PMS Menjelang Menstruasi,
Normalkah?
JAKARTA — Sakit perut, cepat tersinggung, dan mudah marah tanpa
alasan yang jelas yang dirasakan wanita beberapa hari menjelang
menstruasi, sering dianggap biasa oleh masyarakat, khususnya kaum
wanita. Namun jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya akan
mengganggu aktivitas sehari-hari, mengganggu hubungan dengan
orang-orang terdekat, bahkan sampai ada yang ingin bunuh diri.
Menurut Psikiater Perempuan dr Sylvia Detri Elvira, SpJK, bila
kondisi ini berlangsung selama tiga kali siklus haid
berturut-turut, bisa jadi itu merupakan gejala Pre Menstrual
Syndrome (PMS) atau yang dikenal dengan Sindrom Pra-Menstruasi.
PMS jika dibiarkan akan menimbulkan gangguan yang lebih parah atau
yang disebut dengan disforia pra-menstruasi (PMDD).
PMS merupakan suatu kondisi medis umum yang terkait dengan siklus
menstruasi. Gejala yang ditimbulkan bisa bermacam-macam, mulai
dari gejala fisik, psikis, dan psikologi. Namun gejala tersebut
akan hilang saat menstruasi datang. Dia menjelaskan, 90 persen
wanita mengalami satu atau lebih gejala PMS. Gejala PMS sendiri
sudah dikenal lama, bahkan sejak zaman Hippocrates pada 370 SM.
“Kalau perempuan mengalami satu gejala menjelang haid selama tiga
bulan berturut-turut, dia mengalami PMS. Kalau perempuan mengalami
lima gejala menjelang haid selama 12 bulan berturut-turut, dia
mengalami PMDD. Baik PMS maupun PMDD merupakan kondisi yang tidak
normal sehingga harus diobati karena berdampak negatif pada
aktivitas sehari-hari,” tutur Sylvia.
Ada beberapa penyebab PMS, di antaranya faktor genetik dari ibu
atau nenek, ada ketidakseimbangan neurotransmiter dan
neurohormonal, adanya faktor psikologi yang memicu gejala PMS dan
hubungan dengan orang terdekat, seperti dengan keluarga maupun
pasangan, menjadi terganggu.
Gejala fisik PMS adalah sakit perut, sakit kepala, mual, payudara
bengkak, nyeri otot dan punggung, serta pembengkakan di tungkai
kaki. Sementara itu gejala psikologinya adalah cepat tersinggung,
mudah marah, depresi, sering tiba-tiba menangis, cepat berubah
dari gembira menjadi marah, cepat lupa, merasa sendirian di tengah
keramaian, tidak bisa konsentrasi, malas, tegang, rendah diri, dan
bingung. Gejala lain adalah sulit tidur, lelah, pusing, sering
merasa haus, banyak makan, gairah seksual berubah, dan menurunnya
minat dalam kehidupan sehari-hari.
Semenrata itu, gejala dari PMDD adalah merasa hidup tiada harapan,
merendahkan diri sendiri, sulit makan, ingin tidur terus, cemas
terus-menerus dan sering marah tanpa alasan yang jelas selama
beberapa hari. “Dampaknya bisa menimbulkan konflik personal,”
lanjut Sylvia.
Di Asia Pasifik, satu dari lima wanita menderita PMS atau sekitar
22 persen, sementara empat persen mengalami PMDD. Prevalensi PMS
dan PMDD di tiap negara dibandingkan di wilayah Asia Pasifik
beragam, dengan prevalensi tertinggi terdapat di Australia (43
persen) dan terendah di Pakistan (13 persen). Sebanyak 51 persen
perempuan di Asia mengalami sakit perut menjelang haid.
Mengatasi gejala PMS maupun PMDD menjelang haid dapat pula
dilakukan secara alami, seperti rajin berolahraga, khususnya
aerobik 30 menit selama 4-6 kali seminggu, jalan kaki dan
modifikasi diet. Selain itu, kurangi konsumsi kafein untuk
membantu mengurangi rasa tertekan, mudah tersinggung dan gelisah.
Mereka yang mengalami gejala PMS dan PMDD juga harus mengurangi
konsumsi garam, bukan hanya garam yag ada dalam makanan
sehari-hari, tetapi juga kandungan sodium pada makanan kemasan.
Dianjurkan pula untuk lebih banyak mengonsumsi karbohidrat
kompleks dan serat yang terdapat pada makanan seperti, roti gandum,
pasta, sereal, buah, dan sayuran. Selain itu, konsumsilah makanan
yang kaya vitamin dan mineral atau mengonsumsi suplemen vitamin
dan mineral. Jangan lupa menyertakan sumber protein pada setiap
menu makanan, mengurangi konsumsi gula dan lemak selama menjalani
diet guna membantu meningkatkan energi, dan menstabilkan mood.
Hentikan mengonsumsi alkohol.
Pil KB
Sementara itu, Koordinator Pengabdian Masyarakat Departemen Obgin
FKUI/RSCM, dr Andon Hestiantoro, SpOG mengatakan, PMS umumnya
dialami oleh wanita usia subur karena terkait dengan ovulasi (masa
subur). “Remaja tidak mengalami PMS karena mereka belum mengalami
ovulasi. Perlu diingat bahwa ovulasi datang dengan sendirinya,
bukan lewat hubungan senggama,” ujarnya.
Menurutnya, PMS maupun PMDD biasanya muncul 14 hari ovulasi
sebelum haid. Pengobatannya dapat dilakukan lewat terapi oral
dengan mengonsumsi pil KB. Pil KB dapat menghambat hormon guna
mencegah ovulasi sebab pil KB mengandung hormon estrogen dan
progesteron.
Khusus bagi wanita yang belum menikah, dianjurkan mengonsumsi pil
KB dengan kadar estrogen yang lebih rendah. Selain itu, vitamin B6
juga dapat dikonsumsi. “Mereka yang sering mengalami pembengkakan
payudara menjelang haid dapat mengonsumsi Bromocriptine. Lalu
mereka yang tungkainya sering bengkak menjelang haid dapat
mengonsumsi Bioretika,” lanjutnya. (stevani elisabeth)