Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Politik bunglon (jilid 2)

oleh: ayahenawal     Pengarang : sri suwarti
ª
 
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman";}

Dibalik media pengenalan yang ternyata menambah beban sampah di lingkungan kota ini, kita dikagetkan dengan wajah-wajah yang sama tetapi dengan partai berbeda. Wajah-wajah calon walikota menebar senyum di partai yang berbeda bahkan partaipun mengusung calon walikota yang pada awalnya bukan dari kadernya. Bahkan ada pasangan calon yang sudah berganti pasangan sebelum masuk ke pelaminan. Ada apa ini? Orang berganti-ganti partai. Partai berganti-ganti orang. Lebih parah lagi, para pemilihpun tertular menjadi pemilih yang plin-plan. Politik apa ini? “politik bunglon”.

Bunglon adalah binatang melata yang dapat menyesuaikan kulit tubuhnya sesuai dengan tempat yang diinjak untuk membuat dirinya tidak terlihat oleh musuh. Kulit bunglon langsung berubah warna menjadi coklat pada saat kakinya menginjak batang kayu yang berwarna coklat, tidak lama dia melompat dan mencengkeram daun tebal berwarna hijau maka seketika itu pula kulitnya berwarna hijau. Bunglon sulit dikenali musuhnya karena warna kulitnya hampir mirip dengan benda yang diinjak. Sehingga bunglon merasa aman di tempat itu.

Bagaimana dengan dinamika politik kita di Salatiga? Padahal hampir setiap tahun bangsa ini punya gawe (mulai dari pemilihan langsung walikota/wakil walikota, bupati/wakil bupati, gubernur/.wakil gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat, Presiden/wakil presiden). Jumlah dan frekuensi pemilihan pemimpin dan wakil rakyat membuat kesibukan bangsa ini tidak pernah berhenti. Kesibukan mulai dari pembentukan partai, pencalonan kader, pencalonan bupati/walikota/gubernur, wakil rakyat, dll. Kesibukan bukan hanya pada aras panitia yang ditunjuk tetapi juga pada orang-orang yang ditunjuk atau ingin menjadi calon dalam pemilih langsung nanti.

Dengan frekuensi pemilu yang begitu tinggi membuat praktek politik bunglon menjamur. Para pemirsa televisi dikejutkan oleh tokoh politik yang sudah sangat terkenal dalam satu partai tertentu pada pemilu sebelumnya namun pada saat ini muncul dalam partai yang lain. Kasus Salatiga saat ini, para calon pemilih dibingungkan dengan para calon walikota yang bernaung dalam partai tertentu pada pemilu-pemilu sebelumnya sekarang memperkenalkan diri dengan partai yang lain. Sungguh tidak dimengerti oleh para pemilih apa yang menjadi visi dan misi dari para aktivis dan politikus ini.


Mereka (calon walikota) pasti mempunyai tujuan untuk menang di dalam pemilukada nanti. Janji-janji kampanye yang terdengar impresif di dalam retorika pemilukada dapat berbalik menjadi undangan untuk bencana atau kemalangan ketika sudah menjadi walikota baru mengungkapkan implikasi kebijakan mereka. Politik demokratis adalah suatu permainan (game) di mana tim-tim bersaing untuk menang. Resiko harus diambil, ada yang menang ada yang kalah, kandidat-kandidat yang didukung kalah bertanding dari lawan-lawannya yang tidak dianggap serius sebelumnya, dan semua ini merupakan suatu pertunjukan besar yang menginspirasikan dan memeriahkan para pendukung. Demikian Minogue mengungkapkan dalam bukunya sekilas tentang Politik. Dalam permainan pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang perlu ditindaklanjuti dengan cara bagaimana kemenangan diperoleh? Dan bagaimana sikap yang kalah terhadap yang menang?

Tidak dapat dipungkiri, jika Bapak Presiden kita mulai kuatir akan keberhasilan Pemilu di negeri ini. Oleh sebab itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada saat melakukan pilkada di Bogor menghimbau agar semua warga negara mau menggunakan hak pilihnya pada pemilu-pemilu yang berlangsung, karena fakta sudah menunjukkan tingginya golput yang hampir 30 % (liputan siang, SCTV, 30 Nop 2008). Himbauan boleh-boleh saja, namun yang menjadi pertanyaan mengapa golput cenderung meningkat? Pertanyaan inilah yang harusnya dicari jawabannya. Kalau warga sudah bingung dengan para calon wakil rakyat dan pemimpinnya yang sudah seperti bunglon, apakah rakyat menjadi sejahtera untuk memilih mereka?

Dengan demikian agar golput tidak meningkat maka para bunglon perlu di basmi. Rakyat tidak butuh janji-janji kosong, yang dibutuhkan adalah tindakan nyata tanpa kemunafikan tetapi kejujuran dan ketulusikhlasan. Bukan hanya kata-kata di baliho, spanduk dan saat kampanye. Rakyat yang bersifat bunglonpun harus dibasmi, karena negara ini butuh rakyat yang bertanggung jawab. Bangsa yang besar adalah bangsa yang jujur dan bertanggungjawab, serta memegang kebenaran.
Diterbitkan di: 28 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.