Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Gaya Hidup>Keluarga & Relasi>Pentingnya komunitas seiman dan sepanggilan

Pentingnya komunitas seiman dan sepanggilan

oleh: AdrianusBai    
ª
 
KOMUNITAS PERGAULAN

“Katakan siapa sahabat anda, maka saya bisa mengatakan siapakah anda.” “ Kita akan menjadi seperti sahabat kita”

Persahabatan adalah proses yang mengubah hidup kita Jika kita terus menerus setia bergaul dengan Tuhan perlahan-lahan kita akan benar-benar menjadi sahabatNya. Bila kita menjadi sahabatNya kita juga akan menjadi semakin mirip Dia, sebagaimana kita memang diciptakan sebagai citraNya (Kej 1:27). Kita juga mengalami hal ini dari hidup kita sehari hari. Pergaulan sangat besar pengaruhnya dalam mengubah hidup kita, bahkan kepribadian kita. Karena itu kita perlu memilih benar-benar sahabat kita. Kita memang tak bisa menjadi sahabat Tuhan yang begitu mulia dari kemauan kita sendiri, namun Tuhan Yesus sudah mengulurkan tangan untuk menjadi sahabat kita dengan menjadi sesama kita. Dan Yesus mau menjadi sahabat bukan hanya bagi para pertapa, rohaniwan, biarawan-wati tapi bagi siapa saja, juga bagi kaum awam yang sehari hari bergulat di dunia. Karena itu pergaulan dan persahabatan kita dengan Yesus juga tak hanya pada waktu doa, namun juga di tengah kesibukan kita sehari-hari. Dengan demikian persahabatan kita dengan Dia akan sungguh mengubah hidup dan karya kita di dunia.

Pentingnya komunitas seiman dan sepanggilan

Bila kita ingin semakin akrab dengan Tuhan Yesus, selain lewat Kitab Suci, kita juga perlu bergaul di tempat Dia berada, yakni di kalangan sahabat-sahabatNya, sesama umat beriman yang mendengarkan sabda Tuhan dan melakukannya, yang disebut Yesus bukan hanya sahabat, namun ibu dan saudara-saudariNya (Luk 8:21). Kita memang harus bergaul dengan siapa saja, namun kita perlu menjalin persahabatan dengan saudara-saudari seiman. Pembentukan karakter dan nilai-nilai kita sangat dipengaruhi oleh sahabat dekat kita, seperti ditulis seorang istri: “Setelah kesadaran saya akan Yesus bertumbuh dan cinta(umat)Nya mulai memberi hidup saya, maka terjadi perubahan yang paling besar dalam hubungan saya dengan suami saya. Saya jatuh cinta lagi padanya, setelah 15 tahun kehidupan perkawinan! Dan terjadilah apa yang saya sangat rindukan dan cita-citakan selama ini.” Dalam dunia dewasa ini dengan begitu banyak tawaran yang tak seluruhnya baik dan sesuai dengan iman dan panggilan kita, kita butuh komunitas seiman dan sepanggilan yang saling meneguhkan. Bukan komunitas yang eksklusif, tapi komunitas yang menjadi dasar kita untuk menjalani hidup ini sesuai dengan iman dan misi kita. Seperti sinyalemen Timothy Radcliffe ini: ”Mungkin salah satu alasan mengapa Keristenan sering dipandang tidak menarik adalah karena kita hidup di dalam masyarakat yang kurang menghargai kebenaran” Dalam hidup kita sehari hari, kita sendiri merasakan kebenaran sinyalemen itu dalam hidup kita sehari-hari. Yesus bahkan sudah mengatakannya:”Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari Lih Jess.S. Brena, Spiritualitas Awam Zaman Sekarang, tjmhn Komisi Kerawam KWI 1990 di sini ditegaskan Yesus juga “awam” yang sehari hari hidup di dunia hlm 50: “Sebagai seorang awam, Yesus dekat dengan rakyat jelata.... Ia dekat dengan orang miskin, tetapi Dia juga bergerak dengan kelas sosial yang lebih tinggi ... Ia menyadari penderitaan orang lain, penindasan orang Romawi, sistem perpajakan yang sewenang-wenang, ketidakberdayaan rakyat ...”

kan :s i,��:�kedar membaca, tapi masuk dalam “peristiwa Yesus” itu.

1. Ambillah suatu perikop injil, misalnya: Lewi pemungut cukai mengikut Yesus (Luk

5:27-32).

2. Bacalah dengan teliti, siapa saja yang terlibat dalam kisah itu, bagaimana sikap

mereka masing-masing?

3. Gunakan imajinasimu untuk hadir dalam peristiwa itu. Atau identikkan dirimu

pada salah seorang yang terlibat dalam peristiwa itu.

Bagaimana kamu memahami Yesus dan sikapnya?

Diterbitkan di: 01 Oktober, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.