Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kekudusan

oleh: Brostito     Pengarang : Brostito
ª
 
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; line-heigh t:115%; font-size:11.0pt; font-family:" Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:"TimesNew Roman";}

Sebelum saya membahas point-point yang tadik saya sebutkan di atas saya, akan mencoba bercerita mengenai gambaran dosa.Pewahyuan ini saya dapat ketika sedang lari sore setahun yang lalu.Saya adalah seorang pelari saya sanggat mengerti prinsip-prinsip yang baik bagaimana saya harus berlari dan bagaimana saya harus disiplinkan hidup saya. Bagaimana saya harus mengatur jadwal kehidupan saya mulai dari bangun sampai, jadwal latihan dan belajar. Waktu adalah emas bagi seorang pelari, hampir 8 (delapan) tahun saya menjajaki kehidupan sebagai pelari.Dan seringkali saya menemukan dan merenungkan banyak pewahyuan yang Roh Kudus bukakan ketika sedang berlari.

Tahun 2009 sekitar 2 tahun yang lalu, saya mengikuti program latihan untuk persiapan kejurnas dan pekan olah raga daerah atau PORAM. Sore itu adalah sore yang paling mengairahkan dan meyenangkan karena saya begitu bersemanggat untuk latihan.Ditambah lingkungan sore itu yang begitu teduh banyak atlit terlihat bersemanggat mengikuti program latihan. Tambah lagi hembusan angin sore yang hilir mudik dengan lembut.Membuat suasana terasa hidup dengan ketenanggan yang luar biasa.Tampak seorang pria kekar yang berumur sekitar 35 tahun sedang berdiri di pinggir lapangan pajajaran sambil mempersiapan program latihan.

Saya tidak sabar menunggu program apa yang akan beliau berikan untuk saya, setiap program latihan yang beliau berikan untuk saya, saya selalu muntah dan pusing karena patokan waktu yang diberikan membuat saya bersama seorang partner saya harus berjuang keras untuk menyelesaikan program latihan yang ada.Program latihan ala militer ini menguras banyak tenaga saya. Meskipun beliau seorang yang berlainan agama dengan saya, tapi beliau memberikan banyak prinsip firman dalam program latihan ini. Setiap strategi program yang beliau rancang memaksa kita untuk berlari di atas rata-rata kemampuan kami. Beliau selalu memacu kami agar memiliki integritas atau standar yang tinggi. Beliau selalu memberikan program untuk setiap anak-anak didikannya keluar dari mediokritas.

Setelah berbagai program latihan yang melelahkan,kita biasannya mengevaluasi sejauh mana standar latihan yang sudah kita jalankan. Lari yang baik dan benar tidak semudah yang yang dipikir dan dibayangkan kebanyakan orang.Setelah latihan sori itu, saya kembali jogging untuk pulang dari pajajaran tempat dimana saya biasanya latihan. Ketika menyusuri jalanan sore itu, langit mulai tampak gelap lampu jalanan mulai dinyalakan disepanjang jalan Pasteur dan jalan djundjunan.” Saat sedang menikmati jogging, tiba-tiba saja saya tersentak, dengan suara dari hati saya yang jelas.” Suara dari hati saya yang begitu jelas itu, coba menuntun saya untuk memperhatikan tumpukan sampah di depan Tanih suggih tempat penjualan alat-alat pertanian. Karena kondisi jalanan yang gelap membuat saya harus teliti memperhatikan tumpukan sampah. Awalnya saya jadi sanggat binggung kenapa saya di gerakan untuk memperhatikan tumpukan sampah itu.Ada apa sebenarnya di tengah tumpukan sampah itu? Ini membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Saya seperti tidak ada kerjaan sajah memperhatikan sekeliling tumpukan sampah yang menumpuk dan begitu baunnya.

Setelah memperhatikan tumpukan sampah itu, ternyata ada seorang bapa yang sedang makan nasi bungkus didekat tumpukan sampah itu. Bahkan bapa ini ternyata, tidur dan tinggal didekat tumpukan sampah itu.”Saya coba memperhatikan, dan sambil bertanya-tanya dalam hati saya.Kenapa bapa ini begitunyaman menikmati makananya dan tidurnya didekat tempat pembuangan sampah .Kondisi ini membuat saya risih sekaligus binggung.

“ Semakin penasaran, untuk tahu alasannya, pada hal itu tempat sanggat bau kotor begitu banyak kuman berkembang biak.Kenapa dia menjadi begitunyaman dan menikmati, dia ngak peduli apapun kondisinnya. Bapa ini menjadi kebal,dengan kondisi sekelilingnnya, kebal terhadap bau,kotoran dan berbagai jenis virus.Sanggat menjijikan berada kurang lebih lima menit membuat saya ngak betah dan menjadi risih.

Tapi ketika saya bergumul dengan berbagai pertanyaang dalam hati dan pikiran saya, sambil melangkah untuk berlari perlahan. Roh Kudus coba bukakan dan gambarkan kehidupan kekristenan yang kompromi dan nyaman dengan sesuatu yang sebenarnya dosa tapi suka dilakukan.Sehingga kita merasa itu sesuatu yangnyaman dan benar adannya.Tanpa sadar hidup kita sama seperti tukang sampah yang makan dan hidup didekat tumpukan sampah itu. Pertama kali kita lakukan dosa terasa enak secara daging, dosa itu mulai masuk dan menanipulasi pandangan kita dan mencoba mengikat kehidupan kita secara perlahan.” Kita mulai bermain-main dengan pornografi, kita mulai hidup di bawah mediokritas, kita mulai melakukan banyak hal tanpa iman. Dan itu semua dosa dalam pandanggannya Tuhan,tapi kita menjadi begitunyaman dan menjadi kebal sampai satu titik dimana kita sulit membedakan mana kehendak Tuhan dan bukan. Kita mengaggap dosa sebagai sesuatu yang kebal dan biasa.

Kekristenan kita ada di ambang kehancuran karena tanpa sadar dosa mengerogoti kehidupan Kekristenan kita.Bahkan ketika kita hidup terlalu berlebihan dalam zona kenyamanan kita itu ternyata dosa juga . Karena kita tidak melakukan apapun.


Diterbitkan di: 05 Juni, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.