Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Gaya Hidup>Keluarga & Relasi>Tata cara berhubungan badan Suami-Istri

Tata cara berhubungan badan Suami-Istri

oleh: salmandjazuli    
ª
 
Ada beberapa dalil-dalil tentang tentang tata cara berhubungan suami-istri yang bisa menjadi dasar rujukandiantaranya :

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Baqarah : ayat 223)

Ayat diatas menerangkan tentang kebebasan berhubungan suami-istri. Bahwa istri diibaratkan ladang yang mana sang suami bebas mendatanginya darimana saja (depan, belakang, atas, bawah, dll) dan dengan cara apa saja. Namun, bebas bukan berarti bebas se-bebas-bebasnya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi batasan-batasan atas kebebasan tersebut.

Dari Abi Hurairah, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Dila’nat, orang yang mencampuri istrinya di duburnya” (HR.Abu Dawud dan Nasa’i)

“Dari Ibn Abbas, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Allah tidak melihat kepada laki-laki yang menyetubuhi laki-laki atau perempuan di duburnya” (HR. Tirmidzi, Nasa’i dan Ibn Hibban)

Kemudian., Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan supaya kita berdo’a dahulu sebelum bersetubuh dengan istri :

Dari Ibn Abbas , ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Kalau seseroang diantara kamu bersetubuh dengan istrinya, lalu berdo’a : Bismillah, Allahumma jannibnasysyaithaana wajannibisysyaithaana maa razaqtanaa, maka sesungguhnya jika ditaqdirkan seorang anak diantara keduanya di dalam persetubuhan itu, tidak akan dirusak oleh syaithan selama-lamanyanya” (Muttafaq ‘alaih)

Diperbolehkan ber-azl (mengeluarkan mani diluar kemaluan istri).

Dari Jabir, ia berkata : “Kami biasa ber-azl di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal Quran sedang turun. Karena sekiranya azl itu dilarang, niscaya QUran larang kami daripadanya” (Muttafaq ‘alaih)

Dan lafazh bagi muslim :”…Maka sampai kabar azl itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi ia tidak melarang kami melakukannya”

Demikian beberapa riwayat yang menceritakan bagaimana berhubungan suami-istri.

Diterbitkan di: 22 Juni, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Komentar Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.