Kecerdasan
emosi (
dan
pelayanan
kesehatan)
Kecerdasan emosi
sudah menjadi suatu tolok ukur utama yang dicari oleh perusahaan pada
pegawainya dan sering merupakan karakteristik penentu kesuksesan dalam kerja.
Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mendapatkan dan menerapkan pengetahuan
dari emosi diri dan emosi orang lain agar bisa lebih berhasil dan bisa mencapai
kehidupan yang lebih memuaskan. Dokter dan mahasiswa kedokteran, juga ilmuwan
sudah diakui adalah di antara orang-orang yang paling cerdas di masyarakat
kita. Umumnya mereka menunjukkan kinerja yang hebat sebagai praktisi individual
atau peneliti mandiri. Sebagian di antara mereka mencapai kedudukan sebagai
pemimpin program dan departemen klinik atau ilmu dasar, dekan fakultas
kedokteran, direktur rumah sakit dan sistem kesehatan. Umumnya mereka juga
menunjukkan kinerja yang baik dalam peran kepemimpinannya, tetapi ada juga yang
masih harus berjuang dan ada juga yang gagal. Tampaknya kecerdasan kognitif
bukanlah prediktor yang baik untuk keberhasilan kepemimpinan. Prediktor sukses
yang lebih relevan adalah kecerdasan emosi.
Ada 3 macam kompetensi dalam bidang
kepemimpinan:
ketrampilan teknis, kemampuan kognitif, dan kemampuan
mengombinasikan pemikiran dan emosi yang dikenal sebagai kecerdasan emosi. Kompetensi
teknis dan kognitif yang menentukan kehebatan ilmiah tidak sama
dengan kompetensi yang menentukan kehebatan kepemimpinan.
Ketrampilan
kecerdasan emosi bisa dipelajari. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu
diperhatikan: apabila kita menerapkan pendekatan pelatihan biasa untuk
meningkatkan ketrampilan teknis dan analitis, itu akan gagal. Program
konvensional tidak mencakup faktor-faktor yang membuat sistem limbik (pusat
emosi di otak) belajar dengan cara terbaik, yaitu faktor motivasi, praktek yang
banyak, serta umpan balik. Mengembangkan ketrampilan kecerdasan emosi menuntut
agar orang meninggalkan tingkah laku lama dan mengambil yang baru.
Penelitian mengenai
kecerdasan emosi telah menunjukkan bahwa ketrampilan teknis dan kognitif
hanyalah ketrampilan dasar atau ambang untuk profesi seperti teknik, hukum, dan
kedokteran. Ketrampilan-ketrampilan yang berkaitan dengan kecerdasan
emosilah yang terbukti dapat membedakan antara orang yang berkinerja tinggi dan
yang rata-rata. Model kepemimpinan kedokteran harus didasarkan atas paradigma
baru, bahwa semua dokter, meskipun mungkin dapat kehilangan otonomi atau bahkan
status, sebenarnya adalah pemimpin “tersembunyi” dengan kekuatan terpendam dan
pengaruh yang besar terhadap sistem. Sebagai pemimpin organisasi medis, mereka
bertanggung jawab atas hasil yang diperoleh bersama dengan pegawai perawatan
kesehatan lainnya, juga bersama pasien. Dalam realitas, dokter adalah pemimpin
dari “tim peduli-konsumen”. Akan tetapi, berapa banyak donter yang memandang
dirinya sebagai pemimpin? Jadi, kita harus mengubah paradigma dalam memahami
peran kepemimpinan yang dimainkan oleh dokter. Dan kita harus menyadari bahwa
karakteristik yang membedakan antara pemimpin yang hebat dari yang biasa-biasa
saja tidaklah berasal dari kompetensi teknis dan kognitif melainkan dari
kompetensi emosional serta manajemen hubungan yang lihai. Perubahan paradigma
ini menuntut adanya pergeseran dari model heroik pelatihan medis menuju kepada
model yang didasarkan atas kompetensi emosional, kolaborasi dan kerja tim,
serta pendekatan pendidikan yang mendukung suatu lingkungan dimana orang bisa
menumbuh-kembangkan perasaan penguatan diri. Untungnya, orang dewasa bisa
mengembangkan kemampuan kecerdasan emosi melalui berbagai kegiatan pengembangan
yang berlangsung dalam pelatihan dan pendidikan. Berdasarkan kompetensi ini,
dokter dapat memperbarui perasaan bahwa ia dalam kondisi baik, mendapatkan
kembali pengaruhnya dengan cara sedemikian rupa sehingga kepercayaan orang lain
pun terbarui, meningkatkan hubungan dengan mitra pelayanan kesehatan yang lain
(kolega dan administrator) serta dengan pasien, dan meningkatkan hasil dari
bisnis pokoknya. Di dalam paradigma baru ini, dokter bisa menjadi pemimpin yang
lebih efektif, memaksimalkan pengaruhnya serta kontribusi yang dapat
diberikannya sebagai profesional yang berhubungan dengan seluruh bagian dari
sistem pelayanan kesehatan. Kecerdasan emosi adalah istilah untuk
mendeskripsikan serangkaian kemampuan, kompetensi, dan ketrampilan non-kognitif
yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil menghadapi tuntutan dan
tekanan lingkungan. Oleh karena itu, kecerdasan emosi merupakan faktor penting
dalam menentukan kemampuan seseorang untuk berhasil dalam hidupnya.
Kecerdasan emosi
dewasa ini dipandang sebagai hal yang mendasar untuk bertahan di lingkungan
kerja dan merupakan kemampuan utama dalam kepemimpinan dan manajerial.
Pelayanan kesehatan membutuhkan pemimpin dengan kecerdasan emosi yang tinggi.
Sebagian dari masalah terpenting yang dihadapi oleh masyarakat adalah masalah
yang terkait dengan kesehatan. Administrator kesehatan harus berjuang
memberikan layanan yang berkualitas bagi konsumennya walaupun dengan sumberdaya
keuangan dan manusia yang terbatas. Bagaimana kita bisa memberikan layanan
kesehatan yang baik di saat sebagian besar masyarakat kita tidak mampu
membayar? Pertimbangan bioetika sekitar genetika manusia, perlindungan pasien,
serta privasi membutuhkan administrator pelayanan kesehatan yang berwawasan
jauh melampaui kebutuhan jawaban seketika dan memahami kemungkinan dampak
jangka panjang terhadap individu. Agar kita bisa memiliki kepekaan terhadap isu
yang sangat manusiawi ini dan menanggapinya secara efektif dibutuhkan adanya
pemimpin dengan kecerdasan emosi yang tinggi.
Ringkasan
Kecerdasan umum
terdiri atas kecerdasan kognitif atau intelektual, yang diukur dengan IQ, dan
kecerdasan emosi yang diukur dengan EQ. Orang yang dapat berperan dengan baik,
berhasil, dan sehat secara emosi adalah yang memiliki kecerdasan emosi cukup
tinggi serta skor EQ yang rata-rata atau di atas rata-rata. Semakin tinggi skor
EQ, semakin positif prediksi bahwa pemiliknya akan mendapatkan keberhasilan
umum dalam menghadapi tuntutan serta tekanan lingkungan. Sebaliknya,
ketidakberhasilan dan adanya masalah emosional merupakan fungsi dari besarnya
kelemahan kecerdasan emosi. Skor EQ, kalau dipadukan bersama skor IQ, akan
memberikan indikasi yang lebih baik mengenai kecerdasan umum seseorang dan
karenanya memberikan indikasi yang lebih baik mengenai potensi seseorang untuk
berhasil.
Abstrak lain tentang Kecerdasan emosi