menembak satu sel telur dengan satu sperma
Summary rating: 4 stars
14 Tinjauan
Kunjungan:
235
kata:
600
Diterbitkan di: Maret 05, 2008
Teknologi reproduksi kini telah menembus berbagai metode canggih untuk menolong pasangan yang kesulitan mendapatkan keturunan. Gebrakan pertama terjadi saat metode "bayi tabung" pertama melahirkan Louise Brown asal Inggris pada 1978.
Setelah itu, banyak teknik lain yang lebih mengagumkan berturut-turut
ditemukan, termasuk metode penyuntikan satu sperma terhadap satu sel
telur secara in vitro.Betapa cemasnya mereka, sebab lima tahun sebelumnya, testis yang satu sudah dibuang karena penyakit yang sama.
Karena tak sempat mengekstraksi sperma menjelang operasi kedua, maka
testis yang sudah dipotong segera dikirim ke klinik pelayanan
fertilitas di Aldridge untuk diambil spermanya dan dibekukan.
Berkat teknik yang sama, akhir Juni lalu wanita itu dikabarkan berhasil
mengandung. Calon bayinya bahkan diduga kembar. Kebahagiaan bertambah
ketika suaminya dinyatakan sembuh dari kanker.
Dengan semakin meningkatnya jumlah pasangan tidak subur pada 30 tahun
terakhir, khususnya di negara-negara industri, para ahli di
negara-negara seperti Amerika, Inggris, dan Australia, terus mencari
teknik yang dapat membantu pasangan tak subur. Metode yang diprakarsai sejumlah dokter Inggris ini berhasil menghadirkan bayi perempuan bernama Louise Brown pada 1978. Pada teknik in vitro yang melahirkan Brown,
pertama-tama dilakukan perangsangan indung telur sang istri dengan obat
khusus untuk menumbuhkan lebih dari satu sel telur. Teknik yang kini disebut IVF konvensional itu berhasil melahirkan bayi tabung pertama, Nugroho Karyanto, pada 2 Mei 1988. Pada teknik PZD, sperma disemprotkan ke sel telur
setelah dinding sel telur dibuat celah untuk mempermudah kontak sperma
dengan sel telur. Teknik canggih ini ternyata sangat tepat diterapkan pada kasus mutu dan jumlah sperma yang minim.
Kalau pada IVF konvensional diperlukan 50.000 - 100.000 sperma untuk
membuahi sel telur, pada ICSI hanya dibutuhkan satu sperma dengan
kualitas nomor wahid. Melalui pipet khusus, sperma disuntikkan ke dalam satu sel telur yang juga dinilai bagus. Langkah selanjutnya mengikuti cara IVF konvensional. Pada teknik ini jumlah embrio yang ditanamkan cuma 1 - 3 embrio. Muchsin Jaffar DSPK, tim unit infertilitas MELATI-RSAB
Harapan Kita, ICSI sudah diterapkan sejak 1995 dan berhasil melahirkan
anak yang pertama pada Mei 1996. Sedangkan wanita usia 40-an yang berhasil melahirkan dengan teknik in vitro hanya 6%.
Karena rendahnya tingkat keberhasilan dan mahalnya biaya yang harus
dikeluarkan pasien, teknik ini tidak dianjurkan untuk wanita berusia
40-an. Kalau sperma kosong
Pada kasus cairan air mani tanpa sperma (azoospermia), mungkin akibat
penyumbatan atau gangguan saluran sperma, kini bisa dilakukan
pengambilan sperma dengan teknik operasi langsung pada saluran air mani
atau testis. Sedangkan pada TESE, sperma langsung diambil dari testis yang merupakan pabrik sperma. Embrio yang untuk sementara tidak digunakan dapat
disimpan dengan cara kriopreservasi, yang selanjutnya disimpan dalam
tabung berisi cairan nitrogen pada suhu 196oC di bawah nol derajat. Tidak seperti di Barat, embrio ataupun sperma yang
tersimpan beku di Indonesia hanya diperuntukkan bagi pasutri yang
bersangkutan. Salah satu contoh keberhasilan teknik penyimpanan embrio bisa ditemukan
di Belgia. Baru-baru ini lahir seorang bayi laki-laki sehat hasil
penanaman embrio yang sudah dibekukan selama 7,5 tahun dari pasangan
lain (anonim). Bayi yang dibantu kelahirannya oleh dr. Michael Vermesh
ini beratnya 4 kg. Daya tahan embrio yang dibekukan bisa puluhan tahun
dan tetap bisa menjadi bayi sehat.
Teknologi reproduksi in vitro ternyata sangat membantu pasangan yang
mengalami gangguan reproduksi. Mengupayakan pasutri agar bisa mempunyai
anak sungguh merupakan perbuatan mulia dan membahagiakan, sekalipun
pembuahannya dilakukan di laboratorium. Seperti halnya Louise Brown,
mungkin banyak anak yang dilahirkan melalui teknik ini ikut bersyukur
bahwa kedua orang tuanya mengikuti program itu.