Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Gaya Hidup>Mode & Kecantikan>Konstruksi sosial tentang kecantikan

Konstruksi sosial tentang kecantikan

oleh: RizqiLancar     Pengarang : Anggun Kurnia Widhiarti
ª
 
Abstrak :
Penelitian ini berawal dari rasa ketertarikan
peneliti dalam melihat realitas, bahwa wanita dengan kebutuhannya dijaman modern ini semakin merebak
terutama dalam hal kecantikan. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya fasilitas kecantikan dan
inovasi yang muncul untuk menunjang usaha wanita dalam mempercantik diri akibat konstruksi sosial
yang muncul terhadap deskripsi wanita cantik. Sehingga terlihat bahwa wanita dijaman modern ini,
memiliki banyak tuntutan terhadap dirinya dan cenderung mengekploitasi diri dengan fasilitas kecantikan
yang menawarkan berbagai macam produk baik yang dimulai dengan berteknologi tinggi dan tradisional,
baik yang dapat dipertanggungjawabkan maupun yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dari
segi keamanan dan kenyamanannya. Terutama pada wanita bekerja yang harus berhadapan dan
berinteraksi dengan customer atau rekan kerjanya, yang
memberikan peluang lebih besar terhadap kebutuhan yang kompleks sebagai symbol aktualisasi diri,
pertahanan diri untuk meningkatkan prestise sosial dan ekonomi.
Masalah yang dikaji dalam penelitian ini tentang konstruksi sosial n wanita bekerja terhadap kecantikan di
Surabaya yang dianalisis melalui teori Interaksionalisme Simbolik dan Looking Glass Self dari Charles
Horton Cooley. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui informasi yang diperoleh
dari enam informan wanita yang berkarier di Surabaya pada bidang yang berbeda-beda untuk
mendapatkan informasi yang bervariasi. Teknik penentuan informan menggunakan teknik snowball, yaitu
informan yang dipilih sesuai dengan kriteria tertentu. Sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui
observasi, depth interview dan penelusuran melalui artikel. Data para informan itulah yang akan dikaji
melalui proses pemetaan (mapping) yang kemudian dianalisis melalui serangkaian metode dan penelitian
kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita bekerja dapat mengkonstruksikan kecantikan berdasarkan
teori yang dimiliki Charles Horton Cooley, melalui proses Interaksionalisme Simbolik dan Looking Glass
Self
yang menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda tentang lingkungan yang paling berpengaruh dalam
mengkonstruksikan kecantikan. Meskipun menjadi wanita bekerja, ternyata tidak semua lingkungan
ditempat kerja itu menjadi inspirasi, tempat terdekat ataupun tempat yang paling berpengaruh terhadap
pola pikir mereka. Melainkan juga lingkungan lain seperti, keluarga, pendidikan, tetangga, teman dekat.
Hal tersebut tergantung pada segi intensitas bertemu dan berkumpul pda lingkungan tersebut, maupun
kesadaran akan kebutuhan dan manfaat yang sesuai dengan yang diinginkannya. Lingkungan tersebut
tidak hanya menjadi pola pikir saja namun juga menjadi inspirasi untuk menjadi sosok yang
dipikirkannnya. Terutama dengan adanya interaksi dengan orang lain yang secara tidak langsung menilai
diri individu dan menyampaikannya pada individu tersebut.
Diterbitkan di: 27 Februari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.