penyakit autoimun. Artinya sistem imun membentuk antibodi yang
seharusnya bekerja memerangi infeksi yang disebut antigen seperti
bakteri,virus, jamur atau zat – zat asing yang masuk ke dalam tubuh, malah
berbalik menyerang dirinya sendiri. Sistem imun ini kehilangan kemampuan untuk
membedakan yang mana antigen asing dan mana sel atau jaringan tubuhnya sendiri,
akibatnya antibodi yang terbentuk menyerang sel atau jaringan tubuh sendiri dan
menyebabkan berbagai kelainan, tergantung bagian tubuh yang diserang, bisa di susunan
syaraf,jantung, paru – paru,ginjal,kulit maupun sendi. Kelainan yang
ditimbulkan bisa berupa nyeri,peradangan,ataupun kerusakan jaringan.
Beberapa
ciri gejala lupus antara lain rasa lemas,capek yang berlebihan,demam
berkepanjangan,ruam merah di wajah yang menyerupai gambar kupu-kupu, ruam merah
di kulit yang umumnya lebih nyata bila terpapar sinar matahari, ruam diskoid,
rambut rontok,sariawan yang berulang,nyeri pada sendi dan bengkak pada kedua
tungkai. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mendeteksi kelainan lupus
yang melibatkan sel-sel darah, serta pemeriksaan urin untuk mendeteksi kelainan
lupus yang melibatkan sel-sel darah, serta pemeriksaan urin untuk mendeteksi
adanya gangguan ginjal. Gangguan neurologik maupun psikiatrik juga dapat
terjadi pada penderita lupus. Antibodi anti nuklear serta beberapa jenis
antibodi dapat diperiksa untuk mendukung diagnosis lupus.