Mana yang lebih mengerikan? Cinta atau waktu? Bagaimana kalau ku sebut
cinta itu kejam? Memang naif, tapi sudah banyak bencana dan air mata
yang ditimbulkan oleh cinta. Gimana dengan waktu? Dia memenjarakan kita
dalam ruang, ruang hampa, hari, tanggal, jam, menit dan detik. Membuat
kita tumbuh dan mengenal kehidupan hingga membuat kita tua. Siapa yang
bisa menghentikannya? Diantara cinta dan waktu, mana yang akan abadi?
Mana yang akan lebih berkuasa?
Aku tidak menyukai waktu, waktu mencuri banyak dariku, waktu memaksaku
bertemu orang-orang yang akhirnya ku benci, meninggalkanku,
mengkhianatiku dan menyakitiku. Waktu membuatku jadi sedih dan menangis
hanya karena mempertahankan prinsip yang kuanut akibat perjalanannya.
Yang bisa ku ingat hanya rasa takut, takut berharap karena ku takut
mereka akan mengejarku. Kini aku mengerti, waktulah yang berkuasa dan
cinta hanya menjadi kaki tantuk menutupi rasa itu? Kadang-kadang aku seperti mati rasa.
Ada 4 pertanyaan tentang cinta :
Cinta itu apa?
Kapan kita jatuh cinta?
Pada siapa kita jatuh cinta?
Apakah kita harus mencari atau ia datang dengan sendirinya?
Pertanyaan pertama adalah yang paling sulit. Sampai hari ini aku belum bisa menemukan satu kalimat paling sederhana untuk menjawabnya. Katika aku merasakannya, yang ku ingat adalah hanya kebersamaan. Tidak semuanya perlu diungkap dengan kata-kata. Cinta mungkin tidak harus disadari melalui semua ucapan.
Cinta, mungkin pada akhirnya adalah kebahagiaan bagi banyak orang, namun jalan menuju kesana penuh dengan tanda tanya yang sering mematahkan segala harapan yang sudah dibangun. Kebahagiaan itupun kadang sangat singkat. Setelah masa bahagia, kesedihan panjang datang dan mengutuk hidup buat selamanya! Membuat kita sedih, marah, dan sering kali kita harus berhenti di tengah jalan atas semua harapan yang telah dibangun. Meninggalkan luka dalam. Lalu kita akan menghabiskan sisa hidup untuk mengenang dan berjuang melupakan. Itulah gambaran cinta yang sering terjadi. Sulit diterawang...samar-samar!
Kita tak pernah bisa memastikan kapan kita bisa jatuh cinta. Perasaan itu datang menyelinap dan setelah dia berinteraksi baru kita menyadari bahwa kita telah dijebak cinta. Lucunya, walaupun kita tahu akan berakhir pahit, kita mau saja dijerat oleh perasaan itu. Aku mendapat inspirasi utnuk menulis semua ini dari novel-novel, cerpen-cerpen, karya tulis tentang cinta dan puisi-puisi cinta yang pernah ku baca. Dan terutama dari semua yang pernah aku lalui bersama cinta. Menyesal, dan juga indah terasa. Cinta memang membingungkan!
Aku pun tak tahu bagaimana aku bisa jatuh cinta. Apa istimeawanya dari orang-orang yang ku temui? Kebanyakan biasa saja karena masih ada yang lebih istimewa. Ada yang begitu enerjik, smart, perhatian. Ada yang begitu pendiam, tertutup, namun penyayang. Ada yang begitu cuek, humoris, smart. Dan ada yang ramah namun aneh dan sulit dimengerti. Siapa yang terakhir? Huuh...dia hanya seseorang yang melihat dunia dengan cara yang lurus berdasarkan pikirannya semata. Meskipun dilain sisi dia juga sosok yang manis, smart, humoris, dan penyayang.
Kita sering memilih-milih, mencari sesorang yang sempurna untuk kita. Dan akhirnya, tetap saja yang kita dapat hanya yang biasa-biasa saja bahkan lebih buruk. Karena kesempurnaan itu hanya ada dalam alam khayal kita, tak kan pernah ada yang bisa menyerupai kesempurnaan-Nya.
Masih ada satu pertanyaan lagi, perlukah cinta dinyatakan dengan lisan?
Perlukah cinta memiliki status, bahwa kekasih atau cuma teman biasa? Cinta hanya butuh komitmen, dan dengan terlibat dalam cinta kita harus bisa belajar berkomitmen dan bertanggung jawab atas komitmen itu.