RINGKASAN
Uji Aktivitas Antimalaria Fraksi Kloroform dari Ekstrak Metanol Buah Teh – Tehan (Duranta repens L.) Secara
In Vivo; Indras Woro Septi Wulandari; 042210101066 : 2008, 60 halaman; Program Studi Farmasi Universitas Jember.
Penyakit malaria merupakan penyakit tropis yang masih menjadi masalah kesehatan dunia. Terapi malaria pada saat ini menggunakan obat standar klorokuin dan beberapa senyawa sintetik lainya. Telah dilaporkan adanya resistensi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin di beberapa daerah. Pendekatan etnofarmakologi untuk mendapatkan senyawa antimalaria dari bahan alam perlu dilakukan. Kina dan artemisin merupakan senyawa bahan alam yang telah terbukti efektif dalam terapi malaria. Di Indonesia, beberapa tumbuhan digunakan untuk mengatasi demam malaria secara tradisional. Salah satu tumbuhan yang telah digunakan secara tradisional sebagai antimalaria adalah tanaman teh-tehan (Duranta repens L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antimalaria fraksi kloroform dari ekstrak metanol buah teh-tehan secara in vivo dengan metode Tes Peter. Kandungan yang terdapat dalam fraksi kloroform diidentifikasi untuk mengetahui senyawa yang diduga mempunyai aktivitas antimalaria. Identifikasi dilakukan dengan metode reaksi kimia dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).
Fraksi kloroform diuji dengan berbagai peringkat dosis, yaitu 12,72; 25,12; 50,04; 75,15; 100,02; dan 125,40 mg/kgbb. Data hasil penelitian diolah dengan analisis probit program SPSS 11,5 for windows dengan tingkat kepercayaan 95 %. Nilai IC50 fraksi kloroform buah teh-tehan terhadap pertumbuhan Plasmodium berghei adalah sebesar 41,125 mg/kgbb.
Skrining fitokimia dengan metode KLT dilakukan menggunakan lempeng silika gel 60F254 dan eluen kloroform : metanol : etil asetat ( 9 : 3 : 5 ). Hasil eluasi menghasilkan 3 noda yang tampak pada peredaman dibawah sinar UV254. Noda dengan Rf 0,28 dan 0,41 berwarna ungu kebiruan setelah disemprot dengan penampak noda anisaldehid sulfat, yang menunjukkan adanya kandungan senyawa terpenoid dalam fraksi. Noda dengan Rf 0,63 tidak bereaksi dengan penampak noda uap amonia, FeCl3, anisaldehid sulfat maupun dragendorf. Diduga noda tersebut merupakan pengotor yang ikut tereluasi. Aktivitas antimalaria fraksi kloroform diduga karena kandungan senyawa terpenoid yang ditunjukkan oleh hasil skrining.
Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengisolasi senyawa aktif yang berkhasiat sebagai antimalaria terutama golongan senyawa terpenoid sehingga dapat dikembangkan sebagai obat antimalaria yang dapat diproduksi secara masal. Selain itu perlu dilakukan uji aktivitas antimalaria pada bagian lain tanaman teh-tehan atau ekstraksi dengan berbagai pelarut yang mempunyai polaritas yang berbeda-beda sehingga dapat diketahui bagian mana yang paling besar potensi antimalarianya.