Seiring makin melonjaknya harga
susu yang dipicu
oleh makin langkanya keberadaan susu di pasaran, membuat para ibu kelabakan.
Pasalnya susu adalah bahan yang sangat pokok bagi bayi. Melonjaknya harga
makanan pokok bagi bayi ini membuat para ibu mulai mencari-cari alternatif lain
sebagai pengganti
dari susu. Salah satu di antaranya yaitu air
tajin yang
banyak dipercayai hampir sama
dengan susu. Tapi benarkah air tajin sama dengan
susu? Dalam arti yang lebih mendalam yaitu dari kandungan nilai gizinya?
Ternyata air tajin
tidak dapat menggantikan
kebutuhan susu bagi bayi karena hanya mengandung karbohidrat, kata dosen Ilmu
Gizi, Program Sarjana Kesehatan Masyarakat, Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto Ir. Endo Darjito, MPPM. "Yang kita harapkan dari susu
adalah kandungan proteinnya sehingga kalau karbohidrat yang dimakan hanya dapat
memberikan tenaga," katanya. Tajin merupakan cairan dalam proses penanakan
nasi. Menurut
dia, bayi sampai balita membutuhkan susu untuk pertumbuhan otak
tetapi jika hanya diberi karbohidrat, otaknya tidak akan bisa mengalami
pertumbuhan optimal. Oleh karena itu, secara jelas air tajin tidak dapat
dijadikan sebagai pengganti susu. Dia mengatakan, kebutuhan susu untuk bayi
usia 0-6 bulan diharapkan dapat dipenuhi melalui air susu ibu (ASI), sedangkan
untuk usia enam bulan ke atas ditambah makanan pendamping ASI, seperti nasi tim
atau makanan yang lembek. "Jika kondisinya tidak memungkinkan, makanan
pendamping ASI dapat diganti susu kedelai, tetapi yang menjadi masalah tidak
mudah mendapatkan susu kedelai ini," kata dia.
Saat bayi memasuki usia tujuh bulan, kata dia,
produksi ASI biasanya mengalami penurunan sehingga perlu ada makanan
pendamping. Menurut dia, harga susu kedelai jauh lebih murah daripada susu
sapi. Tetapi jika tidak memungkinkan untuk mendapatkannya ada alternatif lain
dengan menggunakan protein nabati yang berasal dari tempe
dan tahu. "Saat bayi berusia 7 bulan ke atas dapat diperkenalkan dengan tempe
dan tahu yang dihaluskan dahulu," kata dia. Ia mengatakan, sumber protein
nabati dari kacang-kacangan dapat digunakan sebagai alternatif kebutuhan
protein yang relatif mudah dan murah dibanding dengan lainnya. Menurut dia,
yang terpenting saat ini adalah penyajian menu seimbang yang memenuhi kebutuhan
karbohidrat, kalori, protein, vitamin dan mineral. "Susu merupakan bagian
dari protein, sehingga tanpa susu pun sebenarnya tidak menjadi masalah, selama
menunya seimbang," kata dia. Dia mengatakan, mengkonsumsi susu merupakan
cara termudah untuk memenuhi kebutuhan protein karena siap saji, kandungan
proteinnya sudah pasti dan mudah diserap.
Menurut dia, protein hewani (susu) lebih mudah
diserap dibanding protein nabati (tahu dan tempe).
"Sebagai gambaran, zat besi dari hewani dapat diserap sekitar 20-30%,
sedangkan dari nabati hanya dapat diserap sekitar 2-10%," kata dia. Ia
mengatakan, justru yang dikhawatirkan dampak dari kenaikan harga susu adalah
mengurangi takaran susu yang akan dikonsumsi bayi dengan melakukan pengenceran.
"Misalnya yang biasanya 20 gram menjadi lima
gram untuk satu gelas, yang penting putih saja. Ini justru yang
dikhawatirkan," kata dia.
Abstrak lain tentang Air Tajin Tidak Dapat Menggantikan Susu