Merokok memang sudah menjadi kebiasaan dan gaya
hidup masyarakat, walaupun secara terbuka banyak pihak memperingatkan
bahayanya termasuk dari pemerintah maupun produsen
rokok. Cara
untuk menikmati asap rokok pun kini semakin beragam misalnya
dengan menggunakan
sisha atau
hookah yang berasal dari negara Timur Tengah.
Kata sisha/hookah sendiri berasal bahasa Persia
yang memiliki arti gelas piala. Makna hookah maupun shisha sama-sama mengacu
pada bentuk, cara
menghisap, sekaligus kandungan air sebagai penyaringnya.
Banyak anggapan bahwa kandungan air yang digunakan dalam hookah/sisha berfungsi
sebagai filter penyaring racun yang membahayakan. Tak heran bila kebiasaan
menghisap hookah pun menjadi pilihan anak muda masa kini ketimbang
menghisap rokok yang dikenal mengandung racun berbahaya.
Riset yang
dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association
ini memang hanya meneliti satu jenis gas beracun saja. Sehingga
mustahil untuk membandingkan secara langsung dampak penggunaaan sisha dengan
asap rokok.
Sisha, yang hampir serupa dengan bong yang digunakan mengisap marijuana,
memang sangat populer dalam beberapa tahun
terakhir. Di banyak kota,
kini banyak berdiri bar-bar menyediakan sisha sehingga
memicu ketertarikan pengunjung untuk mencoba
menghisap pipa berbentuk unik tersebut. Pengguna biasanya menghisap
asap tembakau dari sisha setelah asap tersebut melewati
gelembung air, proses
yang dianggap sebagai filterisasi racun tembakau.
Untuk membuktikan kandungan racun pada sisha, Hammond melibatkan
27 mahasiswa yang biasa menghisap sisha selama
satu jam dalam tiga malam yang berbeda pada April 2006. Lima
mahasiwa lain yang tidak memakai hookah juga dilibatkan dalam
riset. Tetapi mereka harus tinggal bersama di ruangan
saat para mahasiswa mengisap sisha.
Partisipan sebelumnya harus terbebas dari sisha selama 84 jam
sebelum riset dilakukan. Kemudian, partisipan penghisap pipa yang
didalamnya mengandung air serta 10 gram tembakau Al Fakher mu’assal
tobacco yang dipanaskan menggunakan arang.
Rata-rata kandungan karbon monoksida pada partisipan mencapai
42 ppm, lebih tinggi ketimbang yang ditemukan pada perokok
sigaret (17 ppm). Riset juga menemukan kadar karbon
monoksida meningkat di ruangan tempat partisipan menghisap
hookah dan bahkan bisa mencapai tingkat yang merugikan
kesehatan lingkungan.
"Hookah/sisha mungkin saja tidak akan membuat Anda
mengidap kanker paru-paru, tetapi akan mempengaruhi kesehatan Anda
dengan cara lain," ujarnya. Sementara itu Thomas Eissenberg,
profesor psikologi dari Virginia Commonwealth University yang juga
meneliti penggunaan sisha, mengatakan bahwa risetnya
menunjukkan bahwa menghisap sisha selama 45
menit menghasilkan jumlah tar 36 kali lebih banyak ketimbang
merokok selama lima menit.
Abstrak lain tentang Sisha Sama Buruknya dengan Rokok