Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Sistem Pemilu

oleh: Laratewa    
ª
 
  • Sistem Pemilu
    Selama ini secara umum dikenal ada dua system pemilu yaitu system distrik dan system proporsional . Dalam system disktrik, pelaksanaan pemilu disuatu wilayah distrik pemilihan rakyat memilih wakil tunggal (single member constituency) berdasarkan suatu pluralitas suara (Suara terbanyak). Sedangkan dalam system proporsional, disuatu wilayah daerah pemilihan rakyat memilih beberapa wakil (multy member constituency) yang jumlahnya ditentukan berdasarkan pada suatu rasio tertentu.

    Perbedaan yang lebih pokok dari kedua system itu ialah soal cara menghitung perolehan suara yang pada akhirnya menghasilkan perbedaan dalam komposisi perwakilan di parlemen, serta tingkat kedekatan hubungan rakyat pemilih dengan wakilnya diparlemen.


    Sistem Distrik :

    Sistem distrik biasa dikenal dengan member representation single ballot system, yaitu suatu bentuk pemilu dimana para pemilih dikelompokan kedalam distrik-distrik yang penentuannya berdasarkan jumlah penduduk pemilih. Distrik pemilihan merupakan sebuah wilayah yang garis-garis perbatasannya ditarik sedemikian rupa, sehingga jumlah pemilih yang mendiami suatu distrik kira-kira sebanding dengan jumlah pemilih di distrik-distrik lainnya. Oleh sebab itu, distrik pemilihan jelas tidak sama dengan suatu pembagian wilayah administrative.

    Penentuan jumlah penduduk distrik tentu saja berbeda di setiap Negara, namun, dalam setiap distrik dimanapun tetap memiliki satu kursi di parlemen nasional yang diperebutkan oleh semua calon dari partai politik peserta pemilu.


    Dalam system distrik se pemenang diberi mandate untuk mewakili aspirasi seluruh rakyat di distrik yang bersangkutan. Hal ini dikenal dengan istilah the winner takes all. Si Pemenang tidak lagi sekedar mewakili para pemilihnya sendiri dan mengabaikan pemilih yang menolak pencalonannya atau tidak mendukungnya. Karena, bila hal ini dilakukan posisinya akan sangat rawan pada pemilu berikutnya.


    System distrik, para pemilih benar-benar menentukan nasib dan karier seorang wakil rakyat. Sehingga tidak berlebihan secara umumsistem distrik dapat dikatakan memiliki prosedur pemilihan yang dapat memaksimalkan perwujudan kedaulatan rakyat, sedangkan partai politik yang mennjadi cantolan seorang calon anggota parlemen lebih banyak berperan sebagai fasilitator daripada penentu kebijakan.


    Keunggulan sisten distrik :

    1. Sistem ditrik melahirkan kualitas wakil terpilih yang dapat dipertanggungjawabkan, karena yang menjadi fokus dalam sistem ini bukanlah partai politik, melainkan individu yang mewakili atau dicalonkan oleh partai politik.
    2. Kekuatan hubungan antara rakyat dengan wakilnya menjadi sangat erat, karena rakyat langsung memilih siapa yang akan menjadi calon yang akan mewakilinya.
    3. Dalam sistem distrik wakil terpilih akan lebih independen dari partainya, karena pribadinya menjadi faktor utama atas kemenangannya.
    4. Sistem distrik dapat menghindari calon jatahan atau calon titipan, karena partai politik pasti akan mempertimbangkan ketokohan masyarakat di distrik tersebut, agar calon yang diusung dapat terpilih.
    5. Dalam sistem distrik akan melahirkan persaingan yang sehat, siapapun kelompok dapat menang dan berkuasa asal dapat meraih suara terbanyak
    6. Parlemen hail pemilu dengan sistem distrik akan dapat berjalan secara efektif dalam kaitannya terhadap pertanggungjawaban terhadap distriknya (pemilihnya).
  • Kelemahan sistem distrik :

    1. Perlu komitmen yang kuat dari calon terpilih, bila tidak, maka rakyat yang tidak mendukungnya pada distrik yang bersangkutan akan terabaikan.
    2. Sistem distrik melahirkan proses marginalisasi terhadap partai-partai kecil.
    3. Karena yang berlaku dalam sistem distrik adalah sistem majority, maka akan banyak suara sah yang terbuang, gabungan suara sah diatara partai politik tidak berlaku.

    Sistem Proporsional :


    Sistem Proporsional (perwakilan berimbang) atau yang juga dikenal sebagai proportional representation system atau multi-member representation menawarkan beberapa kursi untuk diperebutkan dalam suatu wilayah pemilihan.

    Peran partai politik menjadi penentu, dan bukan terbatas pada fasilitator belaka. Dalam sistem ini kesatuan wilayah administratif, misalnya jumlah suara yang diperoleh partai politik pada provinsi, kabupaten/kota atau kecamatan akan dipergunakan untuk menentukan jumlah kusri yang diperoleh partai politik di parlemen.

    Kelebihan Sistem Proporsional :

    1. Jumlah wakil dari setiap partai politik sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya dalam pemilu secara nasional.
    2. Sistem proporsional dianggap lebih adil, karena memberi peluang bagi semua golongan masyarakat termasuk golongan masyarakat minoritas untuk tampil diparlemen.
    3. Dalam sistem proporsional tidak terjadi distorsi seperti sistem distrik, sistem proporsional mengeleminir suara yang tercecer dalam menentukan kursi diparlemen.

    Kelemahan Sistem Proporsional :

    1. Sistem proporsional mempermudah terjadinya fragmentasi partai, kurang mendorong partai untuk saling berintegrasi atau bekerjasama, bahkan sebaliknya cenderung mempertajam perbedaan, jika terjadi konflik umumnya anggota partai cenderung mendirikan partai politik baru, mengingat adanya peluang partai baru untuk mendapatkan kursi dengan menggabung suara yang tersisa.
    2. Banyaknya partai yang bersaing, menyulitkan munculnya partai dengan suara mayoritas (50% + 1) yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan yang kuat.
    3. Sistem proporsional memberikan kewenangan yang kuat terhadap partai politik melalui sistem daftar (list system). Prosedur sistem daftar bervariasi, umumnya yang dipakai adalah partai politik menawarkan daftar calon kepada pemilih. Rakyat pemilih memilih suatu partai dengan semua calonnya untuk berbagai kursi yang diperebutkan. Sehingga wakil rakyat yang terpilih tidak memiliki hubungan yang keuat kepada pemilih, melainkan loyalitas terhadap partai politik.
    4. Dengan demikian, sistem Proporsional dapat menggeser kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan partai Politik.

    Diterbitkan di: 17 Februari, 2012   
    Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
    Terjemahkan Kirim Link Cetak
    X

    .