When Virtual Violent Became Reality
Dua orang pemuda remaja, Dylan dan Eric, sangat
menikmati game
kekerasan yang
mereka mainkan, dan mereka mengakui bahwa
permainan inilah yang mendasari tindakan kekerasan yang mereka lakukan di
sekolah mereka pada bulan April 1999 di Columbine High School, Colorado. Dalam
game yang mereka adaptasi dari DOOM tersebut,
menurut mereka, terdapat dua orang jagoan menembaki orang-orang lain di sekitar
mereka, yang tidak
dapat membalas tembakan mereka. Dan itulah yang mereka terapkan
terhadap teman-teman sekelas mereka yang tidak bersalah.
Watch what your kids are playing.
Video Game, sudah
menjadi mainan umum bagi
anak-anak dewasa
ini. Para produsen mainan saat ini
saling bersaing menciptakan konsol-konsol yang lebih canggih dari yang pernah
ada sebelumnya. Begitu juga
dengan game yang diciptakan, teknologi visual grafis
yang terus berkembang menjadikan tokoh-tokoh game yang dimainkan saat ini semakin
lama semakin mirip dengan wujud asli.
Akibat perkembangan ini, game-game kekerasan yang
dulunya hanya berupa kartun-kartun kecil lucu yang saling bertarung sekarang
menjadi sosok-sosok sadis berdarah dingin di layar video yang dimainkan.
Para orangtua mungkin mengira bahwa permainan anak
mereka yang membuat mereka tahan berlama-lama diam di rumah hanya duduk sambil
bermain video game itu merupakan kegiatan yang aman dan tidak akan membuat
pusing mereka dibandingkan dengan anak-anak lain yang bergaul dengan bebas di
luar sana.
Namun dugaan mereka ternyata salah besar.
Pada suatu riset yang dilakukan pada 2000 sukarelawan
menunjukkan bahwa permainan video game yang berbau kekerasan dapat memacu
tingkat agresifitas dan perilaku yang kasar pada pemainnya.
Studi lain dilakukan oleh University of
Missouri-Columbia yang secara khusus memonitor aktifitas otak dari 39 pemain
game juga menunjukkan hal yang sangat menarik.
Para peneliti tersebut mengukur sejenis aktifitas otak
yang disebut respon P300, yang menunjukkan pengaruh terhadap emosional yang
diperoleh dari sebuah gambar visual atau image.
Ketika ditunjukkan gambar yang menunjukkan kekerasan
nyata, orang-orang yang memainkan game kekerasan ini menunjukkan reaksi P300
yang kurang.
Namun saat ditunjukkan gambar yang cukup mengganggu,
seperti kematian hewan atau anak-anak yang sakit, mereka memberi respon yang
biasa saja.
Ketika mereka diberi kesempatan
untuk menghukum lawan
mereka yang berupa sosok imajinasi, mereka yang memiliki reaksi P300 paling
kurang, memberi hukuman yang paling berat.
Why Visual Violent Media can Affect Behavior?
Mengapa grafis visual dapat mempengaruhi kepribadian
agresif seseorang? Hal ini mungkin banyak menimbulkan pertanyaan publik.
Mereka menjelaskan bahwa media yang menayangkan
kekerasan, apalagi game yang tokoh pelaku kekerasannya dikontrol atau diambil
alih kendalinya oleh seorang gamer, mengajarkan seseorang bagaimana menjadi
agresif, dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang agresif seperti menyerang,
menyiksa, ataupun menghukum lawan, seperti yang diperlihatkan pada layar
videonya.
Untuk
membantu monitor para orangtua, sebaiknya beberapa game-game yang cukup sadis
berikut ini diperhatikan pengaruhnya bagi anak-anak, bahkan bagi remaja yang
sudah cukup dewasa dan kuliah sekalipun:
Manhunt: Dalam game
ini, pemain dipaksa untuk bertahan hidup dengan menggunakan segala alat sehari-hari
yang dapat ditemukan di sekitarnya untuk melakukan pembunuhan. Dan menjadi lebih
parah saat mereka bergumul dengan lawannya dimana pembunuhan mereka dilakukan
dari menggunakan kantong plastik untuk membuat lawan mereka berhenti bernafas
sambil menyaksikan penderitaan lawan tersebut sampai mati. Atau upaya darah
dingin mereka untuk menghentikan detak jantung lawan hanya dengan benda
sesederhana pecahan kaca.
Resident Evil: Sangat mudah
untuk memperoleh adegan-adegan mayat yang cukup mengenaskan, dimana pada awal
permainan saja, pemain dapat menyaksikan mayat seorang wanita yang tertancap di
dinding oleh garpu panjang di wajahnya.
GTA (Grand Theft Auto): Pemain
bekerjasama dengan anggota geng untuk mendapat kehormatan. Misi-misinya antara
lain membunuh, merampok, melakukan perusakan dalam segala tingkatan. Tokoh
tersebut memperoleh kembali staminanya setelah mengunjungi pelacur, dan
mendapat uang dengan memukuli orang sampai mati lalu mengambil uangnya.
God of War: Pemain dapat
menghabisi lawan dengan jurus-jurus akhir mematikan yang dapat membelah tubuh
lawan menjadi dua. Pertumpahan darah juga tidak jarang ditemui dalam game ini.
Masih
banyak game lain yang cukup sadis beredar tanpa terkendali, seperti Thrill
Kill, misalnya, peluncurannya dibatalkan karena adegan di dalamnya
terlalu sadis, dimana mutilasi menjadi hal biasa di dalamnya. Lalu ada lagi Mortal
Kombat, Killer 7, 50 cent: Bulletproof, dan masih banyak game kekerasan
lainnya.
Studi ini seharusnya dapat diperhatikan para orangtua
untuk mulai mengawasi apa yang dimainkan oleh anak-anak mereka pada layar video
game. Dan mungkin mereka dapat menyelamatkan terjadinya peristiwa penembakan
yang berikutnya. (lc)
Abstrak lain tentang Virtual Reality