• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Hukum & Politik>Politik - Umum >Seribu Tahun Nusantara, Indonesia memasuki milenium ketiga

.

Seribu Tahun Nusantara, Indonesia memasuki milenium ketiga

oleh : gimut    

Pengarang: Parakitri T. Simbolon; Editor, J. B. Kristanto
Kamis kelabu 14 Agustus 1997, Kerisis menyeluruh itu dimulai, melanda dalam lima gelombang, moneter, ekonomi, politik, sosial
dan budaya. Pada tiap gelombang, topeng Indonesia, yang sejak lama diyakini bukan topeng, melainkan muka asli, pecah berantakan. Tragisnya, yang kelihatan kemudian sulit dipastikan apakah muka asli atau topeng juga.
Waktu itu kurs rupiah terpaksa dibebaskan. Nilai rupiah langsung merosot sehingga gelombang memburu dolar mengila. Awalnya penguasa menyangkal dan kemudian mengakui terjadi krisis moneter, namun tetap berkuasa.
15 Januari 1998, Soeharto merunduk meneken surat patuh (letter of intent) dihadapan pembesar IMF Krisis moneter diakui sebagai kerisis ekonomi, dan reformasi katanya akan dilaksanakan.
Kerusuhan anti Cina merebak. Mahasiswa ditembaki. Penguasa ingin terus berkuasa padahal, semakin  kehilangan kepercayaan dari rakyat nya.
21 Mei 1998, Jederal Besar Soeharto mundur dari jabatan presiden. Krisis ekonomi ternyata sekali gus merupakan krisis politik
Penguasa lama tetap tidak mau kalah, penggantinya "murid" sekali gus "anak angkat" Para elit menipu rakyat dengan konstitusi. Orang berlomba omong di segala media, namun jalan keluar dari krisis  tak tampak. Bantuan untuk rakyat lapar, diselewengkan. Aparat sandang senjata, tetapi lari dikejar massa. Krisis politik ternyata krisis sosial.
Para elit meramalkan kerusuhan dimana-mana, tetapi pemilihan umum ternyata damai berkat rakyat. Namun para elit politik mencuri keberhasilan itu. Pemerintahan baru bukan cerminan pemilihan umum melainkan politik dagang sapi. Krisis sosial menjadi krisis budaya, lapis paling dalam.
Krisis multidimensi tanpa ampun menelanjangi Indonesia sampai ke bagian-bagian yang paling bobrok dan tersembunyi. Ternyata Indonesia adalah negeri serba "seolah-olah", a heap of delusions tidak satu pun citra.
Serba "seolah-olah" berakar dari sejarah?
Orang bilang para elit tidak punya sense of crisis ini tentu bukan penyebab, melainkan cuma sinonim alias permainan kata. Ibaratnya kesadaran akan gejala "seolah-olah" itu besifat seolah-olah pula. Jadi gejala "seolah-olah" beranak-pinak.
Proses refleksivitas semacam itu hanya mungkin terjadi jika sifat "seolah-olah" itu sudah bermutasi  jadi kebiasaan, berakar jauh dalam sejarah. Merupakan buah evolusi yang panjang.
Disamping krisis multidimensi.
Prognosis abad ke 21 yang dikemukakan oleh Bill Gates, konon salah seorang yang ikut menentukan arah perubahan global. Di majalah Time, 19 April 1999  dia  mengatakan, If the 1980s  were about quality and the 1990s were about re-enginerring, then the 2000s  will be abaut velocity.
Jika Bill Gates betul, celaka bagi Indonesia. Jangankan menghadapi velocity, kala informasi, keputusan , dan tindakan, menurut dia, akan berlangsung at the speed of thought.
Dalam masalah mutu dan perombakan lembaga pun, Indonesia tidak bisa bicara banyak. Untuk bertahan hidup saja, sepertinya Indonesia harus mampu merapel penyelesaian dua masalah barusan, yang mestinya sudah selesai 20 tahun silam.
Mampukah Indonesia menyelesaikan soal mutu dan pembaruan kelembagaan, sekaligus memikul beban membuat keputusan yang berlangsung secepat pikiran bergerak? Mampukah Indonesia melakukan semua itu tanpa menyingkirkan onggokan barang seolah-olah, the heap of delusions itu?
Kembali ke "seolah-olah", Peresiden Souharto berulangkali mengatakan:
Kita tidak ingin terus-menerus berada di peringkat bawah dalam jajaran bangsa-bangsa. Untuk itu, kita harus mengembangkan kemauan dan kemampuan  kita yang sebesar-besarnya. Kita juga harus terus-menerus berani membenahi segala kekurangan serta kelemahan kita <...> Kemajuan kita di masa depan dapat akan lebih ditentukan oleh mutu sumber daya manusia daripada kekayaan alam kita.
Pengakuan ini berulang kali dikumandangkan, setiap peringatan Harkitnas sejak 1989. namun bertindak tidak sepadan.
Peresiden Sukarno lain lagi. Keperihatinan rendahnya SDMterasa mendalam dan jujur. Dalam dua pidoto 17 Agfustus berikut, Genta Suara Republik Indonesia (1963) dan Tahun 'Vivere  Pericolose' (1964),  Peresiden Sukarno mengingatkan:
Dan sejarah akan menulis di sana, antara Benua Asia dan benua Australia , antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia , adalah hidup satu bangsa yang mula-mula mencoba hidup kembali sebagai bangsa , akhirnya kembali menjadi satu kiuli di antara bangsa-bangsa,_kembali menjadi een natie van koelies, en een koelies onder de natees.
Orde Baru dengan mulut soal SDM namun tindakan tidak sepadan, dan Orde Lama dengan semangat "retooling aparatur negera" Akan tetapi perombakan organisasi tampaknya tidak dimaksudkan untuk secara langsung meningkatkan SDM, melainkan untuk menggalang kekuatan revolusioner. Tragisnya Peresiden Sukarno yakin dengan revolusi terus-menerus, mutu SDM Indonesia akan meningkat.
Kaitan antara mutu dan perombakan organisasi benar-benar diakui, tetapi penyelesaiannya selalu tidak sesuai. Dari segi hasil, semua penyelesaian itu tetap bersifat seolah-olah.
Selain dari segi hasil, gejala "seolah-olah" itu dapat pula dilihat dari segi sebab-musabab, biang keladi, atau agar lebih tepat moral atau motif. Ada empat gejala "seolah-olah". Disingkapkan sebagai akibat perbuatan yang tidak sengaja (by accident); akibat kesalahan yang jujur (by honest mistake); akibat keteledoran (by negligence); akibat niat jahat (by malice). Secara hukum, dua terdahulu tidak dapat dituntut, berbeda dengan dua tersebut terakhir.
Sepanjang sejarah Indonesia, penguasa, para elit, memilih mengendalikan orang daripada faktor produksi.
Kalau pilih mengendalikan produksi, penguasa saban saat akan diuji berdasarkan prestasi, karena orang yang dikuasai hanya dapat hidup dari suksesnya mengelola faktor produksi itu.
Gimut Jakarta, 22 Oktober 2009
Diterbitkan di: Oktober 22, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.