berjemur dapat mencegah kanker???
Summary rating: 4 stars
8 Tinjauan
Kunjungan:
63
kata:
600
Diterbitkan di: Maret 08, 2008
Hampir sepanjang pengetahuan saya, kita telah diingatkan tentang
perlunya menghindari sinar matahari berlebihan agar tidak memicu kanker
kulit yang mematikan, khususnya bentuk yang dikenal sebagai malignant
melanoma (tumor yang terbentuk dari sel pigmen melanin yang bersifat
ganas/mematikan). Tetapi ketika ada bukti-bukti terkumpul bahwa sinar
matahari juga terkait dengan penurunan resiko beberapa macam kanker
internal lainnya termasuk kanker payudara, prostat, dan usus besar.
Saya dan banyak orang telah berdebat bahwa karena kanker internal jauh
lebih umum dari pada malignant melanoma, dengan mengamati secara
keseluruhan resiko kanker, menjauhkan diri dari sinar matahari sangat
mungkin merupakan hal yang lebih berbahaya daripada kebaikannya. Awal
bulan ini, seseorang telah melakukan sesuatu hal pada beberapa poin
penting ini dan juga menemukan hal tersebut.
Johan Moan dan tim penelitinya dari the Institute for Cancer Research
di Oslo, Norwegia, telah mempublikasikan sebuah laporan singkat, yang
isinya tentang memutus hubungan antara sinar matahari dan resiko
kanker. Dalam analisis mereka, yang dipublikasikan di the Proceedings
of the National Academy of Sciences 1, mereka membuat asumsi bahwa
dengan menambah sentuhan sinar matahari akan menaikkan resiko malignant
melanoma. Pada kenyataannya, sejumlah bukti justru menunjukkan bahwa
sinar matahari bukanlah energi yang kuat dalam pengembangan melanoma
seperti yang sering dikatakan itu. Akan tetapi biarlah kekeliruan itu
berada di sisi keselamatan dan berjalan pada gagasan bahwa sinar
matahari pasti dapat meningkatkan resiko melanoma.
Berlawanan dengan ini, sebagaimana saya katakan sebelumnya, perlu
mempertimbangkan data yang menunjukkan bahwa sinar matahari mengurangi
resiko beberapa kanker internal utama. Ini merupakan sebagian bukti
dari fakta bahwa tingkat penyinaran yang lebih rendah, timbulnya kanker
lebih rendah daripada tingkat penyinaran tinggi. Kita juga tahu sinar
matahari meningkatkan produktivitas vitamin D dalam kulit dan nutrisi
ini diketahui kaya mengandungi zat anti kanker.
Segera setelah seluruh jenis penyakit kanker turut dipertimbangkan,
data penelitian dalam the Proceedings of the National Academy of
Sciences lantas mendukung gagasan yang menyatakan: ”Meningkatnya
penyinaran matahari pada tubuh kita bisa jadi mendorong berkurangnya
kecenderungan terkena penyakit kanker dan mungkin memberi lebih banyak
dampak positifnya daripada dampak negatif pada kesehatan.”
Dalam laporan Reuters mengenai penelitian ini, mengklaim bahwa Johan
Moan telah memperhitungkan bahwa jika orang Norwegia melipat gandakan
penyinaran matahari pada tubuh mereka, maka jumlah kematian per
tahunnya akibat kanker kulit akan meningkat hingga 300 jiwa (ingat, hal
itu jika kita mengasumsikan penyinaran matahari benar-benar menyebabkan
melanoma), tetapi kematian tahunan akibat kanker lainnya akan turun
hingga 3.000 jiwa.
Dengan kata lain, gagasan bahwa ”Meningkatnya pencahayaan sinar
matahari mungkin mendorong menghilangkan kecenderungan kanker dan
mungkin lebih banyak memberikan dampak positifnya daripada sebaliknya
pada kesehatan”, bagi saya terasa konservatif. Bahkan lebih konservatif
lagi bila orang menganggap bahwa sinar matahari dan meningkatkan
vitamin D tidak hanya dapat mengurangi resiko