Sebelumnya silahkan membaca berita "Bank Century Melakukan Pelanggaran Sejak 2004" ( http://www.detikfinance.com/read/2009/09/05/
105029/1197199/5/bank-century-melakukan-pelanggaran-sejak-2004). Dari berita tersebut diatas dan berita lainnya yang berhubungan dengan ketidakadilan perlakuan terhadap orang kecil atau industri kecil/menengah maka dapat disimpulkan :
1. Keterpurukkan multidimensi di Republik Indonesia yang kita cintai disebabkan oleh adanya "Musuh Dalam Selimut". Sebenarnya saat ini Indonesia sedang dijajah oleh musuh yang sama yaitu oleh perusahaan/korporasi besar/konglomerat yang menguasai perekonomian negara dan penguasa telah didikte baik pada jaman penjajahan Belanda dulu maupun jaman sekarang. Jaman Belanda, Korporasi yang bernama VOC mendompleng pemerintah Belanda untuk menguras dan menjual sebesar-besarnya kekayaan alam kita untuk keuntungan dan kepentingan sendiri. Sedangkan yang terjadi sekarang adalah para konglomerat/orang yang menguasai perekonomian negara yang jumlahnya hanya sekitar 30.000 orang telah mendikte penguasa dan elite-elite kekuasaan.
2. Jadilah Koruptor yang profesional, jangan pernah meminta sedikit kepada orang yang menyuap/menyogok/memanfaatkan anda untuk menggolkan tujuan/proyeknya. Misalnya hanya mendapatkan 500 juta harus rela di penjara sementara orang/perusahaan yang menyogok anda mendapatkan 100 Milyar. Jadi kalau bisa minta 99% dari keuntungan mereka dan beri 1% untuk yang mempunyai proyek.
3. Kasus ditutupnya Bursa Efek Indonesia (BEI) terjadi karena ada 16 perusahaan yang mengalami kerugian dalam hitungan jam akibat dari anjloknya saham mereka. 6 dari 16 perusahaan itu adalah milik Bakrie (Orang Terkaya di Indonesia). Pemerintah bersedia bail out atau istilah yang dipakai oleh pemerintah buy back saham-saham BUMN yang sebetulnya adalah juga membeli saham-saham Bakrie secara diam-diam. Alasannya adalah melindungi dan mempertahankan perusahaan milik nasional tapi dimiliki orang yang tidak nasionalis.
4. Memang enak jadi konglomerat sampai mereka lupa untuk menangis dan itu beda dengan orang miskin yang sampai lupa untuk tersenyum. Konglomerat sampai lupa menangis karena kalau rugi/bangkrut ditalangi oleh pemerintah dan sebaliknya kalau untung untuk diri sendiri dan mengemplang pajak. Sedangkan orang miskin sampai lupa tersenyum karena hidupnya tidak ada yang memperhatikan dan kalau perlu diusir atau disingkirkan dari ibu kota ini.
5. Kalau dikatakan pertumbuhan
ekonomi yang mencapai 6,4% harusnya rakyat Indonesia selalu senyum dan tertawa karena adanya lapangan pekerjaan, pendidikan gratis, jaminan kesehatan, jalan-jalan mulus sampai ke pelosok kampung/desa, orang yang tadinya naik sepeda berganti dengan naik motor (dalam arti sebenarnya bukan kredit motor jor-joran) dan perputaran uang cepat karena banyak orang yang membelanjakan uangnya.
6. Suku Bunga BI yang dinaikkan mengakibatkan makin sulitnya sektor riil untuk bergerak karena akses untuk mendapatkan kredit investasi/modal kerja makin sulit. Bagaimana sektor riil mau digerakkan? Ironis???
7. Dikatakan oleh Menteri Pertanian dari 25 juta penduduk Indonesia yang berprofesi sebagai Petani, 13 jutanya adalah petani gurem (miskin) dan buruh tani. Kata beliau buruh tani seharusnya tidak dimasukkan dalam profesi petani. Buruh ya buruh. Terus kalau dikatakan buruh maka mereka akan mendapatkan gaji setara dengan UMP/UMR.
8. Kata Menteri Pertanian, ada yang salah dengan anggapan masyarakat mengenai harga beras dimana seharusnya harga beras itu mahal dan tidak murah, Kalau bisa jangan turun harganya demi kesejahteraan petani. Pertanyaannya adalah mengapa saat harga beras dunia naik yang mengakibatkan naiknya harga beras nasional kok petaninya tidak mendapatkan apa-apa malah rugi? Kenapa beras impor bisa lebih murah dari beras domestik/lokal? Kenapa pupuknya harus impor dan tidak menggunakan pupuk lokal dari bahan organik yang seandainya sampah tumbuhan dikumpulkan dari seluruh Indonesia dan dijadikan kompos apa tidak akan menghasilkan pupuk organik yang luar biasa jumlahnya???
8 kesimpulan yang merupakan pertanyaan yang harus dijawab saja sudah membuat saya berpikir keras bahkan membuat keriput apalagi masih banyak masalah yang belum disimpulkan tadi malam seperti gula pasir, terigu, kedelai dan tidak boleh ditinggalkan adalah cabe (kenapa cabe India/Cina bisa lebih murah dari Indonesia).
Jawaban dari semua masalah itu adalah adanya musuh dalam selimut (Enemy Within) di negeri ini.