Proses Pencemaran
Terjadinya kontaminasi
bakteri dapat dimulai ketika
susu diperah dari
puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang
memungkinkan bakteri tumbuh
di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa
dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat
mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin
pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar dari puting
tidak mengalami kontak dengan udara.
Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama
pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage),
dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi
susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir, sehingga
bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam
susu.
Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak
bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan
penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi
bakteri. Udara yang terdapat dalam lingkungan di sekitar tempat
pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari
susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam
ruangan tertutup.
Manusia yang berada dalam proses pemerahan dan pengolahan susu dapat
menjadi penyebab timbulnya bakteri dalam susu. Tangan dan anggota tubuh
lainnya harus steril ketika memerah dan mengolah susu. Bahkan, hembusan
napas manusia ketika proses pemerahan dan pengolahan susu dapat menjadi
sumber timbulnya bakteri. Sapi perah dan peternak yang berada dalam
sebuah peternakan harus dalam kondisi sehat dan bersih agar tidak
mencemari susu. Proses produksi susu di tingkat peternakan memerlukan
penerapan good farming practice seperti yang telah diterapkan di
negara-negara maju.
Antisipasi
Dari berbagai penelitian dan pengalaman di beberapa Negara
tersebut sebenarnya WHO (World Health Organization), USFDA (United States Food
and Drug Administration) dan beberapa negara maju lainnya telah
menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi bukanlah produk komersial yang
steril. Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai
produk komersial steril karena dengan proses pemanasan yang cukup.
Sehingga di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan
rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk
penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi. Sayangnya di
Indonesia produk susu tersebut belum banyak dan relatif mahal harganya.
Rekomendasi lain yang harus diperhatikan untuk mengurangi resiko
infeksi tersebut adalah cara penyajian yang baik dan benar. Di
antaranya adalah menyajikan hanya dalam jumlah sedikit atau secukupnya
untuk setip kali minum untuk mengurangi kuantitas dan waktu susu
formula terkontaminasi dengan udara kamar. Meminimalkan “hang time”
atau waktu antara kontak susu dengan udara kamar hingga saat pemberian.
Waktu yang direkomendasikan adalah tidak lebih dari 4 jam. Semakin lama
waktu tersebut akan meningkatkan resiko pertumbuhan mikroba dalam susu
formula tersebut.
Hal lain yang penting adalah memperhatikan dengan baik dan benar cara
penyajian susu formula bagi bayi, sesuai instruksi dalam kaleng atau
petunjuk umum. Peningkatan pengetahuan orangtua, perawat bayi dan
praktisi klinis lainnya tentang prosedur persiapan dan pemberian susu
formula yang baik dan benar harus terus dilakukan.
Terlepas benar tidaknya akurasi temuan tersebut sebaiknya pemerintah
dalam hal ini Departemen Kesehatan harus bertindak cepat dan tepat
sebelum terjadi kegelisahan dan korban yang memakan jiwa. Sedangkan
orangtua tetap waspada dan tidak perlu khawatir berlebihan ternyata
temuan tersebut juga pernah dilaporkan oleh USFDA tetapi tidak terjadi
kasus luar biasa Karena mungkin sebagian besar adalah kuman non-patogen
atau yang tidak berbahaya. Tetapi apapun juga, jangan sampai terjadi
banyak anak Indonesia terkorbankan hanya karena keterlambatan
mengantisipasi keadaan.
Abstrak lain tentang Proses Pencemaran dan Antisipasi Bakteri Enterobacter sakazakii