Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Gaya Hidup>Rumah & Kebun>Kebun Cantik Di Lahan Sempit

Kebun Cantik Di Lahan Sempit

oleh: t1nez     Pengarang : Majalah Intisari Februari 2012
ª
 
Kepingin bercocok tanam di tempat tinggal, tapi lahan terbatas? Atau malah tidak ada lahan sama sekali? Mungkin solusinya bercocok tanam secara vertikal. Teknik ini tidak membutuhkan lahan yang luas, tapi hasilnya berlimpah, bahkan kualitasnya lebih baik. Ada beberapa istilah populer untuk metode ini seperti vertical farming, vertical gardening atau green wall. Masing-masing istilah punya ciri tersendiri, meski intinya adalah bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan secara efisien dengan teknik penanaman bertingkat atau disebut vertikultur.

Bertani Tegak

Sebenarnya konsep vertikultur sudah ada di Indonesia sejak tahun 1970-an. Waktu itu trennya masih berupa kebiasaan orang untuk menggantung tanaman di pot atau menanam jenis tumbuhan merambat pada tembok rumah. "Biasanya untuk aspek keindahan, belum jadi suatu budaya untuk budi daya tanaman," kata Dr. Yudi Sastro, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jakarta. Sejak 1998, BPTP serius menggarap pertanian vertikal (vertical farming) yang tujuannya menciptakan ketahanan pangan bagi masyarakat Jakarta. dan terong.

Namun ternyata responnya kurang bagus karena membeli sayur-sayuran masih dianggap lebih murah dibandingkan dengan menanamnya. Strategipun diubah. Isunya menjadi soal kesehatan. Menurut Yudi, banyak yang tidak tahu bahwa masyarakat perkotaan, seperti Jakarta, mengonsumsi sayuran dari pertanian yang dikelola secara tidak higienis. Lahan tidak berkualitas, perawatan tidak higienis, atau pemupukan menggunakan pestisida. Tanaman sayur misalnya, bisa saja menyerap bakteri atau racun tertentu dan pada akhirnya dikonsumsi manusia.

Lain ceritanya kalau kita menanam di rumah atau lingkungan sekitar. Dari mulai soal tanah sampai pemupukan bisa diatur sendiri. Kualitas tanaman dan hasilnya bisa terjaga dengan baik dan sehat. Terbukti strategi ini berhasil. MAsyarakat yang gandrung akan segala hal yang berbau-bau kesehatan dan organik, tertarik untuk mencobanya. ?Kombinasi isu kesehatan dan ketahanan pangan ini menjadi sesuatu yang saling melengkapi.

Akarnya harus pendek

Sekitar dua tahun terakhir, vertikultur yang "beraliran" vertical gardening juga mulai naik daun. Ini terutama berkat sosialisasi dari komunitas Indonesia Berkebun yang tak lelah mengembuskannya lewat media sosial. "Sayangnya, konsep berkebun vertikal baru dimaknai sekadar untuk keindahan. Padahal juga ada soal estetis, dan ada tujuan lingkungan dan fungsinya," tutur Nadine Zamira, salah seorang pegiat di Indonesia Berkebun. Mengingat lahan yang terbatas, tentu saja kebun semacam ini mensyaratkan tanaman jenis tertentu. Misalnya tanaman berakar pendek dan tidak berkayu, seperti paku-pakuan, homalolema, suji (dracaena). Kalau ingin taman yang terlihat warna-warni, tanaman philodendron bisa jadi tambahan. Dengan warna daunnya yang beragam; kuning, jingga atau merah, dijamin kebun anda tampak makin cantik.

Dalam skala individu, berkebun di rumah setidaknya punya beberapa manfaat. Penghuni akan merasakan suasana yang lebih sejuk karena tanaman menyerap karbondioksida. Tanaman juga akan menyerap debu dan radiasi yang berasal dari benda-benda yang mengandung elektromagnetik. "Kalau dilakukan secara kolektif, kebun vertikal ini dapat meningkatkan kualitas udara serta meningkatkan keindahan kota," jelas Nadine yang juga konsultan gaya hidup hijau untuk perkotaan.
Diterbitkan di: 17 Juli, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.