Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Gaya Hidup>Keluarga & Relasi>Budaya Pop dan Identitas Anak Muda (1)

Budaya Pop dan Identitas Anak Muda (1)

oleh: garengpung     Pengarang : Ilham Zoebazary
ª
 
Dunia anak muda selalu menjadi ranah yang tak pernah tuntas untuk didiskusikan. Anak muda adalah sebuah kategori sosial, sebuah subkultur. Setiap subkultur tidak bisa berdiri sebagai teks madiri, melainkan terlibat dalam jaringan konteks yang tidak sederhana. Karena itu untuk memahami subkultur anak muda secara komprehensif kita harus menempatkannya dalam institusi dominan yang melingkupinya (atau menghegemoninya?). Terdapat empat institusi utama yang berada dalam kerangka perbincangan subkultur anak muda, yaitu keluarga, masyarakat, negara, dan industri. Menimbang dominasi keempat institusi tersebut, dalam kaitannya dengan identitas anak muda, kita bisa mempertanyakan, manakah yang paling dominan?

Keluarga memiliki kaitan “terdekat” dengan anak muda. Di dalam institusi sosio-kultural paling mikro inilah dasar-dasar identitas diperkenalkan pada setiap anak muda, sebagai jembatan untuk melintasi masa transisi menuju status “manusia yang sesungguhnya”. Apakah keluarga dalam melaksanakan tugasnya terhadap anak muda bebas dari hegemoni ketiga institusi lainnya? Tampaknya para orang tua merasa kuatir bila anak-anaknya tidak mampu melewati masa transisi dengan baik, lalu memperpanjang durasi proteksi terhadap anak-anak tersebut agar tetap berada di dalam rumah, sebab lingkungan di luar rumah dipersepsi sebagai "dunia jalanan" yang mengancam masa depan anaknya. Di sini jelas ada dikotomi rumah dan luar rumah. Pilihan untuk memperpanjang masa proteksi anak-anak inilah yang kemudian ditangkap sebagai peluang bisnis oleh para pemilik modal untuk menciptakan teknologi/permainan yang hanya asyik jika dilakukan di dalam rumah.

Institusi kedua, yakni masyarakat, menjadi sangat penting bagi persoalan identitas anak muda karena pada diri setiap orang selalu tersimpan collective memory. Apakah institusi ini lebih tunduk pada negara ataukah industri?

Institusi ketiga, negara, adalah institusi sosio-kultural paling makro. Negara memperhatikan anak muda karena berkepentingan untuk menjaga keberlangsungan hidupnya, dan karenanya anak muda dipandang sebagai aset nasional yang berharga. Negara menyadari bahwa investasi untuk menghasilkan peningkatan modal manusia (human capital) harus sudah dilakukan semenjak dini. Tetapi apakah negara menjadi kekuatan paling menentukan bagi pembentukan identitas anak muda? Atau justru dikendalikan oleh industri?

Institusi keempat, industri, sejauh ini belum cukup dihitung sebagai kekuatan dahsyat yang mampu menghegemoni keluarga, masyarakat dan bahkan negara. Seberapa hebatkan industri mempengaruhi proses pembentukan identitas anak muda?

Kalau kita mempercayai adanya jenis budaya tinggi (high culture), yang di sini kita sebut sebagai budaya adiluhung, maka harus ada budaya pembandingnya, yakni budaya yang bukan adiluhung (low culture). Budaya yang bukan adiluhung ini sering dialamatkan pada suatu jenis kebudayaan yang kita kenal sebagai budaya pop. Kata ”pop” merupakan simplifikasi dari kata ”populer”. Definisi istilah ini, menurut Williams (1983), adalah 1) banyak disukai orang; 2) jenis kerja rendahan; 3) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang; 4) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri.

Memahami budaya pop harus dikaitkan dengan konsep ”hegemoni” dari Antonio Gramsci, yang mengacu pada cara di mana kelompok dominan dalam suatu masyarakat memperoleh dukungan dari kelompok subordinasi melalui proses ”kepemimpinan” intelektual dan moral (Gramsci, 1971). Selain itu, budaya pop juga harus dipahami sebagai ”budaya massa”, dan karenanya produk budaya pop harus diasumsikan sebagai produk massal yang diciptakan dengan tujuan memenuhi kebutuhan sebanyak-banyaknya konsumen, dalam kerangka komersial. Para konsumen budaya pop adalah sosok-sosok masyarakat umum, orang kebanyakan yang tak perlu dikenali alias anonim. Dan mayoritas dari mereka itu adalah anak-anak muda!

Sebagian orang beranggapan bahwa anak muda adalah dua kutub yang selalu bikin pusing: “hura-hura” dan “tukang bikin masalah”. Anak muda selalu dikaitkan dengan waktu luang, bersenang-senang, kebebasan, dan semangat pemberontakan. Maka para pemilik modal (yang selalu jeli melihat peluang) segera menciptakan aneka “kebutuhan” anak muda, untuk “eksis dan menjadi diri sendiri”. Meskipun mudah diketahui bahwa mayoritas anak muda belum mampu menghasilkan cukup uang untuk menghidupi diri sendiri, namun mereka tetap dianggap sebagai “pasar” yang sangat potensial. Kita bisa melihat setiap saat bagaimana media massa mengkampanyekan “keharusan-keharusan” bagi anak-anak muda. Harus punya HP supaya keren dan tidak ketinggalan jaman. Harus naik motor “X” supaya trendy dan mobile. Harus beli ini beli itu supaya tampil beda. Dan pada akhirnya di sanalah anak-anak muda menemukan dunia yang mereka cari: sebuah budaya yang identik dengan “penampilan sebagai representasi identitas”. Budaya anak muda itu bernama konsumsi!

Model pakaian, potongan rambut, jilbab, pernik-pernik asesoris yang dikenakan, musik atau olahraga yang dijadikan pilihan, adalah bagian dari identitas dan kepribadian diri. Ada banyak contoh tipe-tipe kepribadian yang bisa kita pilih dan adopsi di sekitar kita—artis film, bintang sinetron, penyanyi, model, pejabat, guru—atau tokoh-tokoh fantasi yang hanya ada dalam dunia imajinasi, seperti Barbie, Superman, Wonderwoman, dll. Proses pembentukan identitas tersebut bukan persoalan sederhana. Ia tidak pernah bersifat tunggal atau “menjadi” secara otonom berdasarkan inisiatif diri sendiri, tapi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang beroperasi bersama-sama, misalnya faktor media massa. (bersambung ke bag. 2)

Diterbitkan di: 12 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.