Rahasia Kiat Seks India Kuno (Bagian I)
Berawal dari anggapan bahwa seks merupakan bagian dari penciptaan kosmos, masyarakat India kuno pun menempatkan
seks dan cinta ke posisi yang sangat penting dalam mata rantai kehidupan. Seks dipandang sebagai hal besar yang sangat penting karena merupakan simbol dari kehidupan dan kematian.
Kitab Rigveda (1500 SM) menyebutkan asal muasal terjadinya dunia kosmik atau jagad raya sebagai perkembangan dari harapan diri dengan hasrat (Kamar) yang kemudian berubah menjadi ribuan komponen jagad raya. Kata “Kamar” di sini berhubungan dengan “hasrat seksual” atau “hasrat cinta”. Ini menunjukkan bahwa dalam budaya masyarakat India kuno “aktifitas seksual yang pada akhirnya melahirkan manusia” merupakan titik awal penciptaan jagad raya.
Aliran pemujaan Brahmanisme yang lahir sebelum ajaran Hindu bahkan menempatkan aktifitas hubungan seksual , kidung pujaan, dan persembahan sesaji sebagai tiga kegiatan pemujaan terhadap para dewa. Ada begitu banyak upacara persembahan yang sulit untuk dipisahkan dari aktifitas seksual. Sebagai contoh adalah upacara Asvamedha Yajna. Dalam upacara pemujaan berskala besar yang seringkali dilaksanakan pada saat raja baru naik tahta, pertunjukan seks seringkali menjadi satu mata acara yang penting.
Lekatnya hubungan antara seks dengan ritual pemujaan dan budaya hingga kini masih terekam dalam berbagai peninggalan purbakala seperti arca Dewa Shiva dan arca Lingam (Lingga). Aliran Shivaisme menganggap Lingam (organ vital pria) sebagai simbol kehidupan. Aliran lainnya yakni Saktisme, sebaliknya justru menganggap Yoni (organ intim wanita) lah yang merupakan simbol kehidupan, sehingga peninggalan-peninggalan arca pemujaannyapun menampilkan berbagai adegan yang memperlihatkan pentingnya posisi wanita sebagai sumber kehidupan. Berbagai situs bersejarah lain di India seperti Terakota dari abad ke 5 Masehi yang terdapat di India Utara dan Kuil Konarak (1250 Masehi) sekitar 20 Mil dari Kota Suci Puri, India, dengan jelas menggambarkan aneka pose jurus bercinta.
Kama Sutra
Begitu termahsyurnya Kama Sutra, terutama di dunia Barat, sehingga kata Kama Sutra boleh dibilang merupakan kata kedua setelah Svastika (Swastika) yang dikenal begitu meluas di dunia Barat.
Ditulis oleh Mallanaga Vatsyayana antara abad ke-2 hingga abad ke5 Masehi, Kama Sutra di Dunia Barat identik sebagai Buku Primbon Seks yang sarat dengan anekdot teknik bercinta. Padahal di India sendiri Kama Sutra seringkali diberikan kepada para calon mempelai wanita sebagai bahan bacaan wajib sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Pada kenyataannya Kama Sutra justru tidak mengandung anekdot apapun, dan lebih dari sekedar buku yang memuat petunjuk cara berhubungan seks. Terdiri dari 7 bagian (ada yang menyebutnya terdiri dari 7 buku) hanya satu bagian dari Kama Sutra yang berhubungan langsung dengan teknik bercinta. Bagian-bagian lainnya memuat ajaran tentang bagaimana menghias dan mendekorasi rumah, bagaimana membujuk mempelai wanita, bagaimana tata krama antara suami dan isteri, bagaimana merayakan festival keagamaan, dan bagaimana mengatur dapur, serta menanam kebun. Dengan kata lain Kama Sutra adalah sebuah buku komprehensif yang berusaha mendefinisikan hubungan antara pria dan wanita secara menyeluruh.
Tidak ada informasi yang komplit mengenai siapa Mallanaga Vatsyayana dan kapan tepatnya Kama Sutra ditulis, kecuali keterangan bahwa Vatsyayana adalah seorang Yogi yang hidup berselibat dengan menjalankan samadhi . Semasa hidup ia mungkin sama bekennya dengan guru-guru ternama di India kuno seperti Bhagwan Shree Rajneesh atau Maharisi Mahesh Yogi. Kama Sutra sendiri ditulisnya tanpa tujuan yang neko-neko kecuali ingin membantu masyarakat memahami “Kama” serta memberi petunjuk tentang bagaimana cara menggunakan dan menikmatinya secara benar.
Kata “Kama” adalah nama Dewa Cinta dalam ajaran Hindu yang berarti “Kesenangan” atau “Kenikmatan”. Kesenangan atau kenikmatan di sini tidak terfokus pada seks semata melainkan kenikmatan atau kesenangan apapun yang bisa kita rasakan dengan panca indera kita, semisal mendengarkan musik, menikmati lukisan, dan lain sebagainya. Dalam kehidupan Hindu, “Kama” merupakan salah satu dari 3 tujuan, yang harus dijalankan secara sinergis dan harmoni, bersama kedua tujuan lainnya yakni Dharma dan Artha.
Abstrak lain tentang Rahasia Kebahagiaan Seks ala India