Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Politik - Umum >Moh Hatta, Cermin Sebuah Tanggung Jawab

Moh Hatta, Cermin Sebuah Tanggung Jawab

oleh: mantolok     Pengarang : the writer of smp n 1 bangil/mayleny
ª
 
Lelah masayrakat Indonesia melihat punggung politik saat ini. Ketika reformasi bergulir, harapan untuk memperoleh pemimpin negeri yang mementingkan rakyat ternyata belum terwujud juga.
Seharusnya, para pucuk pimpinan mau menengok sejarah karena sosok pemimpin harapan rakyat ada dalam diri para pendiri negeri ini. Salah satunya Hatta. Setaip orang di eranya mengetahui bagaimana sikap Hatta sebagai pamimpin. Perlu dikemukakan terlebih dahulu bahwa janjinya untuk baru akan kawin sesudah Indonesia merdeka dipenuhinya pada tahun 1945. Ia menikahi Rahmi pada 18 November 1945. Keteguhannya untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan menghilangkan segala sesuatu yang hanya bersifat memuaskan pribadinya sendiri senantiasa kukuh dipegangnya.
Demikian pula ketika ia menjadi orang kedua di negeri ini. Dengan kebesaran hatinya, ia menuliskan surat pengunduran diri dari panggung kehormatan. Suatu sikap yang tidak ditemui dalam diri pemimpin abad ini, bahkan yang telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Bersamaan dengan hasil pemilihan umum, pada Juli 1956, Hatta mengirim surat pada DPR (hasil pemilihan umum) bahwa ia akan mengudurkan diri sebagai wakil presiden setelah DPR baru tersusun. Ia menganggap bahwa dengan pemilihan umum pimpinan negara diperbaharui pula. Sikapnya semakin memperkuat penilaian tentang keteladanan dalam memimpin bahwa perlu ada regenerasi dalam sebuah organisasi agat visi dan misi dapat terjaga.
Pribadi Hatta hampir tidak ada dalam diri pemuda Indonesia saat ini. Saat ini, pemuda kita lebih banyak memikirkan langkah-langkah untuk kemajuan pribadi bukan untuk bangsa secara menyeluruh, demikian pula dalam diri pemimpin negara.
Pemimpin bangsa kita mestinya malu terhadap diri mereka sendiri. Masak mereka kalah dengan Hatta yang pada eranya dia bisa menjadi pemimpin yang baik meskipun beliau hidup dalam era perjuangan. Kenapa kita yang sekarang hidup sudah enak tidak mau mensyukuri nikmat dan ingin selalu lebih dan lebih tak pernah puas akan sesuatu. Mulai saat ini kita teladani sikap Hatta yang akan membawa Indonesia lebih maju dan bersaing dengan negara-negara lain.

Diterbitkan di: 11 April, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.