Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Virtual Reality

oleh: Louchan     Pengarang : Louchan
ª
 
When Virtual Violent Became Reality Dua orang pemuda remaja, Dylan dan Eric, sangat menikmati game kekerasan yang mereka mainkan, dan mereka mengakui bahwa permainan inilah yang mendasari tindakan kekerasan yang mereka lakukan di sekolah mereka pada bulan April 1999 di Columbine High School, Colorado. Dalam game yang mereka adaptasi dari DOOM tersebut, menurut mereka, terdapat dua orang jagoan menembaki orang-orang lain di sekitar mereka, yang tidak dapat membalas tembakan mereka. Dan itulah yang mereka terapkan terhadap teman-teman sekelas mereka yang tidak bersalah. Watch what your kids are playing. Video Game, sudah menjadi mainan umum bagi anak-anak dewasa ini. Para produsen mainan saat ini saling bersaing menciptakan konsol-konsol yang lebih canggih dari yang pernah ada sebelumnya. Begitu juga dengan game yang diciptakan, teknologi visual grafis yang terus berkembang menjadikan tokoh-tokoh game yang dimainkan saat ini semakin lama semakin mirip dengan wujud asli. Akibat perkembangan ini, game-game kekerasan yang dulunya hanya berupa kartun-kartun kecil lucu yang saling bertarung sekarang menjadi sosok-sosok sadis berdarah dingin di layar video yang dimainkan. Para orangtua mungkin mengira bahwa permainan anak mereka yang membuat mereka tahan berlama-lama diam di rumah hanya duduk sambil bermain video game itu merupakan kegiatan yang aman dan tidak akan membuat pusing mereka dibandingkan dengan anak-anak lain yang bergaul dengan bebas di luar sana. Namun dugaan mereka ternyata salah besar. Pada suatu riset yang dilakukan pada 2000 sukarelawan menunjukkan bahwa permainan video game yang berbau kekerasan dapat memacu tingkat agresifitas dan perilaku yang kasar pada pemainnya. Studi lain dilakukan oleh University of Missouri-Columbia yang secara khusus memonitor aktifitas otak dari 39 pemain game juga menunjukkan hal yang sangat menarik. Para peneliti tersebut mengukur sejenis aktifitas otak yang disebut respon P300, yang menunjukkan pengaruh terhadap emosional yang diperoleh dari sebuah gambar visual atau image. Ketika ditunjukkan gambar yang menunjukkan kekerasan nyata, orang-orang yang memainkan game kekerasan ini menunjukkan reaksi P300 yang kurang. Namun saat ditunjukkan gambar yang cukup mengganggu, seperti kematian hewan atau anak-anak yang sakit, mereka memberi respon yang biasa saja. Ketika mereka diberi kesempatan untuk menghukum lawan mereka yang berupa sosok imajinasi, mereka yang memiliki reaksi P300 paling kurang, memberi hukuman yang paling berat. Why Visual Violent Media can Affect Behavior? Mengapa grafis visual dapat mempengaruhi kepribadian agresif seseorang? Hal ini mungkin banyak menimbulkan pertanyaan publik. Mereka menjelaskan bahwa media yang menayangkan kekerasan, apalagi game yang tokoh pelaku kekerasannya dikontrol atau diambil alih kendalinya oleh seorang gamer, mengajarkan seseorang bagaimana menjadi agresif, dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang agresif seperti menyerang, menyiksa, ataupun menghukum lawan, seperti yang diperlihatkan pada layar videonya. Untuk membantu monitor para orangtua, sebaiknya beberapa game-game yang cukup sadis berikut ini diperhatikan pengaruhnya bagi anak-anak, bahkan bagi remaja yang sudah cukup dewasa dan kuliah sekalipun: Manhunt: Dalam game ini, pemain dipaksa untuk bertahan hidup dengan menggunakan segala alat sehari-hari yang dapat ditemukan di sekitarnya untuk melakukan pembunuhan. Dan menjadi lebih parah saat mereka bergumul dengan lawannya dimana pembunuhan mereka dilakukan dari menggunakan kantong plastik untuk membuat lawan mereka berhenti bernafas sambil menyaksikan penderitaan lawan tersebut sampai mati. Atau upaya darah dingin mereka untuk menghentikan detak jantung lawan hanya dengan benda sesederhana pecahan kaca. Resident Evil: Sangat mudah untuk memperoleh adegan-adegan mayat yang cukup mengenaskan, dimana pada awal permainan saja, pemain dapat menyaksikan mayat seorang wanita yang tertancap di dinding oleh garpu panjang di wajahnya. GTA (Grand Theft Auto): Pemain bekerjasama dengan anggota geng untuk mendapat kehormatan. Misi-misinya antara lain membunuh, merampok, melakukan perusakan dalam segala tingkatan. Tokoh tersebut memperoleh kembali staminanya setelah mengunjungi pelacur, dan mendapat uang dengan memukuli orang sampai mati lalu mengambil uangnya. God of War: Pemain dapat menghabisi lawan dengan jurus-jurus akhir mematikan yang dapat membelah tubuh lawan menjadi dua. Pertumpahan darah juga tidak jarang ditemui dalam game ini. Masih banyak game lain yang cukup sadis beredar tanpa terkendali, seperti Thrill Kill, misalnya, peluncurannya dibatalkan karena adegan di dalamnya terlalu sadis, dimana mutilasi menjadi hal biasa di dalamnya. Lalu ada lagi Mortal Kombat, Killer 7, 50 cent: Bulletproof, dan masih banyak game kekerasan lainnya. Studi ini seharusnya dapat diperhatikan para orangtua untuk mulai mengawasi apa yang dimainkan oleh anak-anak mereka pada layar video game. Dan mungkin mereka dapat menyelamatkan terjadinya peristiwa penembakan yang berikutnya. (lc)
Diterbitkan di: 28 September, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.