Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Mie instant

oleh: indahfth     Pengarang : Konsist
ª
 
Wajar jika mie instan disukai, karena selain praktis, cepat, lezat, dan murah. Namun tahukah anda bahwa mie instan tak mempunyai kandungan gizi yang cukup bahkan zat addiktivenya (tambahan) tidak baik untuk wanita yang tengah hamil dan juga balita.
Mie dalam masyarakat cina merupakan simbol panjang umur, karena bentuknya yang panjang jenis dan bahan pembuatannya bermacam-macam. Ada mie instan, mie kering, mie basah, mie rebus, yang dibuat dari terigu (gandum). Ada juga bihun, yang dibuat dari tepung beras. Lalu soun, yang dibuat dari pati tepung kacang hijau.
Ada juga yang dibuat dari campuran tepung terigu dan beras, tepung tapioka, tepung kentang atau tepung soba. Tapi yang paling populer tentu mie instat, dengan berbagai merk dan citra rasanya. Baik dalam kemasan plastik polietilen maupun polistiren (stirofom), dalam bentuk cangkir atau mangkuk.
Mie instan sebenarnya bentuknya sangan panjang, namum saat pemrosesan digoreng, dan dikeringkan dalam oven panas. Penggorengan inilah yang membuat mie mengandung lemak. Bahan baku utama mi instant memang tepung terigu, namun selama proses pembuatannya, dipakai juga minyak sayur, garam, natrium polifosfat, natrium karbonat, dan kalium karbonat, tartrazine (pewarna kuning).
Bumbu mie, misalnya garam, gula, cabe merah, bawang putih, bawang merah, saus tomat, kecap, vetsin, seta bahan cita rasa, juga banyak menggunakan additive. Belum lagi stirofoam dalam mie cangkir, yang dicurigai bisa menyebabkan kanker.
Meskipun risiko kesehatan akibat additive tak langsung kelihatan, namun ibu hamil sebaiknya menghindari makanan yang banyak mengandung additive. Bagi balita, bahan-bahan yang sebenarnya tak dibutuhkan tubuh ini juga bisa memperlambat kerja organ-organ pencernaan.
Diterbitkan di: 16 Mei, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.