Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Politik - Umum >Berlebihan, Sebagian Besar Kapal Perang dari Jerman Timur "Lumpuh"

Berlebihan, Sebagian Besar Kapal Perang dari Jerman Timur "Lumpuh"

oleh: evawim     Pengarang : Wirasmo Wiroto
ª
 
Anggota Komisi I/Pertahanan dan Luar Negeri DPR, Djoko Susilo (F-PAN) terkesan melecehkan ketika mengatakan (03/12/2008), hanya 10 dari 39 kapal ex Jerman Timur yang masih beroperasi.

Sebanak 39 unit kapal perang ex Jerman Timur dibeli sekaligus oleh pemerintah RI pada 1992/1993. Terdiri 16 unit korvet anti kapal selam kelas Parchim buatan 1981-1985, kapal pendarat LST/ Frosch 14 unit (1976-1979) dan kapal penyapu ranjau Kondor 9 unit buatan 1971-1973.
Dari segi harga memang "murah meriah". Seluruhnya termasuk biaya perbaikan dan perawatannya US$ 560 juta atau setara dengan Rp 6,7 triliun (versi Djoko Susilo). Sumber lain menyebutkan US$ 480 juta (Majalah Tempo, 11/06/1994).
Bandingkan dengan korvet SIGMA buatan Belanda yang baru samasekali, harganya sekitar Rp 1,7 triliun per unit (Junito Drias, Radio Belanda, 27/06/2007). Indonesia baru saja membeli 4 unit dan sudah tiba di Indonesia seluruhnya pada 2009.

Menurut KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh (September, 2002) terhadap kapal-kapal bekas tersebut dilakukan repowering secara bertahap. Diharapkan 30 di antaranya akan hidup kembali pada tahun 2004 (Kompas, 19/09/2002).

Pada Juli 2005 dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR, KSAL Laksamana Slamet Soebijanto menegaskan kembali mengenai  upaya repowering kapal-kapal itu.

Djoko Susilo mengungkapkan  dalam kunjungan kerja ke pangkalan AL di Surabaya 2003 ia mendapati sejumlah kapal hanya digunakan untuk asrama prajurit. Kapal-kapal itu ketika dibeli memang tidak baru. Bahkan melihat kondisinya sempat menjadi kontroversi yang tajam. Dituding sebagai kapal-kapal tua yang sudah usang, rongsokan dan macama-macam stigma lainnya.

Kapal-kapal itu diseberangkan ke Indonesia secara bertahap. Batch-1 bertolak November 1993, Batch-13 yang terakhir pada Juli 1996. Lamanya perjalanan sekitar 2 bulan.

Pada awalnya, sistem permesinan dan desain kapal-kapal ex Jerman Timur itu lebih untuk operasional di perairan Eropa.Tidak memerlukan pelayaran jarak jauh dan rentang waktu yang lama. Sehingga tipe mesin yang terpasang sewaktu diseberangkan ke Indonesia dinilai tidak "pas".
Setibanya di Indonesia dalam waktu 5 tahun ke depan ketika mesin kapal-kapal itu sudah saatnya dioverhaul, seharusnya diganti dengan mesin baru yang umum digunakan untuk medan di perairan Nusantara.
Tetapi  program ini tidak semulus seperti yang dipetakan, akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sehingga pembelian mesin-,mesin baru jadi terkendala. Pemerintah belum mampu membeli mesin-mesin baru untuk armadanya.

Komandan Satgas Proyek Pengadaan Parchim-Frosch-Kondor (Yekda PFK) Laksamana Pertama Freddy Numberi, (kini Laksamana Madya purn. dan Menteri Perhubungan KIB II) ketika melepas keberangkatan  Batch-12 terdiri 2 korvet, KRI Tjiptadi dan KRI Hasan Basry, mengatakan di Neustadt, Jerman (Mei, 1996), kapal-kapal ex Jerman Timur itu jika dirawat dengan baik bisa operasi  sampai limabelas tahun lagi.

Prediksi itu tidak berlebihan. Panglima Armada Kawasan Barat, Laksamana Muda Agus Suhartono mengakui (Februari 2008), korvet-korvet Parchim itu sebagai salah satu andalannya. Mampu patroli ke Barat Sumatra sampai Natuna. Ada delapan korvet Parchim bertugas di Komando Armada Barat, delapan lainnya di Komando Armada Timur.

Jika mengacu pada lazimnya kapal didisposed setelah 30 tahun bertugas, maka korvet-korvet Parchim itu seharusnya masih mampu beroperasi sampai 2015.

Diterbitkan di: 24 Januari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.