544x376
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-style-parent:"";
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman","serif";}
Menarik membaca
Tan Malaka dalam karya dia Naar de Republiek Indonesia. Tulisan dia cukup bagus
meski banyak hal yang harus diteliti dan dikritisi.
Di halaman
awal,ia memulai melihat Indonesia dalam konteks politik global. Politik
global,oleh Tan Malaka dianggap penting karena pengaruhnya sangat signifikan
bagi kemerdekaan Indonesia. Dan rupanya hal itu terbukti bahwa kemerdekaan
Indonesia dapat diraih tidak semata-mata karena perjuangan anak-anak
bangsa,tetapi juga ada faktor eksternal politik dunia
Terlepas dari
isi soal politik global yang dibicarakan Tan Malaka,hemat penulis nyata bahwa
Tan Malaka orang yang tidak saja dapat memainkan peran di tingkat
domestik,tetapi juga pemain global. Bahkan dengan tegas ia menghimbau agar
bahasa inggris dijadikan bahasa penting untuk dipelajari.
Saya hanya
mempelajari Tan Malaka soal dia dapat membaca konteks politik dengan cukup
bagus. Sosialisme yang diagung-agungkan Tan Malaka ketika itu memang relevan
dengan konteks zamannya di mana buruh mendapatkan hak untuk dieksploitasi dan
kewajiban untuk dipaksa. Paling tidak,sosialisme dianggap solusi terbaik untuk
menghantarkan rakyat ke arah yang lebih baik.
Kritik saya
terhadap Tan Malaka adalah isu soal komunisme global. Di tangan Tan
Malaka,komunisme identik dengan sosialisme. Jika kita membaca buku de Republiek
dengan teliti,akan terlihat bahwa Tan Malaka mengimajinasikan Indonesia yang
sosialis+komunitas dan dapat bergabung dengan kekutan besar Soviet Uni di mana
komunisme global berkembang dengan sangat subur.
Imajinasi
seperti itu,hemat penulis terlalu berlebihan karena sosialisme dianggap sebagai
solusi dunia. dan tidak ada pemisahan antara sosialis dan komunis (atau
setidaknya tidak ditegaskan dalam buku de Republiek). Tulisan Tan Malaka,hemat
penulis mengalami kontradisi antara awal tulisan dan penjelasan-penjelasan yang
di belakang. Di awal dia membagi kekuatan politik global menjadi dua,negara
yang kalah perang seperti Jerman,Rusia,Austria,dll dan negara yang menang
perang seperti Amerika Serikat,Prancis, dan Itali,dll. Negara yang kalah perang
kekuasaan jatuh ke tangan kaum proletar. Tan Malaka mengakui negara yang kalah
perang ini secara sosial-ekonomi mengenaskan karena kaum proletar tidak dapat
menjalankan roda industri. Dan di bagian lain ia seakan optimis terhadap kaum
proletar,namun tanpa penjelasan lebih lanjut kapasitas dan skill yang mereka
miliki.
kritikan saya
yang kedua,terkait dengan PKI yang ia agung-agungkan. PKi dalam pandangan dia
dianggap sebagai yang terbaik dari partai-partai lain. Membuat atau menjadikan
yang terbaik itu sah-sah saja. Tetapi Tan Malaka,hemat penulis,kurang obyektif
dalam menguraikan peta politik dan posisi partai-partai. Padahal,partai
berbasis Islam sangat memainkan peran penting dalam perjuangan bangsa.
Di samping kritikan
saya ke Tan Malaka,sedikitnya ada dua hal yang dapat saya apresiasi dari
pemikirannya. Pertama,Tan Malaka meniscayakan totalitas dalam perjuangan. Bagi
Tan Malaka,perjungan akan dapat berhasil jika ada niat yang kuat dan
pengorganisasian yang baik. Ia lalu membedakan strategi dan taktik. Meski
keduanya dapat dihubungkan tetapi dapat dipisahkan. Strategi merupakan faktor
yang menentukan bagi keseluruhan perjuangan. Sedang taktik terkait dengan
momentum, mendialogkan dengan ruang dan waktu.
Totalitas dan
perjuangan yang mempertimbangkan strategi,hemat penulis merupakan sumbangan Tan
Malaka yang cukup bagus. Kaum borjuit,ia memisahkan kaum borjuis Belanda dan
kaum berjuis kecil. Kaum berjuis kecil adalah warga pribumi tetapi mendapat
sedikit akses terhadap pundi-pundi ekonomi. Menurut dia,kaum borjuis kecil jika
mengganggap kaum proletar sebagai musuh,maka kemerdekaan akan menjadi jalan
bagi perbudakan baru. Tan Malaka juga menilai negatif nasional demokrat karena
mereka yang memberikan kaum proletar ke kaum borjuis.
Kedua, dia bukan
pemain lokal tetapi pemain global. Bisa dibayangkan di mana media sangat
sedikit dan terbatas ketika itu,ia sudah jalan ke sana ke mari,berpindah dari
satu tempat ke tempat lain. Dan itu sangat jauh jaraknya.
Prestasi semacam
ini sungguh sangat menarik sehingga dia banyak mengetahui kondisi lokal
sekaligus global. Hemat saya,andai saja Tan Malaka masih hidup sekarang ini di
mana sosio-kultural telah banyak berubah,ia tidak akan terlalu kaku dengan
sosialisme yang bernada pemberontakan dan fight
(melawan). Sebaliknya,ia akan mengisi kemerdekaan dengan membekali masyarakat
dengan skill dan kemampuan.