Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Gaya Hidup>Makanan & Minuman>Jamu: berkah peradaban jawa yang harus kita syukuri

Jamu: berkah peradaban jawa yang harus kita syukuri

oleh: raindradinata    
ª
 

Orang Jawa yang terkenal lemah lembut, tepa seliro, kaya produk budaya, serat, babad, syair, kebudayaan, adat, mistik dan klenik, yang terkadang musyrik itu, kita nikmati juga produk kebudayaannya. jauh sebelum booming herbal 2-3 tahun belakangan, jamu sudah lebih dahulu diproduksi, dijual dan dinikmati masyarakat luas. Bukan saja karena khasiatnya terasa tak kurang dari obat kimia, tetapi karena berkah ekonomi karena produksi massif obat herbal tradisional ini turut dinikmati baik oleh para pekerja pabrik, petani, agen, pengecer, dan orang-orang yang menderita berbagai macam penyakit.

Si kuda besi (sepeda motorku) singgah parkir di salah satu kios jamu di Jalan Nusantara Depok malam itu. Cuaca lembab agak panas. Angin sepoi-sepoi.

Tampaklah olehku aneka warna kemasan jamu dari puluhan produsen berjejer-jejer memenuhi seisi dinding dan meja hidang. Paling banyak adalah jamu dengan gambar Bima bersedekap. Bima sesungguhnya adalah seorang pria yang ketinggalan jaman karena masih telanjang dada dan memakai blangkon. Namun badannya kekar dengan kumis baplang dan kuku panjang laksana taji ayam jago.

Berjejer pula berbagai merek jamu ‘kuat lelaki’ yang mayoritasnya bergambar perempuan yang tampak kecapean dan sepertinya ingin lekas-lekas tidur.

Yang lain gambarnya cukup mencengangkan. Yaitu perempuan sedang duduk mengangkang dengan pose membelakangi orang yang memandang.

Merek yang lain lebih vulgar, karena ada gambar laki-laki dan perempuan dalam posisi yang tidak sepantasnya.

Selain gambar-gambar tadi, ilustrasi lain yang lazim digunakan adalah gambar kuda meringkik atau pria berotot yang sedang mengencangkan urat-urat ototnya.

Dari segi merek, jamu-jamu kuat lelaki juga tak kalah unik. Misalnya ada jamu merek “Galax” seakan-akan soal “begituan” ada hubungannya dengan emosi; atau merek “Jakarta – Bandung” seolah-olah soal itu adalah urusan trayek bus antar propinsi.

Milik Bangsa

Tadinya kupikir hanyalah orang Jawa yang gila jamu, ternyata perkiraanku kali ini meleset. Seperti halnya sepak bola, jamu sudah jadi milik bangsa. Buktinya, para pedagang jamu tidak mesti orang Jawa, banyak pula dari keturunan Arab dan Cina. Bahkan pemilik salah satu produsen jamu terbesar adalah Warga Negara Indonesia keturunan Cina. Benar! Ialah Jaya Suprana, owner Perusahaan Jamu Djago.

Peranan Jawa selaku pusat dari segala dinamika nasional sejak dahulu memang sudah tidak lagi diragukan. Kelengkapan peradaban Jawa, dapat ditelisik mulai dari tata negara, adat istiadat, sastra, etika, dan estetika. Tidak seperti bahasa Jakarta yang egaliter, orang Jawa punya bahasa bertingkat tiga. Kalau sudah akrab dan asik bergaul gunakanlah bahasa Jawa Ngoko. Kalau mau agak formal dan sedikit berjarak, pakailah kromo madyo. Dan kalau mau jadi yang paling sopan dan beradab bicaralah dengan memakai langgam bahasa kromo inggil. Orang yang bisa bertutur kromo inggil akan dipandang sebagai orang yang punya tata krama dan kepribadian yang tinggi.

Selain itu, kemanapun kau melancong, dari Aceh sampai Merauke, dari New York sampai Suriname, hanyalah orang-orang Jawa yang kelak kau jumpai! Mereka adalah para perantau dan pekerja keras, bangsa yang lembut sekaligus juga ulet dalam bekerja. Nusantara pernah tunduk bersatu di bawah Majapahit, kerajaan Jawa di bawah Hayam Wuruk. Wali Songo yang mitis-legendaris itu hanyalah ada di Pulau Jawa. Borobudur yang konon merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia juga “hanya” terdapat di Pulau Jawa.

Yang mampu mengimbangi Majapahit secara historis hanyalah Sriwijaya. Sehingga, secara gampangan bisa kita simpulkan bahwa “tandem” Jawa dalam dominasi sosial politiknya di Nusantara adalah Sumatera.

Semasa mahasiswa, pernah kutelan mata kuliah adat istiadat Jawa yang isinya tak lebih dari pembahasan ritual-ritual adat yang merepotkan dan boros dana. Pengajarnya adalah seorang perempuan yang menjadi doktor lantaran membahas tetek bengek ritual nini towok.

Meskipun sebagian istiadat Jawa sudah banyak yang ditinggalkan, lantaran nyata—nyata bertabrakan dengan rasionalitas, efisiensi, dan puritanisme agama, dalam hal obat-obatan alami produk peradaban Jawa dapat disejajarkan dengan obat-obatan dari Cina dan India, yang merupakan dua kebudayaan dunia terbesar.

Jamu

Jamu-jamuan, selain Puskesmas, masih sangat dibutuhkan masyarakat. Bagaimana tidak? Hanya dengan beberapa ribu rupiah, keluhan sakit hilang seketika. Sakit pinggang lantaran terlalu lama duduk bekerja di depan komputer sembuh hanya dengan menenggak dua bungkus jamu gempur batu. Masuk angin yang menyiksa sirna setelah menyeruput jamu tolak angin lengkap dengan beras kencur, pil ginseng, serbuk jahe, dan madu. Ancaman darah tinggi karena kurang istirahat juga mengendur setelah minum dua tiga bungkus jamu tensi darah. Solusi kesehatan yang benar-benar murah dan memuaskan!

Namun gejala gila jamu memang telah kusaksikan jauh sebelum ini. Definisi penggila jamu adalah seseorang yang menganggap sesuatu yang bukan jamu sebagai jamu. Misalnya, empedu kambing, yang pasti pahit rasanya, ditelan mentah-mentah karena dianggap jamu. Obat kimia yang ditumbuk seperti puyer dan diberi nama “Jamu Cilacapan” juga digandrungi masyarakat.

Jamu jenis ini bisa menyembuhkan mulai dari sakit gigi, asam urat, pegal linu, dan aneka penyakit lain yang mustahil disembuhkan dengan satu macam obat dokter. Padahal kandungannya tak lebih dari kimia obat pereda nyeri yang dicampur dengan sedikit herbal. Orang yang sakit, mungkin karena sugestinya, banyak yang merasa cocok dan ketagihan. Padahal jamu semacam ini sudah dilarang pemerintah karena sangat berbahaya bagi kesehatan.

Ada pula produsen jamu yang menjual cairan yang di dalamnya direndam janin anak rusa (yang sudah mati dan diawetkan). Parah! Sebab, orang yang meminum “jamu” seperti ini sesungguhnya sedang menenggak air bangkai.

Yang dinamakan “jamu” tangkur buaya memang benar-benar menampilkan penis buaya dalam rendaman entah cairan apa. Orang-orang bilang cairan yang warnanya seperti air kencing itu adalah “jamu.” Namun jika engkau tenggak seloki kecil jamu itu, niscaya dada berangsur-angsur panas. Dan aroma cat semprot dicampur bensin segera merasuk ke lubang hidung, naik ke kepala. Demi Allah, itu bukan jamu!

Penutup

Jamu adalah sumbangsih Jawa bagi dunia, selain batik (yang konon sudah dipatenkan Malaysia) dan tempe (yang dipatenkan Jepang). Meminum jamu awalnya pahit laksana jadam, namun akhirnya manis laksana madu! Simpulannya: ayo minum jamu!


Diterbitkan di: 06 Februari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.