Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Politik - Umum >Konsep pemimpin indonesia menurut sejarawan belanda

Konsep pemimpin indonesia menurut sejarawan belanda

oleh: ayahenawal     Pengarang : slamet r
ª
 
st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman";}

Indiegenius Knowledge/Kearifan Lokal tentang turunnya pulung/wahyu kepada seseorang yang akan maju dalam pemiliham kepala daerah masih diyakini kebenaranya oleh sebagian masyarakat Jawa. Mereka merniliki keyakinan bahwa pulung/wahyu merupakan sumber legitimasi kepemimpinan dan hanya melekat pada satu orang, tidak terbagi-bagi dan tetap utuh wujudnya. Seseorang yang telah mendapatkan pulung/wahyu kepemimpinan tidak mempunyai kewajiban moral bagi dirinya untuk mengadakan distribusi wewenang. Mereka yang percaya bahwa kepemimpinan terbagi-bagi akan mengganggu harmoni alam. Biarpun calon-nalon pemimpin berpasangan (walikota dan wakil walikota) yang akan mendapatkan pulung/wahyu hanya seorang. Bagi orang yang mendapatkan pulung/wahyu tidak boleh adigang, adigung, adiguna (merasa paling berkuasa, paling terhormat dan paling penting) , tetapi justru harus berlaku adll paramarta untuk memayu hayuning bawana. Dalam Kitab Niti Praja yang ditulis oleh Sultan Agung th 1641 yang berisi tentang moralitas penguaasa dalam menjalankan kewajibannya, etika bawahan kepada atasan, hubungan rakyat dengan negara dapat menjadi harmonis. Sultan Agung mengingatkan kepada calon-calon pemimpin wilayah “Kalau kamu menjabat bupati/walikota, pakailah watak dermawan, supaya seperti matahari terangnya, berlakulah seperti air, berada dipuncak gunung bening/jernih, seperti juga samudra, memuat tumbuh, karena bersama bawahan, ketahuilah seperti daun taru tala lapar, saat musim labuh.

Dalam Kamus Bahasa Jawa/Bau Sastra diterangkan bahwa pulung/wahyu itu wujudnya seperti bintang jatuh dengan sinar kebiru-biruan menuju suatu tempat tertentu. Dan berasarkan kepercayaan masyarakat yang percaya bahwa siapapun yang menadapat pulung/wahyu pasti akan mendapatkan kedudukan / pangkat penting. Waktu turunnya pulung/wahyu biasannya mendekati gagat rahina/subuh antara pk 3.00 sd 4.00. Waktu dimana orang sedang enak-enaknya tidur. Dan pulung /wahyu hanya diberikan kepada orang yang belum tidur. Orang Jawa menyebutnya dengan "ndaru".

Dalam Kttab Pararaton karya Empu Kanwa menerangkan bahwa Ken Arok menanyakan kepada pendeta Loh Gawe tentang sinar yang keluar dari betis Ken Dedes (istri Tunggul Ametung) ketika ia sedang bertugas menjaga keamanan kabupaten Twnapel.

Loh Gawe menjelaskan bahwa : "Barang siapa yang berhasil memperistri/ mengawini pemilik sinar tersebut, akan berhasil menjadi raja gung binathara. Oleh karena itu Ken Arok berusaha untuk memesan keris kepada Empu Gandring untuk melaksanakan niat membunuh Tunggul Ametung. Niat membunuh Tunggul Ametung berhasil berkat bantuan sahabatnya yang bernama Kebo Ijo, Dan sejak itu Ken Arok berhasil mengawini Ken Dedes yang sedang hamil serta mengumumkan dirinya sebagai Raja Singosari.

Dalam Babad Kartosura menyebutkan bahwa pada suatu saat Pangeran Puger bermimpi berhasil menghisap sinar yang terpancar lewat kemaluan BRM. Gusti Sutikno. Oleh karena itu ketika Pangeran Puger diminta untuk merestui rencana jumenengan/ penobatan raja, beliau menjawab :

"Yen Kangmas Pangeran Adipati nggenteni jumeneng Nata, aku suthik mulih. Wis mesthijagad bakal retu, karana Kangmas Dipati iku budine banget ala awit kagawa saka biyunge dudu turun Mataram, Wis dialah, uwa Prabu ora peputra karo garwane kang padha turun Mataram. Kangmas Dipati dhewe iya wis dilalah nggone jejodhoan karo sedulurku ora tutug. Iku mratandhani yen bakal sirna wijine. Luwih becik akujemeneng nata dhewe"

Oleh karena itu Pangeran Puger meminta bantuan VOC untuk melawan Amangkurat III. Amangkurat III berhasil dikalahkan kemudian dibuang ke Ceylon dan Pangeran Puger menggantian sebagai raja dengan gelar Sunan Pakubuwono /.

Menurut Sejarawan Belanda yang bernama Van den Berg dijelaskan bahwa siapa yang mendapat pulung/ wahyu nubuah, hukumah dan •wahyu wilayah besok apabila menjadi raja/ pemimpin wilayah biasanya memiliki watak mulia, adil, pembela kebenaran dan pelindung bagi rakyamya. Tidak akan berlaku sewenang-wenang karena selalu didampingi sikap berbudi bawa leksana, ambeg adil paramarta.

Dalam dunia pewayangan yang bersumberkan Kitab Mahabharata/ Ramayana kita dapati berbagai jenis pulung/ wahyu yang ingin dimiliki oleh tokoh-tokoh atau masyarakat pendukung. Untuk kesejahteraan masyarakat/ •wahyu Sri Mulih. Ingin memperoleh ajian/ pusaka andhalan, wahyu kebijaksanaan/ wahyu Makutarama dan wahyu kedudukan yang disebut "Wahyu Cakraningrat'.

Diterbitkan di: 25 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa pengertian pemimpin menurut istlah, Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.